
Dengan begitu banyak orang yang menyerang Aron sendiri, walau tulangnya terbuat dari baja, cepat atau lambat juga akan hancur berkeping-keping.
Namun saat ini, walau Aron mengalami cedera dia tapi juga tidak fatal.
Bisa dibayangkan betapa menakutkannya kekuatan tubuh Aron saat ini.
“Semuanya, kita tidak boleh diintimidasi oleh Aron, bertahanlah sebentar lagi anak ini pasti akan mati…”
Robi menyadari beberapa orang mulai ingin mundur, jadi dia melompat dengan pedangnya.
Dia tidak akan membiarkan beberapa orang ini memiliki keinginan untuk mundur.
Jika ada yang melarikan diri di saat ini, maka dalam sekejap pertahanan yang sudah dibangun bersama oleh orang-orang ini akan runtuh.
Alasan mengapa Keluarga Galah yang membawa seluruh komunitas bela diri Kota Dawa dan tidak bisa melenyapkan Lembah Iblis adalah karena hal ini.
Jadi Robi tidak ingin adegan itu terulang pada dirinya!
Serangan Robi langsung membangkitkan semangat juang beberapa orang lainnya.
Mereka semua menghujani Aron dengan serangan-serangan terbaik mereka.
Aron menghunuskan Pedang Naga yang berlumuran darah, seperti dewa pembunuh yang sama sekali tidak peduli dengan nyawanya sendiri.
Setiap ayunan pedangnya akan mencabut nyawa salah seorang anggota klan!
Sedangkan sisik-sisik emas di tubuh Aron sudah lenyap tak berbekas.
Tubuh emas yang tak terhancurkan sudah hancur, Aron tidak dapat menggunakannya lagi untuk sementara waktu.
Hanya mengandalkan tubuh fisiknya, Aron menggertakkan giginya dan terus menyerang.
__ADS_1
Bekas-bekas sayatan, lubang-lubang berdarah, tubuh Aron tidak menyisakan bagian yang masih utuh.
Namun saat ini Aron hanya memiliki satu pikiran dalam benaknya.
Yaitu “bunuh…”
Akhirnya, mentalitas kerumunan itu hancur dan mereka semua mundur.
Karena mereka tidak tahu, nyawa siapa yang akan dicabut oleh ayunan pedang Aron yang berikutnya.
Semua orang merasa tidak aman.
Aura pembunuh di tubuh Aron, aura yang memancar dari tubuhnya juga membuat orang-orang ini bergidik ngeri.
Mereka tidak pernah melihat seseorang yang seperti ini sebelumnya.
Dengan begitu banyak orang yang menyerang bersama, jangankan seorang Great Grand Master, walau seorang Master Guru juga sepertinya tidak akan mampu menahannya.
“Tuan Muda Robi, Aron ini jelas-jelas adalah setan, jika terus seperti ini, sepertinya kita semua akan terbunuh atau terluka parah!”
Ada seseorang yang mulai tidak sanggup lagi dan angkat bicara.
“Benar, orang ini kenapa tampaknya tidak bisa dibunuh?”
“Energiku sudah habis sekarang, saya rasa saya tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi!”
“Tuan Muda Robi, bukannya kami ingin melarikan diri dari pertempuran tapi kekuatan Aron ini terlalu di luar nalar.”
Beberapa orang yang sudah tidak sanggup mulai menarik diri dan menyerah.
Dengan begitu, semakin banyak orang yang mundur dan tekanan Aron semakin berkurang.
__ADS_1
Pedang Naga di tangannya mengayun dengan lebih ganas lagi!
Pada akhirnya hanya tersisa Robi sendiri di hadapan Aron, sementara yang lainnya berdiri di belakang Robi.
Raut wajah Robi berubah menjadi sangat jelek.
Dia tidak menyangka, kerumunan orang ini sama sekali tidak bisa diandalkan.
Terlebih lagi dia tidak menyangka, kekuatan Aron sudah melebihi ekspektasinya.
Aron memegang Pedang Naga, sekujur tubuhnya sudah penuh dengan darah dan membuatnya seperti manusia darah, beberapa bagian tubuhnya memperlihatkan tulang-tulang putih yang amat mengerikan untuk dilihat.
“Serahkan orang, atau mati…”
Aron menyipitkan matanya, darah merah membanjiri tubuhnya dan membuat pandangannya menjadi kabur.
Namun Aron masih menggertakkan giginya untuk bertahan!
Raut wajah Robi berubah, walau Aron yang ada di hadapannya terluka parah, Robi juga tidak berani melawannya sendirian.
Saat ini hati Robi sudah sedikit terguncang oleh sikap yang ditunjukkan Aron, dia tidak berani menyerang.
Robi sedikit menyesal, dia seharusnya tidak melepaskan para ahli Keluarga Himawan yang sudah dikumpulkan.
Robi mengira, dengan adanya begitu banyak klan dan keluarga bela diri yang telah memihak Keluarga Himawan, walau Aron sudah keluar dari pengasingan, dia juga dapat membunuh Aron!
Tapi dia tidak menyangka, di bawah ancaman kematian beberapa orang ini tidak bersedia menjual nyawa mereka.
“Baik, saya akan menyerahkan mereka, saya akan mengambil kuncinya…”
Tatapan mata Robi menunjukkan kilatan cemerlang dan berkata tanpa daya.
__ADS_1