Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Mengalah


__ADS_3

“Tuan Muda Robi, ternyata ada kesalahpahaman, tapi kenapa Keluarga Himawan datang jauh-jauh ke tanah tandus seperti Kota Letta, dan melakukan pembangunan?”


Rein bertanya kepada Robi.


Robi tahu Reiner tidak mengetahui rahasia tentang Menara Setan, dia juga tidak ingin memberitahu Rein dan hanya tersenyum ringan : “Meskipun Kota Letta tandus, tapi pemandangannya sangat indah dan lingkungannya juga bagus, tidak ada suara bising, jadi ini merupakan tempat yang cocok untuk berlatih.”


“Selain itu, Kepala Keluarga Keluarga Jota juga memiliki hubungan baik dengan Keluarga Himawan, kali ini Keluarga Jota mendapat bencana, Kepala Keluarga Keluarga Jota dibunuh oleh orang dan saya ingin membangun kembali tempat ini, agar penerus Keluarga Jota yang lainnya akan tetap memiliki tempat tinggal!”


Rein berkata sambil tertawa : “Hahaha, tidak disangka Tuan Muda Robi begitu berbaik hati!”


“Tapi Kota Letta tidak sedamai Kota Dama, selalu ada Kultivator Iblis yang muncul dan pada saatnya jika sampai melukai Tuan Muda Robi, maka itu menjadi tidak sepadan.”


“Tuan Muda Robi sangat terawat, pasti tidak terbiasa tinggal di tempat seperti ini, lebih baik serahkan saja pembangunan kembali Keluarga Jota kepada Keluarga Galah, karena Keluarga Galah kami sudah berhubungan dengan Keluarga Jota selama ratusan tahun, dan kami sangat dekat!”


Robi yang mendengar itu mengernyitkan keningnya dan raut wajahnya menjadi muram.


Dia memahami maksud perkataan Rein yang berusaha memperebutkan wilayah milik Keluarga Jota ini dengan dirinya.


Kalau tidak ada Menara Setan, maka Robi tidak akan peduli dengan tempat bobrok ini, tapi sekarang dengan adanya Menara Setan, tidak peduli siapa pun, Robi tidak akan melepaskannya.


“Tuan Muda Rein, maksudmu kamu ingin berebut wilayah Keluarga Jota denganku?”

__ADS_1


Robi berkata dengan raut wajah muram dan tatapan matanya dipenuhi hawa dingin.


“Tuan Muda Robi, jika kamu berpikir demikian, saya juga tidak perlu menjelaskannya lagi, kalian datang jauh-jauh ke Kota Letta dari Kota Dama untuk berebut wilayah denganku, bukankah ini sedikit keterlaluan?”


Rein mengangguk dengan terang-terangan.


“Hm, Keluarga Galah di Kota Dawa tidak memiliki hak untuk memberitahu saya apa yang harus saya lakukan di Kota Letta, saya beritahu padamu, wilayah milik Keluarga Jota ini sudah pasti saya inginkan, kalau kamu merasa tidak puas, kita bisa bertarung!


"Saya malah ingin melihat apakah Keluarga Galah lebih hebat, atau Keluarga Himawan ku lebih hebat, jangan mengira Keluarga Himawan akan takut dengan kalian karena datang dari jauh!”


Robi penuh tekad, dia menginginkan tanah ini dan tidak akan mengalah kepada orang lain.


Meskipun saat ini Rein sangat marah, tapi jika sampai berselisih dengan Keluarga Himawan hanya karena reruntuhan kediaman Keluarga Jota, maka kerugiannya tidak akan sebanding.


Namun jika Keluarga Himawan mendapatkan pijakan di Kota Letta, sepertinya akan menjadi lebih sulit bagi Keluarga Galah untuk memperluas kekuasaannya.


Setelah berpikir sejenak, Rein memilih untuk berkompromi dan tersenyum ringan : “Karena Tuan Muda Robi begitu menyukai tempat ini, maka gunakan saja sesuka hati, saya juga tidak mungkin berselisih dengan Tuan Muda Robi hanya karena tempat seperti ini.”


​“Tuan Muda Robinl, jika ada waktu datanglah ke kediaman Keluarga Galah, saya pasti akan menjamu Tuan Muda Robi dengan baik…”


Rein tidak mengetahui rahasia tentang Menara Setan, jadi memilih untuk berkompromi dan pergi.

__ADS_1


Kalau dia sampai mengetahuinya, dia pasti akan bertarung hidup atau mati melawan Robi.


Melihat Rein pergi, Robi menghela nafas lega, seperti kata pepatah, naga kuat tidak akan bisa mengalahkan ular lokal, jika Rein benar-benar menyerang, maka Robi tidak akan menjadi lawannya.


Dan jika ingin mendatangkan pasukan Keluarga Himawan dari ribuan mil jauhnya, untuk bertarung dengan Keluarga Galah, maka pada saatnya tidak bisa dipastikan siapa yang menang atau kalah.


​“Berapa lama saya berlatih kali ini?


Robi bertanya kepada bawahannya


“Tuan Muda, kamu sudah berlatih hampir setengah bulan lamanya…”


Bawahan itu menjawab.


“Setengah bulan!” Robi menunjukkan kegembiraan di wajahnya : “Dengan kecepatan ini, maka sebelum tahun baru saya pasti akan mencapai ranah setengah Master Guru, hahaha…”


Robi tertawa keras seperti orang gila, lalu menoleh dan memerintahkan kepada Paman Martin : “Percepat pembangunan manor, ke depannya ini akan menjadi tempat tinggalku.”


“Laksanakan…” Paman Martin menganggukkan kepalanya.


Robi berbalik dan masuk ke dalam Menara Setan untuk berlatih lagi!

__ADS_1


__ADS_2