
“Apa, apa yang terjadi?”
Semua orang tertegun, dan saat mereka melambaikan tangan mereka, semua energi yang ada di tubuh mereka menghilang dan berubah menjadi orang biasa.
Wiwanto mengernyitkan keningnya dan mengepalkan tinjunya dengan erat, tapi energi di dalam tubuhnya juga ditekan dan dia tidak bisa menggunakannya sama sekali.
“Ini pasti sebuah Mantra Penekan, menekan semua energi yang ada di dalam tubuh kita!”
Herman menjelaskan.
“Kepala keluarga keluarga Umar, apakah kamu mempunyai cara untuk mematahkan mantra ini?” tanya Wiwanto.
Dengan energi mereka yang ditekan, tidak ada cara bagi mereka untuk membuka peti mati perunggu itu dan mereka tidak akan tahu apa yang ada di dalamnya.
Herman menggelengkan kepalanya : “Formasi mantra sebesar ini bukanlah sesuatu yang dapat saya patahkan, apalagi di tempat yang menggunakan gunung sebagai dasar formasinya dan air sebagai titik formasinya, mahakarya seperti ini sepertinya hanya bisa diatur oleh master sihir tingkat atas, kalau saya tidak salah, ini seharusnya merupakan Urat Naga yang dibicarakan oleh para kaisar.”
“Urat Naga?” Wiwanto tercengang.
Dia sama sekali tidak memahami hal ini, jadi dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Herman.
“Di seluruh dinasti, keluarga kerajaan akan meminta orang-orang yang cakap dan luar biasa untuk mencari harta karun Urat Naga yang bisa membuat negara menjadi makmur, ini seharusnya merupakan Urat Naga yang ditemukan oleh salah seorang kaisar, tapi kaisar dari dinasti mana, saya juga tidak tahu.”
Herman menjelaskan.
__ADS_1
Penjelasan Herman membuat Wiwanto memahaminya, namun melihat peti mati perunggu di depan matanya, Wiwanto akan enggan jika memintanya menyerah begitu saja.
Namun sekarang dia sudah kehilangan seluruh energinya, dia tidak bisa mendekati peti mati perunggu itu, dia hanya bisa kembali melalui jalan yang dia lalui, namun bisa mendapatkan Lukisan Pegunungan dan Sungai Sembilan Puluh ribu mil juga tidak buruk.
“Karena kita sudah menemukan peti mati dan tidak ada cara untuk membukanya, maka kita hanya bisa kembali, pelatihan kali ini sudah selesai!”
Wiwanto harus mengeluarkan perintah agar pelatihan diakhiri.
Banyak orang yang tampak sedikit kecewa, awalnya mereka mengira akan ada banyak harta karun di dalam Makam Kaisar, tapi pada akhirnya tidak mendapatkan apapun, dan lukisan itu juga diambil oleh August.
Setelah Wiwanto mengeluarkan perintah, semua orang tidak punya pilihan selain menurutinya, lagipula tidak ada gunanya mereka tetap disini, energi mereka ditekan dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Namun saat Wiwanto hendak kembali bersama kerumumannya, Aron tiba-tiba melangkah maju.
“Tunggu sebentar, sudah merebut barangku dan mau pergi begitu saja?”
Saat mantra itu diaktifkan dan semua energi mereka sudah ditekan, Aron sudah mencoba dan menyadari kalau dirinya sama sekali tidak terpengaruh.
Aron berkultivasi dengan energi spiritual, bukan energi, jadi mantra itu tidak berpengaruh pada Aron.
Sekarang energi mereka semua sudah ditekan, bahkan Wiwanto juga sudah menjadi orang biasa, Aron juga tidak perlu takut lagi kepadanya, dan dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut kembali Lukisan Pegunungan dan Sungai Sembilan Puluh ribu mil.
“Aron, apa yang ingin kamu lakukan?”
__ADS_1
August menatap Aron dan bertanya.
“Tentu saja mengambil kembali lukisan itu!”
Aron berkata lalu mengambil langkah besar menuju ke arah August.
“Aron, meskipun energiku sudah ditekan, tapi kamu sendiri juga tidak kalah buruknya, jika berani menyerang, kami semua bisa memukulimu hingga hancur!”
August tidak takut, meskipun energinya ditekan tapi dia percaya saat ini Aron juga sudah menjadi orang biasa, tidak ada yang perlu ditakuti.
“Benarkah? Kalau begitu ayo coba saja…”
Aron melangkah maju dan meraih Lukisan Pegunungan dan Sungai Sembilan Puluh ribu mil, menyambarnya dengan sedikit tenaga.
August tercengang dan menghantamkan tinjunya ke arah Aron, tinju itu sepenuhnya mengandalkan kekuatan fisik, tidak terpengaruh oleh energi sedikit pun.
Bam…
August menghantamkan tinjunya pada dada Aron, tapi Aron tidak bergerak sedikitpun, sebaliknya malah August yang berteriak kesakitan.
August merasa tinjunya seolah-olah menghantam lempengan besi, rasa sakit yang tidak tertahankan terasa di sekujur tubuhnya.
Piak!
__ADS_1
Aron menamparnya dan membuat tubuh August seperti layang-layang putus, yang terhempas dan menabrak dinding batu dengan keras.