
Teflon tercengang, lalu pandangannya melekat pada punggung Aron dengan erat, dan mengernyitkan keningnya.
“Siapa orang itu? Apakah saya kenal dengannya? Kenapa saya merasa sangat familiar saat melihat orang itu?”
Teflon terlihat sangat kebingungan.
Saat dia melihat Aron untuk pertama kalinya dia sudah merasakan perasaan yang sangat familiar, seolah-olah dia sudah pernah bertemu dengannya entah dimana tapi dia tidak bisa mengingatnya.
Meskipun Teflon adalah garis keturunan tidak langsung, tapi dia masih memiliki hubungan darah dengan Aron, ibunya Aron adalah bibinya Teflon, dua orang itu adalah saudara sepupu.
Hanya saja, saat ini dua sepupu ini tidak memiliki perasaan apapun terhadap satu sama lain, keduanya saling membenci dan ingin membunuh eksistensi satu sama lain.
“Tuan Muda Teflon…”
Sutai dan Roddy berjalan mendekat, Teflon menganggukkan kepalanya sebagai salam.
Kedua orang itu bersikap sangat rendah hati dihadapan Teflon.
Karena mereka juga tidak bisa tidak merendah di hadapan Keluarga King yang begitu hebat!
Teflon juga mengangguk lalu melambaikan tangannya sebagai isyarat agar kerumunan itu membubarkan diri.
Teflon tidak ingin terjadi masalah apapun selama beberapa jam di atas kapal.
__ADS_1
“Tidak disangka kalian beberapa gadis ini ternyata cukup populer juga…”
Setelah membawa Nuri dan yang lainnya pergi, Dave berkata dengan nada masam.
Melihat sikap Aron yang seperti itu, Nuri terkekeh : “Kenapa? Kamu cemburu, ya?”
“Saya tidak cemburu…” Aron menggelengkan kepalanya.
“Di atas kapal ini hanya ada kami bertiga yang masih gadis, sisanya merupakan ibu-ibu yang sudah berumur, tentu saja kami menjadi populer…”
Lina berkata sambil tersenyum.
Ada lebih dari ratusan orang di kapal ini, selain mereka bertiga yang masih gadis, benar-benar tidak terlihat gadis-gadis lainnya, pantas saja banyak dari mereka yang menyanjung.
Wenny berkata dengan mulut manisnya.
“Wenny, semakin lama kamu semakin pandai berbicara ya, benar-benar membuat orang sangat menyukaimu…”
Lina membelai kepala Wenny dengan lembut, tapi tidak lama kemudian dia seperti teringat akan sesuatu dan raut wajahnya menjadi sedikit jelek.
“Lina, ada apa denganmu?” Aron menyadari perubahan wajah Lina yang tiba-tiba dan merasa ada yang tidak beres, jadi dia bertanya dengan aneh.
“Oh, tidak apa-apa!” Lina menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Dia hanya teringat setelah sampai di Pulau Naga, mungkin Wenny dan Nuri tidak akan bisa kembali lagi, jadi dia merasa sedih.
Di saat Aron ingin bertanya lagi, tiba-tiba ada beberapa orang yang menghalangi jalan mereka.
Aron menoleh dan menemukan Boyca yang membawa orang-orangnya untuk menghalanginya, sedangkan di sisi Boyca adalah kakak keduanya, Raul.
“Aron, tidak disangka kita akan bertemu di sini bukan?”
Boyca menatap Aron dan mencibir.
“Apa yang kamu inginkan?” Aron sudah melihat kedua bersaudara dari Keluarga Bara ini sejak di restoran yang ada di hotel, oleh karena itu dia tidak merasa aneh saat bertemu dengan mereka di atas kapal.
Melihat Aron tidak bergeming, Boyca mengernyitkan keningnya : “Kamu sudah membunuh kakak pertamaku, lantas kamu tidak merasa takut bertemu denganku?”
“Saya rasa yang seharusnya takut adalah kamu, bukan? Saya bisa membunuh kakak pertamamu, tentu saja bisa membunuhmu, kalau kamu ingin Keluarga Bara lenyap, maka kamu bisa mencoba untuk memprovokasiku…”
Aron berkata dengan wajah acuh tak acuh.
Mendengar itu membuat wajah Boyca seketika memerah karena marah, lalu menunjuk Aron dan berkata : “Nak, kamu terlalu arogan, jangan kira Keluarga Bara tidak mencarimu selama beberapa waktu ini karena takut padamu, hari ini saya akan mencabik-cabik nyawamu, dan memainkan beberapa wanita yang ada di sampingmu itu…”
Dengan adanya kakak keduanya, Raul, di sisinya Boyca sama sekali tidak takut pada Aron, kemarahan dalam dirinya terus membara.
Namun saat Boyca bersiap menyerang Aron, Raul yang ada di sampingnya malah menghentikannya.
__ADS_1