
“Aduh, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, saya akan ketakutan…” Riky tertawa menghina dan berjalan ke hadapan Nuri dengan berani, dia mengulurkan wajahnya untuk menyentuh pipi Nuri, dia mungkin sudah lupa dengan adegan saat dia dipukuli di pantai tadi.
“Kalau tidak ingin kehilangan tanganmu, segera pergi dari sini…”
Nuri berkata sambil menatap Riky dengan dingin.
Riky tercengang, tangannya yang terulur berhenti sejenak dan kemudian menyeringai : “Sialan, temperamenmu cukup kuat juga, apa kamu tidak melihat puluhan bawahan yang ada di belakangku? Kamu malah berani mengancamku, sebentar lagi saya pasti akan menelanjangi kalian dan melemparkan kalian di jalanan, saat itu saya mau lihat apakah mulutmu masih bisa sekeras ini…”
Setelah berkata, Riky melambaikan tangannya dan kemudian dia sendiri melangkah mundur, mungkin dia takut Nuri akan benar-benar menyerangnya.
Bam bam…
Puluhan orang yang dibawa oleh Riky mengerumuni Nuri dan yang lainnya.
Saat ini, banyak orang yang berada di lantai dua membuka pintu kamar mereka, dan mereka menonton pemandangan di depan mereka seperti menonton keramaian.
Perlu diingat orang-orang yang tinggal disini kebanyakan adalah ahli bela diri yang bersiap untuk pergi ke Pulau Naga besok, tingkatan paling rendah juga setidaknya seorang Grand Master, jadi mereka sama sekali tidak takut pada Riky.
“Gadis kecil, apakah butuh bantuan? Asalkan kamu menemani kakak semalam, kakak bisa menghabisi sekelompok pecundang ini dengan satu tangan, ya?”
__ADS_1
Seorang pria berjanggut lebat menjulurkan tubuhnya keluar dari pintu dan menatap Nuri dan yang lainnya dengan ekspresi cabul.
“Benar, jangankan satu tangan, dengan satu jari saja saya bisa menguris sekelompok pecundang ini, asalkan adik kecil bersedia menemani kakak minum beberapa gelas…”
Seorang pria kurus dan bermulut runcing juga angkat bicara.
“Adik kecil, katakan saja, maka kami akan menghabisi sekelompok pecundang ini untukmu…”
“Benar, asalkan adik kecil mau menemani kami bersenang-senang…”
Dengan seseorang yang memulai, ahli bela diri lainnya juga mulai mengolok-olok, tanpa menganggap serius Riky dan yang lainnya sedikit pun.
Perlu diingat dia membawa puluhan orang bersamanya, lantas para tamu yang menginap ini sama sekali tidak takut?
“Bajingan, tutup mulut kalian dan kembali ke kamar kalian masing-masing, apa kalian tahu siapa saya? Ayahku adalah orang terkaya di Kota Lamar, kalian berani mengolok-olokku, percaya tidak saya bisa menebas kalian semua…”
Riky sangat marah, dia mengambil parang dari tangan salah satu anak buahnya lalu mengayunkannya dua kali dengan penuh semangat.
“Hahaha…”
__ADS_1
Melihat penampilan Riky, para ahli bela diri yang mengolok-oloknya tiba-tiba tertawa keras.
Bagi mereka para ahli bela diri, orang terkaya di Kota Lamar itu tidak ada apa-apanya, perlu diketahui seorang Master bisa mendominasi kekuasaan di satu sisi, apalagi disini ada Grand Master dan Great Grand Master.
Kepala Keluarga Keluarga Serosa dan Keluarga Filan di Provinsi Canna hanya bergelar seorang Master, tapi keluarga mana yang kekayaannya tidak melebihi orang terkaya di Kota Lamar, sekarang Riky mengatakan hal seperti ini pada sekelompok ahli bela diri, jelas-jelas merupakan sebuah lelucon.
Riky melihat orang-orang itu sama sekali tidak takut malah berani menertawakannya, membuat wajah Riky memerah karena kesal, sepasang matanya seperti terbakar.
“Kalian tunggu saja, setelah saya menghabisi tiga gadis ini, saya akan menghabisi kalian…”
Riky berkata dan menggertakkan giginya.
Setelah Riky selesai bicara, dia melihat seorang pemuda yang mengenakan setelan jas sambil membawa kipas lipat berjalan mendekat, dan dibelakang pemuda itu ada seorang lelaki tua.
Aron sedang menonton adegan itu dari dalam kamar, dan saat dia melihat pemuda yang memegang kipas lipat itu dia langsung mengenali pemuda itu, dia adalah Tuan Muda Roddy yang dia temui di restoran tadi.
“Saya khawatir kamu tidak memiliki kesempatan untuk menghabisi tiga orang gadis ini lagi…”
Tuan Muda Roddy berkata sambil menatap Riky dengan tatapan jijik.
__ADS_1