
Sheli baru pergi, Nely pun berlari masuk ke kamar Aron.
Aron melihat Nely yang menerobos masuk ke kamarnya terkejut dan segera menutupi dirinya dan meringkuk di sudut.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aron bertanya pada Nely.
“Seorang pria dan wanita berduaan di dalam kamar, menurutmu apa yang akan kulakukan?”
Nely terkekeh lalu langsung menarik selimut Aron.
Tapi saat selimutnya ditarik, Nely seketika termenung : “Kenapa kamu mengenakan pakaian saat tidur?”
Tubuh Aron terbalut pakaian, sama sekali tidak seperti dugaan Nely.
“Saya mengenakan pakaian saat tidur, untuk berjaga-jaga dari seorang wanita genit sepertimu…”
Aron menyeringai, sudut mulutnya terangkat dengan puas dan dia bangkit untuk bicara.
“Hm, bajingan, cepat atau lambat saya akan membuatmu mematuhiku…”
Nely cemberut dan mendengus dingin, dan hanya bisa berjalan keluar dari kamar bersama Aron.
Hari sudah hampir siang, Aron mengantarkan orang tuanya dan Nely pergi ke hotel yang ada di kota, sesampainya di ruangan VIP, Shella dan bibi kedua Aron sudah tiba.
__ADS_1
“Kak Nely, ayo duduk di sini…”
Shella yang melihat Nely bergegas menyapanya dan memintanya duduk di sampingnya.
Nely yang awalnya ingin duduk di samping Aron sekarang sudah dipanggil oleh Shella.
Sedangkan Aron diseret oleh bibi keduanya untuk bertanya ini dan itu, jadi Aron hanya bisa menjawab satu per satu.
Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan VIP dibuka dan seorang pria tua serta seorang pemuda berjalan masuk, pria tua itu tampaknya berusia lima enam puluh tahunan, sedangkan pemuda itu tampak seumuran dengan Aron.
“Kakak pertama…”
Melihat orang yang datang, Sheli bergegas bangkit dan menyapanya.
Namun walau Sheli menyambut mereka dengan antusias, ekspresi Andrew tidak menunjukkan banyak perubahan, dia menyapu sekelilingnya lalu duduk di kursi utama.
Sedangkan Jeswan yang ada di belakangnya terlihat sombong, tatapannya jatuh pada Shella dan Nely secara bersamaan dan berhenti sejenak.
“Aron, Shella, ini adalah Paman dan Kakak sepupu kalian…”
Sheli berkata pada Aron dan Shella.
“Halo Paman, halo kakak sepupu…”
Shella bangkit berdiri dan menyapa.
__ADS_1
Tapi Aron tidak bergerak, dia juga tidak mengatakan apapun, sejak Andrew masuk ke dalam ruangan Aron sudah bisa merasakan kalau orang ini tidak menganggap mereka keluarga, alasan dia mengajak untuk makan bersama mungkin hanya untuk pamer, kalau tahu seperti ini Aron tidak akan datang.
Melihat Aron tidak bergerak, Sheli hanya bisa menjelaskan pada Andrew : “Kakak jangan tersinggung, Aron ini memang tidak banyak bicara…”
Andrew menatap Aron lalu berkata pada Sheli : “Sheli, bukannya Kakak mau mengomelimu, tapi lihatlah caramu mendidik anak ini hingga menjadi begitu manja? Yang baru bebas dari Kematian itu adalah putramu kan?”
Raut wajah Sheli menjadi canggung, tapi dia tetap mengangguk sambil tersenyum : “Iya!”
“Lihat tidak, kalau kamu tidak mendidik anakmu, maka orang lain akan mewakilimu mendidiknya, hidupnya sudah berakhir dengan Hampir mati di pukuli, kedepannya dia hanya bisa menjadi preman, atau sampah masyarakat dan sebagainya…”
Andrew merasa sangat sombong dan mulai menceramahi Sheli.
Meskipun Sheli merasa kesal tapi dia tidak berani mengatakan apapun, namun pada saat itu, raut wajah Wahyu menjadi dingin dan langsung menyalakan sebatang rokok untuk dirinya.
“Kakak, kamu jarang bisa pulang kemari, ayo pesan hidangan dan makan, ngomong-ngomong, bisnis besar apa yang kamu kembangkan di Kota Taka sekarang?"
Bibi Kedua Aron yang melihat itu bergegas mengalihkan pembicaraan.
“Tidak melakukan bisnis besar apapun, hanya melakukan beberapa bisnis properti dan pariwisata, kedatanganku kali ini juga berencana untuk mengubah beberapa kota terdekat sebagai objek wisata…”
Kata Andrew.
“Kalau begitu bagus sekali!” bibi kedua Aron tersenyum lalu menatap Jeswan : “Lalu apa yang Jeswan lakukan sekarang? Sudah bertahun-tahun tidak bertemu, dulu masih begitu kecil, sekarang sudah setinggi ini.”
__ADS_1