
Mendengar Arthur membahas Nuri, raut wajah Aron memerah karena marah!
“Hari ini, saya akan bertarung mati-matian denganmu…”
Aron berkata lalu menarik nafas panjang, cahaya keemasan di dalam tubuhnya terus meledak.
Luka-luka di tubuh Aron sembuh dengan kecepatan yang bisa dilihat dengan mata telanjang, dan kemudian cahaya yang menyilaukan bersinar dari dadanya!
Aron mengangkat tangannya perlahan dan seekor naga emas muncul lalu mulai melayang di atas kepala Aron.
“Tinju Cahaya Suci…”
Aron berteriak lalu diikuti dengan suara auman naga dari naga emas yang kemudian menerjang langsung ke arah Arthur.
Arthur menghadapi naga emas itu tanpa rasa takut, dia melayangkan tinjunya dengan ganas dan langsung membuat naga emas itu menjadi asap dan menghilang tanpa jejak.
Lalu, Arthur melangkah dan berkata dengan muram : “Saya tidak mau bermain denganmu lagi, matilah…”
Raut wajah Aron berubah, dia tidak berani melambat sedikit pun dan bergegas melayangkan tinjunya!
Bam!
Sebuah suara keras terdengar, Arthur telah mengumpulkan semua energinya di satu tempat dan berniat membunuh Aron dengan satu pukulan itu.
__ADS_1
Suara nyaring terdengar dari lengan Aron, sekujur tubuhnya terhempas ke belakang namun saat di udara, dia menabrak sesuatu lalu jatuh menghantam tanah dengan keras.
Lengan Aron patah dan energi di dalam tubuhnya mulai mengalir dengan berantakan, darah terus mengucur.
Sekarang tatapan mata Aron juga sedikit kabur, pikirannya juga mulai tidak jernih.
“Tidak, saya tidak boleh mati, tidak boleh mati…”
Aron menggigit ujung lidahnya dengan keras, pikirannya seketika menjadi jernih lagi.
Aron berdiri dengan susah payah, melihat Aron yang masih dapat berdiri Arthur tanpa sadar merasa sedikit terkejut!
Aron menatap Arthur dengan dingin lalu berkata dengan ringan : “Sepertinya hanya bisa mati bersama denganmu…”
Setelah selesai bicara, Aron memejamkan matanya dan mulai melafalkan mantra.
Cahaya keemasan yang tadinya sudah meredup, kini juga kembali bersinar terang di tubuh Aron!
“Ternyata membakar esensi darah ya?”
Arthur menyadari Aron sudah berada di ambang kematian dan membakar esensi darahnya sendiri.
Segera setelah itu, Aron perlahan-lahan mengangkat telapak tangannya ke atas, cahaya keemasan dari tubuhnya secara tidak terduga keluar dari tubuhnya, dan menyatu menjadi bola cahaya di atas telapak tangan Aron.
__ADS_1
Bola cahaya ini memancarkan gelombang udara panas yang menyebar ke segala arah, membuat pepohonan di sekitarnya seolah kehabisan air dan menjadi layu.
Arthur mengernyitkan keningnya saat dia melihat pemandangan ini, saat ini dia juga merasakan sedikit aura yang berbahaya.
Dia tidak menyangka Aron mampu mengerahkan kekuatan seperti itu saat berada di ambang kematian.
Aura di tubuh Arthur juga meledak secara ekstrem, diikuti dengan ekspresinya yang membeku saat menatap Aron.
Kedua belah pihak tahu, ini adalah serangan terakhir jadi mereka harus mengerahkan seluruh kekuatan mereka.
Bola cahaya di depan Aron semakin membesar hingga pada akhirnya cahaya yang menyilaukan itu seolah akan menelan semua orang.
Mata Aron kemudian terbuka dan setelah berteriak marah, dia menghantamkan bola cahaya itu ke arah Arthur dengan sekuat tenaga.
Gelombang udara yang bergejolak ini seolah-olah akan memanggang semua orang hingga kering, bahkan Jaring Surgawi yang ada di sekelilingnya juga hancur dan lenyap dalam sekejap.
Di sisi lain, Arthur dikelilingi oleh cahaya ungu samar yang melindungi seluruh tubuhnya.
Bam!
Bola cahaya itu meledak, cahaya yang menyilaukan membutakan semua orang, seperti bom yang meledak, gelombang udara panas menghempaskan semua orang.
Perlahan-lahan gelombang energi itu menghilang, sebuah lubang yang sangat besar muncul di tanah, cahaya ungu yang melindungi tubuh Arthur juga hancur dalam sekejap dan membuat seluruh tubuhnya terlempar ke belakang.
__ADS_1
Arthur perlahan-lahan bangkit berdiri, tubuhnya sudah terlihat menyedihkan, sedangkan tiga bawahan yang dia bawa juga sudah mengucurkan darah dari semua lubang di tubuh mereka, wajah mereka mengering seperti mati terpanggang hidup-hidup.