
Aron merasa kaget melihat hal ini, ini adalah kedua kalinya dia mendengar seseorang menyebutnya dengan dua kata putra naga.
Lalu naga emas yang kini mengelilingi dirinya sama sekali tidak dapat dikendalikan oleh Aron.
Dia juga tidak tahu kapan naga emas ini muncul.
“Lantas ayahku adalah seekor naga?”
Tiba-tiba sebuah pemikiran yang tidak masuk akal terbesit di benak Aron.
Saat di Pulau Naga, Naga Api yang begitu ganas memuntahkan Kristal Naganya dengan sukarela setelah melihatnya.
Apakah karena dia memiliki garis keturunan naga di dalam tubuhnya?
“Senior, apakah kamu bisa memberitahuku, apa maksudmu mengenai Putra Naga? Lantas saya adalah putra dari naga?”
Aron bertanya kepada pria tua itu dengan bingung.
Saat itu dia ingin bertanya kepada pria tua yang terjebak di dalam Menara Setan, namun siapa sangka pria tua itu kabur tanpa mengatakan apa pun.
Sekarang Aron kembali bertemu dengan orang yang memanggilnya Putra Naga, dia tidak mungkin melepaskan kesempatan ini untuk bertanya dengan jelas.
Pria tua itu tersenyum ringan : “Kamu pasti akan tahu setelah waktunya tiba, sekarang kamu harus memikirkan cara untuk mengalahkanku…”
Sambil berkata, pria tua itu melambaikan tangannya dan naga raksasa itu menjulang ke udara.
Naga emas di tubuh Aron juga mengaum dan menjulang ke udara juga.
__ADS_1
Dua ekor naga tiba-tiba saling beradu.
Aron membelalak, dan menatap adegan di depannya dengan tidak percaya.
Karena adegan dua ekor naga yang bertarung benar-benar terlalu mengejutkan.
Walau kekuatannya saat ini sudah dapat membunuh eksistensi Great Grand Master tingkat puncak, di hadapan dua ekor naga, itu menjadi sangat kecil dan tidak berarti.
Salah satu dari naga itu dapat mencakarnya sampai mati!
Naga emas yang keluar dari tubuh Aron bersinar dengan cahaya keemasan, setiap lapisan sisik emasnya sama seperti sisik yang menempel pada tubuh emas yang tidak bisa hancur milik Aron.
Naga emas mengaum dan sepasang cakarnya langsung mencakar naga raksasa pria tua itu, lalu menekannya ke tanah dengan erat.
Dalam sekejap mata, naga raksasa itu kembali berubah menjadi tongkat kepala naga dan kembali ke tangan pria tua itu.
Meskipun pria tua itu kalah tapi dia tidak marah, sebaliknya dia tampak tersenyum.
“Jalan menuju keabadian itu panjang dan sulit, ke depannya, tiga dunia mungkin harus dijaga oleh kalian para keturunan…”
“Menara Setan ini untukmu, semoga suatu hari kamu bisa menggunakannya untuk mempertahankan jalan dari kejahatan dan melindungi makhluk hidup…”
“Rasa haus darah di dalam tubuhmu terlalu kuat, akan mudah keluar dari jalur dan tersesat, saya mempunyai Mantra Penjernih Hati, semoga berguna untukmu!”
Pria tua itu berkata lalu melambaikan tangannya dengan ringan!
Sebuah kekuatan lembut langsung menyelimuti Aron, kemudian Mantra Penjernih Hati langsung muncul di benak Aron.
__ADS_1
Aron terkejut, dia tidak tahu mengapa pria tua itu membantunya dan menghadiahkan Mantra Penjernih Hati kepadanya.
Di saat dia ingin bertanya, dia menemukan pria tua itu sudah menghilang.
Aron melihat sekelilingnya, tidak ada tanda-tanda dari pria tua itu, lalu tatapannya kembali jatuh pada Menara Setan.
Aron mengulurkan tangannya dan mengambil Menara Setan, di saat dia mengambil Menara Setan, tatapannya tiba-tiba menjadi gelap!
Di saat Aron membuka matanya kembali, dia menemukan dirinya berada di puncak menara dan tubuhnya tergeletak di tanah, seolah baru mengalami mimpi yang panjang, namun di samping tangan kanannya, Menara Setan diletakkan dengan tenang di atas lantai.
Aron mengambil Menara Setan dan perlahan-lahan bangkit berdiri, di saat itu suara gemuruh mulai terdengar dari luar.
Kemudian, seluruh menara bergetar dan Aron tahu formasi pembunuh sudah dirusak.
Aron menyimpan Menara Setan ke dalam Cincin Penyimpanan lalu melesat turun dari menara dengan cepat.
Saat baru keluar dari Menara Setan, dia bertemu dengan Rein yang sudah merusak formasi pembunuh.
“Kamu ingin kabur?”
Rein menatap Aron dengan dingin.
“Tempat ini untukmu, saya tidak mau berebut denganmu…”
Aron merendahkan sikapnya, di saat ini dia sebaiknya tidak terjerat konflik dengan Rein.
__ADS_1