Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Keluarga Umar


__ADS_3

Semakin Aron dan yang lainnya mendekat, aura yang kuat itu juga semakin terasa.


Akhirnya saat Aron dan yang lainnya tiba di atas bukit, beberapa puluh meter dari bukit itu terlihat seorang lelaki tua yang sedang duduk bersila, sementara di sekitar lelaki tua itu ada tujuh bola kristal yang berkilauan tidak berhenti berputar mengelilingi lelaki tua itu.


“Formasi Tujuh Bintang?”


Aron yang melihatnya berkata dengan sedikit kaget.


“Siapa disana?”


Suara Aron mengagetkan lelaki tua itu, tujuh bola kristal yang berkilauan juga seketika mengarah menuju ke arah Aron dan yang lainnya, diikuti oleh sesosok yang mendekat pada waktu bersamaan.


Tujuh bola kristal itu seketika mengelilingi Aron dan yang lainnya saat sampai ke hadapan mereka


Pada saat ini, lelaki tua itu juga muncul di hadapan Aron.


“Siapa kalian? Kenapa memata-matai saya yang sedang berlatih?”


Lelaki tua itu bertanya dengan wajah dingin dan penuh wibawa.


“Kami hanya datang untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat, tidak bermaksud untuk mengganggu latihanmu…”

__ADS_1


Aron menyadari kalau lelaki tua di depannya berada di ranah Great Grand Master, tapi bukan kultivator iblis, karena dia tidak merasakan hawa yin dari lelaki tua itu sedikit pun, justru saat ini dari dalam tanah hawa yin terus bermunculan.


"Omong kosong, melihat sekilas saja saya sudah tahu kalau kalian adalah ahli bela diri, dan kekuatanmu sudah mencapai puncak Grand Master, bagaimana mungkin kalian masuk kemari tanpa bermaksud apa-apa, saya sudah menyebarkan auraku di radius ratusan meter, tidak mungkin kalian tidak bisa merasakannya…”


Lelaki tua itu menatap Aron dengan marah dan sama sekali tidak percaya pada perkataan Aron.


“Kalau kamu tidak percaya saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi saya rasa kamu tidak terlihat sedang berlatih, Formasi Tujuh Bintang ini sepertinya digunakan untuk melacak makam, kamu memasang Formasi Tujuh Bintang di tempat ini lantas ini adalah sebuah makam kuno?”


Aron berpura-pura bingung dan bertanya.


Merasakan hawa yin yang muncul dari dalam tanah, Aron sudah menduga mungkin ada satu makam lain di dalam bukit ini, kalau tidak, tidak mungkin ada begitu banyak hawa yin.


Mendengar perkataan Aron, tatapan mata lelaki tua itu bersinar dan aura pembunuh yang tidak terlihat seketika menyelimuti Aron dan yang lainnya.


“Bicara apa kamu, mana ada makam kuno di tempat ini, saya hanya sedang berlatih, saya sarankan kalian segera pergi dari sini, kalau tidak jangan salahkan saya tidak segan-segan…”


Mata lelaki tua itu menyipit dan dia berkata dengan suara dingin.


“Ini bukan rumahmu, kami datang untuk berjalan-jalan, apa urusannya denganmu?”


Aron berkata dengan acuh tak acuh.

__ADS_1


“Nak, apa kamu tahu siapa saya? Saya adalah Herman Umar dari Keluarga Umar, kamu juga tidak mencari tahu dulu di Kota Dama ini berapa banyak orang yang berani macam-macam dengan Keluarga Umar…”


Raut wajah lelaki tua itu muram dan mengancam Aron.


“Keluarga Umar?” Aron berkata dengan raut wajah bingung, dia tidak tahu apa-apa tentang Keluarga Umar ini.


Raut wajah Mars sedikit berubah saat dia mendengar kata Keluarga Umar : “Tuan Aron, Keluarga Umar ini memiliki reputasi yang sama dengan Keluarga Tanu, Klan Petir dan Lembah Tanpa Bayangan, hanya saja Keluarga Umar mencari nafkah dengan merampok makam, banyak makam besar yang tersembunyi berhasil ditemukan oleh Keluarga Umar, dan banyak keluarga yang bekerja sama dengan Keluarga Umar untuk melacak makam dan mencari harta karun…”


Aron yang mendengarnya semakin yakin Herman yang ada di hadapannya pasti sudah menemukan sebuah makam kuno di sini, dan bukan sedang berlatih.


“Kamu cari saja makammu, saya akan berjalan di jalanku, kita berdua tidak ada hubungannya, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu…”


Setelah selesai berbicara, Aron mengedipkan mata pada Mars dan Nely, lalu ketiga orang itu terus berjalan ke depan.


Herman yang melihat itu tercengang, dan seketika kemarahannya memuncak : “Nak, kamu bahkan tidak memberi muka kepada Keluarga Umar, saya rasa kamu sudah bosan hidup…”


Setelah selesai bicara, Herman melayangkan tamparannya ke arah Aron, aura menakutkan menyapu ke arah Aron seperti angin topan.


Bagi Herman, Aron dan yang lainnya seperti orang yang sudah mati, dia yang memiliki kekuatan seorang Great Grand Master, akan dapat menangani beberapa Grand Master dengan mudah.


#terima kasih buat pembaca terbanyak dan teraktif Minggu ini, bonus bab buat kalian..🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2