
“Hm, hanya sebuah Keluarga Himawan juga ingin membuat badai di Kota Dama?”
Arthur mendengus dingin : “Tua bangka Keluarga Himawan itu sedang mengasingkan diri, jadi semua ini pasti dilakukan oleh putranya.”
“Ketua Aliansi, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”
“Lantas kita harus melihat para klan dan keluarga bela diri ini memihak kepada Keluarga Himawan begitu saja?”
Salah seorang Tetua bertanya.
“Karena Robi sangat ambisius maka biarkan saja dia, saya malah ingin melihat bagaimana dia menghabisi Aron!”
“Orang jahat saling berkelahi, kita kebetulan bisa menyaksikan pertunjukan besar…”
Arthur menyeringai.
…
Keluarga Himawan.
Robi sedang duduk di kursi utama di Keluarga Himawan.
Karena ayahnya Satria terus mengasingkan diri, dan semua masalah Keluarga Himawan diserahkan kepada Robi untuk diurus olehnya.
Meskipun Robi yang selalu mengurus Keluarga Himawan, tapi dia tidak pernah duduk di kursi utama.
Tapi hari ini berbeda!
Keluarga Himawan sudah menghancurkan Lembah Iblis, dan menangkap Empat Tetua Iblis hidup-hidup.
Meskipun semua orang tahu Keluarga Himawan mengambil keuntungan dari kesempatan, tapi keberanian Robi dan kekuatan Keluarga Himawan juga terlihat jelas oleh semua orang.
Jadi banyak keluarga dan klan bela diri yang mulai memihak kepada Keluarga Himawan!
“Keluarga Mura dari bagian selatan, Kepala Keluarga Keluarga Mura memberi salam!”
__ADS_1
“Klan Matahari, Ketua Klan Tandri memberi salam!”
“Klan Penjaga Langit, Ketua Klan Binsar memberi salam!”
Dalam satu hari ini, banyak keluarga dan klan bela diri yang meminta untuk bertemu dengan Keluarga Himawan.
Dan Robi menyambut mereka dengan wajah penuh senyuman.
Saat ini hati Robi sudah dipenuhi dengan kepuasan yang luar biasa.
Di usianya yang masih muda, sudah begitu banyak keluarga dan klan bela diri yang datang untuk menemuinya, dan ingin memihak pada Keluarga Himawan.
Robi tahu walau ayahnya sendiri juga mungkin tidak akan bisa mencapai hasil seperti ini.
Dalam satu hari, hampir tiga puluh keluarga dan klan bela diri dari berbagai tingkatan sudah memihak kepada Keluarga Himawan!
Robi merasa sedikit lelah tapi dia merasa sangat puas.
“Nanti setelah saya menemukan cara untuk menarik komunitas bela diri Kota Dawa di bawah naunganku, maka siapa lagi yang berani melawanku di seluruh Kota Dama ini?”
Robi berdiri di titik tertinggi vila dan menatap ke arah langit, hatinya sudah membuncah hingga ke intinya.
Mereka semua seolah sedang menunggu sesuatu!
Dan di saat ini, di Keluarga Dayo, raut wajah Rael sudah sangat jelek.
Awalnya Keluarga Dayo dan Keluarga Himawan memang sudah tidak cocok, dan kekuatan kedua keluarga itu hampir seimbang.
Namun sekarang Keluarga Himawan memiliki begitu banyak keluarga dan klan bela diri yang memihaknya, dan kekuatan Keluarga Dayo sudah hampir tidak bisa menandinginya.
“Sudah begitu larut, kenapa kamu masih belum tidur?”
Istri Rael bertanya.
“Tidak bisa tidur!” Rael menyalakan sebatang rokok lalu menghirupnya dalam-dalam : “Di mana Lion?”
__ADS_1
“Di kamarnya, sejak kamu menyerang Aron, Lion tidak pernah keluar dari kamar beberapa hari ini, dia bahkan tidak mau berbicara sepatah kata pun!”
Istri Rael menatap Rael dengan cemberut.
“Aduh!” Rael menghela nafas : “Saya juga melakukannya demi kebaikan dia, tapi anak ini tidak mau memahaminya!”
“Demi kebaikannya, lalu kamu merebut barang orang lain begitu saja? Saya dengar dari Lion kalau Aron adalah temannya, kamu membuat Lion menipunya dan membawanya kemari.”
“Kalau kamu bersikap seperti ini, apa bedanya kamu dengan perampok?”
Istri Rael berkata dengan tidak puas.
“Kamu hanya seorang wanita, apa yang kamu pahami…”
Rael melemparkan rokok yang ada di tangannya lalu berjalan menuju kamar Lion.
Tok tok tok…
Rael mengetuk pintu, lalu berkata : “Lion, keluar sebentar, ada yang ingin saya bicarakan denganmu!”
“Tidak ada yang ingin saya bicarakan denganmu, jangan ganggu saya…”
Suara marah Lion terdengar dari dalam kamar.
Sudah beberapa hari berlalu dan Lion masih menyimpan dendam!
Dia selalu berpikir kalau orang yang mencelakai Aron adalah dirinya!
Dia tidak pernah menyangka, ayahnya adalah orang seperti itu.
“Saya tahu kamu masih marah denganku, tapi saya melakukannya demi kebaikanmu!”
“Sekarang, segera ganti pakaianmu dan bawa ibumu pergi ke rumah kakekmu!”
“Apa pun yang terjadi di rumah, jangan pernah kembali!”
__ADS_1
Rael berkata dengan serius.