Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Pura² takut


__ADS_3

Namun saat Aron hendak menyerang balik, dia mendapati sosok Canon yang tiba-tiba mundur kembali.


Setelah Canon mendarat, dia terhuyung-huyung dan hampir jatuh ke tanah.


“Ketua Hasan, apa maksudmu?”


Setelah mendarat, Canon mengernyitkan keningnya dan menatap Hasan sambil bertanya.


“Nyawa anak ini hanya bisa direnggut olehku, kamu lihat saja dari samping, orang yang membunuh putraku tidak akan bisa berada di bawah langit yang sama denganku, apakah kamu takut saya tidak bisa membunuh dia seorang diri?”


Hasan sudah bisa melihat niat Canon sejak awal, jadi dia menghentikan Canon.


Meskipun Canon merasa marah dalam hatinya, tapi dia tidak berani mengatakan apapun, dia hanya bisa mundur beberapa langkah dengan marah.


“Bocah, saya akan mencabik-cabik mayatmu...”


Setelah berkata, Hasan mengeluarkan aura dari tubuhnya, aura menakutkan itu menekan tubuh Aron dan membuat Aron sedikit kehabisan nafas.


“Bisa membunuhku atau tidak, itu masih belum bisa diketahui...”

__ADS_1


Aron mengangkat Pedang Naga, saat ini Pedang Naga di tangan Aron tidak berhenti berdengung, seperti sedang bersorak untuk Aron.


Hasan menyipitkan matanya dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Pedang Naga, sepertinya dia sangat tertarik pada pedang ini.


Aron melihat Hasan yang begitu menyukai Pedang Naga tiba-tiba sebuah rencana terlintas di pikirannya, dia menarik kembali auranya, dan seluruh tubuhnya hampir ditekan oleh aura Hasan.


Saat ini Aron memperlihatkan sosok yang sangat merosot, seolah dia tidak bisa mengumpulkan energi untuk bertarung dengan Hasan.


Melihat aura di tubuh Aron tiba-tiba melemah, Hasan menyeringai , “Seni bela diri adalah tentang bertarung dengan percaya diri dan mantap, memiliki fondasi yang baik, entah keterampilan apa yang kamu gunakan hingga bisa mencapai ranah Grand Master di usia yang begitu muda, hanya saja kamu seperti tong kosong nyaring bunyinya, apakah sekarang masih belum bisa dipastikan apakah saya bisa membunuhmu?”


Raut wajah Aron menjadi jelek, dia bernafas dengan kasar, tatapan matanya menatap Hasan dengan sedikit memelas dan berkata: “Saya akan memberikan Pedang Naga ku padamu, ampuni nyawaku, kalau kamu tidak setuju, palingan saya akan musnah bersama dengan Pedang Naga ini, ini adalah pedang pusaka kuno...”


Hasan tidak menyangka Aron akan mengajukan permohonan seperti itu, dia sedikit tercengang.


Sedangkan Jekson dan yang lainnya juga tampak kaget.


“Apa yang terjadi pada Tuan Aron? Apakah dia sudah gila? Ini adalah pembalasan dendam karena membunuh putranya, walau memberikan pedang itu kepada Hasan, bagaimana mungkin dia akan mengampuni Tuan Aron...”


Jekson berkata dengan sedikit bingung.

__ADS_1


“Tingkah Tuan Aron tampak aneh hari ini, tidak seperti karakternya...”


Lyla juga menatapnya dengan ekspresi bingung, dia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Aron.


Basri tidak mengatakan apapun, tapi dia memperhatikan semua yang ada di depannya, meskipun dia belum terlalu lama berhubungan dengan Aron, tapi dia yakin, kalau Aron jelas bukan orang yang mau berkompromi, atau orang yang takut pada kematian, Aron melakukan ini pasti ada alasannya.


Namun saat ini, Hasan sedikit kaget, dia melirik Aron, awalnya dia mengira Aron adalah seorang ksatria, tapi tidak disangka saat dihadapkan dengan hidup atau mati, dia juga menjadi pengecut.


Namun ini adalah pembalasan dendam karena sudah membunuh anaknya, bagaimana mungkin Hasan melepaskan Aron, tapi demi mendapatkan Pedang Naga terlebih dulu, Hasan mengangguk dan berkata: “Kalau kamu bisa memberikan pedang itu kepadaku, maka saya bisa mengampuni nyawamu, tapi meski bisa menghindari kematian, kamu tetap harus menanggung hukuman, kamu harus menjaga makam putraku di gunung selama tiga tahun...”


Hasan tidak berani terlalu mudah menyetujuinya, dia takut Aron akan curiga.


“Baik, asalkan kamu tidak membunuhku, jangankan menjaga makam selama tiga tahun, sepuluh tahun juga tidak masalah...”


Setelah berkata, Aron melemparkan Pedang Naga itu kepada Hasan.


Hasan membungkus tubuhnya dengan kekuatan sebelum mengulurkan tangan untuk meraih Pedang Naga, dia takut Aron akan berbuat curang.


Saat Pedang Naga digenggam di tangannya, Hasan bisa merasakan energi dari tubuh pedang, dan saat dia memusatkan pikirannya, Pedang Naga ternyata berdengung bersamanya.

__ADS_1



__ADS_2