
Gera melihat situasi di depannya berteriak dengan dingin : “Kalian siapa pun yang menyerang, sama saja.”
Setelah berbicara, sebuah cahaya ungu mulai bersinar di telapak tangan Gera, lalu mengarahkan serangan itu ke Amon.
Amon menatap serangan Gera dan tidak panik sama sekali, di saat Gera tiba di hadapannya, dia tiba-tiba mengangkat tangannya untuk menyambut.
Piak…
Suara yang nyaring dan keras terdengar, dan sebuah tamparan mendarat dengan keras di wajah Gera.
Tubuh Gera terpelanting ke belakang dan menghantam tanah.
Separuh wajahnya langsung memerah dan bengkak.
Darah mengalir dari sudut mulutnya.
“Hanya dengan kemampuan ini juga berani macam-macam di Lembah Iblis? Kalau menginginkan orang, suruh kakak pertamamu yang datang!”
Amon menatap Gera dengan dingin, keinginan membunuh mulai memancar dari tubuhnya.
Raut wajah Gera menjadi sangat jelek.
Dia tidak menyangka perbedaan kekuatan antara dirinya dan Amon akan sebesar itu.
“Tuan kedua…”
Kepala pelayan segera memapah Gera berdiri lalu berbisik dan membujuk : “Tuan kedua, sebaiknya kita pulang untuk membuat perencanaan jangka panjang, kekuatan Lembah Iblis memang terlalu kuat.”
Kali ini Gera tidak mengatakan apa pun lagi, tamparan Amon tadi sudah membuat dia menyadari perbedaan antara dirinya dan Lembah Iblis.
“Hm, kalian tunggu saja, Keluarga Galah tidak akan membiarkan ini begitu saja…”
__ADS_1
Gera menatap tajam ke arah Empat Tetua Iblis.
“Sialan, kamu masih berani mengancam kami, saya rasa kamu benar-benar tidak ingin pergi dari sini lagi…”
Salomo sudah tidak senang dengan Gera, dia melompat dan menghalangi di depan pintu.
Gera yang melihat itu langsung menunjukkan ekspresi canggung.
Dia hanya ingin berbicara kasar untuk membuat dirinya bisa keluar dengan baik dari situasi ini.
Tidak disangka, Salomo benar-benar menghalangi mereka.
Kalau Lembah Iblis benar-benar ingin menghalangi mereka, maka Gera tahu tidak satu pun dari mereka bisa lolos.
“Adik ketiga, kembali…”
Amon berkata kepada Salomo.
Gera yang melihat Salomo menyingkir segera membawa orangnya pergi.
“Sialan, saya pasti akan menghancurkan Lembah Iblis!”
Setelah berjalan pergi, Gera berkata dengan raut wajah marah.
“Tuan kedua, kamu jangan gegabah, kita bicarakan lagi setelah tiba di rumah!”
Kepala pelayan berkata kepada Gera.
Gera mengangguk, sekarang dia sudah meremehkan kekuatan Lembah Iblis dan orang-orang yang dibawanya jelas tidak cukup.
Jadi dia akan pulang dan kembali mengatur pasukannya.
__ADS_1
Di saat Gera memimpin bawahannya kembali, seorang pria muncul dari persembunyiannya, melihat Gera yang beranjak pergi, dia juga segera pergi.
Sedangkan di kediaman Keluarga Himawan di Kota Dama, Robi segera mendapatkan kabar ini!
“Tuan Muda, Gera sudah meninggalkan Lembah Iblis, sepertinya dia dipukuli, wajahnya tampak bengkak!”
Bawahan Keluarga Himawan segera melapor kepada Robi.
Robi yang mendengarnya membanting meja dengan kesal : “Sialan, Gera ini benar-benar tidak berguna, baru ditampar sudah langsung pergi, tidak punya keberanian ya? Saya kira Keluarga Galah akan bertarung habis-habisan dengan Lembah Iblis!”
Robi sudah mengumpulkan para anak buahnya dan menunggu saat kedua belah pihak berada dalam kondisi sekarat, dia akan membawa pasukannya untuk menyerang.
“Tuan Muda, kamu juga jangan terburu-buru, Keluarga Galah tidak akan membiarkan hal ini begitu saja, percayalah Keluarga Galah yang kembali ke Kota Dawa pasti akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi.”
Kepala pelayan Keluarga Himawan membujuk Robi.
“Saya khawatir Keluarga Galah sama sekali bukan tandingan Lembah Iblis, jika pada saatnya mereka ketakutan, maka rencanaku akan sia-sia…”
Robin takut Gera akan ketakutan dan tidak berani mencari masalah dengan Lembah Iblis.
“Tuan Muda, tidak akan, Keluarga Galah adalah salah satu keluarga terbesar di Kota Dawa, kekuatan mereka sangat kuat dan hampir semua keluarga dan klan bela diri di Kota Dawa sangat mematuhi mereka.”
“Kali ini, Gera kembali pasti untuk mengumpulkan pasukan yang lebih besar jumlahnya, kita tunggu saja dengan sabar…”
Kepala pelayan Keluarga Himawan menjelaskan.
“Ya, kita hanya bisa menunggu…”
Robi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1