Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Tubuh Idaman


__ADS_3

Tidak peduli apakah dia memiliki kekuatan atau tidak, asalkan dia tulus kepadanya itu sudah cukup!


Sekarang saat melihat Aron seperti ini, jelas sekali kalau Aron sangat menyayangi pacarnya!


Arthur dan yang lainnya menertawakan Aron yang mempermalukan dirinya, saat ini mereka tidak ingin segera membunuh Aron.


Namun saat Aron bergumam, sosok manusia yang terbentuk dari kabut hitam itu langsung masuk ke dalam tubuh Aron!


Tubuh Aron tersentak dan seketika sepasang matanya kembali membeku!


Kening Aron memancarkan cahaya keemasan selama beberapa saat lalu dia langsung terjatuh ke tanah.


Perubahan yang mendadak ini membuat semua orang tercengang, bahkan August juga tidak tahu apa yang sedang terjadi.


“Hahaha, ini adalah tubuh inang idamanku, tubuh fisik yang keras, kekuatan yang kokoh, semua ini merupakan yang saya inginkan…”


Di dalam benak Aron sebuah suara tua tertawa dengan liar.


Ternyata, roh yang berada di dalam tubuh August saat ini langsung masuk ke dalam tubuh Aron!


Baik dari fisik maupun kekuatan, Aron jauh lebih kuat dibandingkan August, jadi sejak awal roh ini sudah tertarik pada tubuh Aron.


Dan dia menggunakan alasan mengolok-olok Aron agar rohnya bisa masuk ke dalam tubuh Aron.


Pada saat ini, Aron perlahan-lahan bangkit berdiri, matanya kembali jernih namun ekspresinya menjadi sangat jelek!


“Aron…”

__ADS_1


Melihat Aron yang pulih, Lion bergegas memanggilnya.


Namun Aron tidak memedulikan Lion, dia terus mengernyitkan keningnya dan memejamkan sepasang matanya.


“Aron, asalkan kamu melakukan apa yang saya perintahkan dengan patuh, maka kita berdua bisa saling melengkapi dan saya dapat membunuh beberapa orang yang ada di hadapanmu ini…”


Suara tua itu terdengar di dalam kepala Aron.


“Siapa kamu?” Aron menggunakan kesadaran spiritualnya dan berbicara kepada orang yang ada di dalam benaknya itu.


“Kamu tidak perlu tahu siapa saya, kamu hanya perlu mendengarkan perkataanku, kalau bukan karena saya sekarang kamu pasti sudah menjadi mayat.”


“Sekarang saya masuk ke dalam tubuhmu, kalau kamu tidak mendengarkanku maka saya akan merebut pikiranmu lalu bunuh diri, dan kamu akan mati di hadapan semua orang…”


Suara tua itu mulai mengancam Aron.


Aron berkata lalu kesadaran spiritual di dalam benaknya langsung meningkat dan menekan roh itu!


Roh itu tampak tercengang, dia tidak menyangka kesadaran spiritual Aron akan sekuat ini, aliran cahaya segera melintas dan Aron merasakan sakit kepala lalu tubuhnya mulai bergetar seperti tersengat listrik.


Namun meskipun begitu Aron masih memegang kendali atas tubuhnya sendiri, mengandalkan kesadaran spiritual yang kuat untuk melawan roh itu!


August yang melihat ini seolah teringat sesuatu, kesadaran spiritual di benaknya menyapu dan menyadari bahwa roh di dalam tubuhnya sudah tidak ada.


Saat ini sepasang mata August memerah dan menatap Aron dengan penuh kecemburuan dan kemarahan!


__ADS_1


Menghadapi Aron, bahkan roh yang ada di dalam tubuhnya juga ingin meninggalkannya, ini membuat August sangat sedih!


“Aron, matilah…”


August meraung marah, tubuhnya diselimuti dengan cahaya hitam dan menghantamkan tinjunya ke arah Aron.


Meskipun Aron sedang bertarung melawan roh di dalam tubuhnya, namun kekuatan spiritual di dalam Dantiannya tidak terpengaruh.


Melihat tinju August melayang ke arahnya, Aron melayangkan tamparannya.


Tubuh August terlempar oleh tamparan yang ganas itu.


Tamparan ini langsung membuat August memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, kekuatan August berkurang pesat tanpa kehadiran roh di dalam tubuhnya!


“Mengapa, mengapa ini terjadi…”


August bangkit berdiri dan menggertakkan giginya lalu menyerang Aron lagi : “Kenapa kamu mengkhianatiku, kenapa…”


August meraung, membuat Arthur dan yang lainnya menatapnya dengan bingung, mereka tidak mengerti mengapa August menggila seperti ini.


Mengapa dia mengatakan Aron mengkhianatinya?


Mengkhianati apa?


Mereka tidak tahu kalau August mengatakan hal ini kepada roh yang ada di dalam tubuh Aron.


__ADS_1


__ADS_2