
Herman memimpin dan memerintahkan para murid Keluarga Umar untuk mengeluarkan obor yang sudah mereka persiapkan dan mengeluarkan korek api untuk menyalakannya.
Namun, saat Herman hendak menyalakan obor tiba-tiba banyak lilin yang menyala dari kedua sisi makam.
Lilin-lilin itu menyinari seluruh lorong makam, memiliki tebal seperti sebuah gelas air, lilin-lilin berwarna merah tiba-tiba muncul di lorong makam dan terlihat sangat menakutkan.
Lilin yang mendadak menyala ini membuat banyak orang kaget, Herman juga berkata pada Wiwanto : “Ketua Dewan Wiwanto, jangan panik, hal ini dikarenakan oleh oksigen sudah masuk ke dalam lorong, saat oksigen bertemu dengan fosfor akan membuat lilin-lilin yang sudah diletakkan sebelumnya di lorong ini menyala.
WIwanto mengangguk lalu berteriak ke arah belakang : “Semuanya jangan panik, tetaplah merapat, ada banyak bahaya yang tersembunyi disini, hati-hatilah dengan nyawa kalian!”
Setelah Wiwanto selesai bicara, dia terus mengikuti Herman dan berjalan lebih dalam ke dalam makam, dengan adanya cahaya yang menyinari lorong mereka berjalan dengan lebih cepat.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit lebih, lorong itu tampaknya tidak berujung, dan kerumunan yang awalnya merasa gugup saat memasuki makam saat ini merasa jauh lebih rileks, karena waktu sudah berlalu cukup lama dan tidak menemukan bahaya apapun, banyak orang yang mulai berjalan sambil mengobrol.
Aron menuntun Tommy berjalan di bagian paling belakang dari kerumunan, namun pada saat ini raut wajah Aron menjadi sangat serius dan tidak serileks raut wajah orang lainnya.
“Kak Aron, makam kuno ini benar-benar sangat besar ya, sudah berjalan begitu jauh masih belum sampai juga!”
__ADS_1
Tommy berkata dengan sedikit menghela nafasnya.
Aron mengernyitkan keningnya dan merenung sejenak : “Mungkin saja ini bukan sebuah makam kuno…”
“Bukan makam kuno?” Mendengar perkataan Aron, Tommy juga tercengang : “Kak Aron, bukankah kamu mengatakan ini adalah sebuah Makam Kaisar? Kalau tempat ini bukan makam kuno, lalu apa itu?”
“Saya juga belum mengetahuinya saat ini, tapi saya merasakan perasaan yang sangat berbahaya, jadi kamu berhati-hatilah!”
Entah kenapa, Aron merasakan adanya perasaan bahaya dalam hatinya.
Seni Konsentrasi Jiwa secara tidak sadar mulai bekerja dengan sendirinya dan sejumlah besar kekuatan spiritual memenuhi tubuh Aron.
Bahkan saat menghadapi situasi berbahaya, tubuh Aron belum pernah berada dalam kondisi seperti ini, dan entah kenapa tubuhnya menjadi seperti ini sekarang.
Aron menjadi sangat berhati-hati.
Setelah berjalan beberapa menit, lorong di makam itu mulai terbuka dan sebuah aula seluas ratusan kaki muncul, ini membuat kerumunan menjadi sangat gembira, mereka mengira sudah tiba di ruangan makam karena banyak harta karun pasti ditempatkan di dalam sana.
__ADS_1
Orang-orang di belakang mulai bergegas menuju ruang tersebut, namun ruangan itu kosong, hanya ada beberapa bangku batu dan tidak ada apapun lagi, bahkan peti mati pun tidak terlihat.
Hal ini membuat semua orang tercengang, jangan sampai pada akhirnya hanya sebuah makam kosong, dan akan membuat pelatihan kali ini menjadi bahan lelucon orang lain.
“Herman, coba kamu lihat apa yang terjadi!”
Herman mengangguk lalu membawa para murid Keluarga Umar untuk memeriksa aula makam tersebut, sedangkan yang lainnya mulai duduk di bangku batu untuk beristirahat.
Banyak keluarga dan klan yang berkumpul di sekitar August dan membentuk sebuah kerumunan, sedangkan Aron dan Tommy serta dua orang dari Lembah Tanpa Bayangan duduk di sisi yang lain.
Robi dan Lion membawa anak buah mereka sendiri untuk duduk di tempat lain, sama sekali tidak berbaur dengan anggota klan dan keluarga yang tergabung dalam Aliansi Seni Bela Diri.
“Teflom, kamu pergilah dan beri pelajaran pada Aron, lumpuhkan kakinya…”
August mengingat pesan dari Naveen dan berkata pada Teflon.
Teflon yang mendengarnya bergegas berkata dengan pelan : “Tuan Muda, saya…saya takut saya bukan tandingannya Aron!”
__ADS_1
Sebelum pelatihan dimulai, teflon yang melihat bagaimana Aron bisa muncul sudah menduga pasti ada hal buruk yang terjadi pada Lima Pelindung yang Naveen tugaskan untuk menangkapnya.