
Aron menggertakkan giginya dan menatap Nuri serta Lina, untuk sejenak dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Aron, jangan pedulikan kami, cepat lari…” Nuri berteriak keras.
“Aron, meskipun kamu tidak melawan, mereka tidak akan melepaskan kami, kamu tidak perlu ragu-ragu, langsung bunuh saja saya dan kabur setelah itu, saya tidak ingin menjadi beban…”
Lina juga berteriak pada Aron, dia berharap Aron bisa membunuhnya, bagaimanapun jika jatuh ke tangan orang keji seperti Roddy, tidak akan berakhir baik, apalagi Roddy juga sudah menunjukkan niat terhadap mereka sejak awal.
“Diam, sialan…”
Raut wajah Roddy menjadi dingin, dia mengerahkan sedikit tenaga pada tangannya, membuat Nuri dan Lina seketika menjadi kesakitan dan berkeringat!
“Hentikan…” Aron sangat marah melihat hal itu, tapi dia juga tidak berani menyerang begitu saja.
Dia tidak yakin bisa membunuhnya dengan satu pukulan, bagaimanapun Roddy adalah seorang Grand Master di tingkat puncak, dia sudah hampir memasuki ranah Great Grand Master, Aron tidak yakin bisa membunuhnya dengan satu pukulan.
Kalau dia tidak bisa membunuh Roddy dalam satu pukulan, maka Nuri dan Lina yang ada di tangan Roddy akan berada dalam bahaya.
“Kenapa? Sudah memikirkannya?” Roddy mencibir.
“Baik, saya akan ikut denganmu, apapun yang kamu inginkan akan kulakukan…”
Aron menyimpan Pedang Naga di tangannya dan meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya dengan ekspresi wajah yang lesu.
__ADS_1
Sekarang sudah tidak ada hal lain yang bisa Aron lakukan selain menuruti perkataan Roddy, dia tidak bisa melakukan apapun.
“Aron, jangan dengarkan perkataannya…”
“Jangan dengarkan dia…”
Nuri dan Lina berjuang untuk berteriak.
Hanya saja Aron seolah tidak mendengarnya dan perlahan berjalan ke arah Roddy.
Wajah Roddy semakin sumringah saat melihat Aron bersikap bijaksana.
“Kakak kedua, kalau orang itu sampai dibawa pergi oleh Keluarga Tanu, maka kita tidak akan bisa membalaskan dendam kakak pertama lagi…”
“Diam!” Raul sedang berusaha untuk menyembuhkan cederanya saat ini, dan tidak ingin mendengarkan omelan Boyca dari samping.
Boyca yang melihat itu hanya bisa menutup mulutnya karena ketakutan.
Aron menyimpan kembali auranya, dan perlahan berjalan ke arah Roddy, tapi setelah mengambil dua langkah, Aron menyadari tidak jauh dari tempat Roddy berdiri, serigala salju sedang terbaring di tanah dan menggerakkan tubuhnya ke depan dengan hati-hati dan menatap Roddy dengan tatapan maut.
Melihat serigala salju itu Aron merasa senang dalam hatinya, baru saja dia mengira serigala salju itu sudah pergi, karena suhu udara di tempat ini sudah meningkat dan salju sudah mencair, tidak lagi cocok untuk menjadi tempat tinggal serigala salju.
“Biarkan dulu mereka berdua pergi, saya akan mendengarkan semua perkataanmu, kamu boleh mengambil nyawa saya kapan saja kamu mau…”
__ADS_1
Aron berkata sambil bergerak mendekati Roddy.
Dia melakukan ini untuk menarik perhatian Roddy agar dia tidak menyadari keberadaan serigala salju.
“Jangan banyak omong kosong, datang kemari dengan patuh, maka saya akan melepaskan wanitamu ini…”
Roddy berkata dengan sedikit tidak sabar.
“Aron, jangan, jangan kemari…”
Nuri dan Lina masih berteriak-teriak, dua orang itu berkeringat deras karena gelisah.
“Kalian berdua tenang saya, kita akan baik-baik saja…”
Aron menatap dua orang itu dengan tatapan tegas, dia tidak ingin dua gadis itu panik.
Di saat Aron hanya berjarak tiga empat meter dari Roddy, serigala salju itu tiba-tiba bergerak...
“Roar…”
Setelah mengaum, serigala salju itu melesat dan menggigit lengan Roddy, rasa sakit yang dahsyat membuat Roddy berteriak dan melepaskan Nuri yang ada di tangannya.
Nuri yang terlepas dari cengkramannya melarikan diri dengan cepat, namun Lina masih berada di cengkraman tangan kiri Roddy, dia masih dikendalikan dan kalau Roddy mengerahkan tenaganya saat ini, maka Lina pasti sudah terbunuh!
__ADS_1
Di saat serigala salju menyerang, Aron juga menyerang bersamaan, Pedang Naga kembali muncul di tangannya dan menebas ke arah tangan kiri Roddy.