
“Kak…kakak, kapal pesiar kami hanya memiliki satu penumpang, ditambah dengan para awak kapal maka hanya ada lima belas orang…”
Awak kapal itu berkata dengan gagap.
Piak!
Bajak laut itu seketika menampar awak kapal itu dengan keras.
“Dasar bodoh, kamu mau membohongi siapa? Kapal pesiar sebesar ini hanya memiliki satu penumpang?”
Bajak laut itu sama sekali tidak percaya.
Mulut awak kapal itu penuh dengan darah setelah ditampar, dia berkata dengan wajah sedih : “Kakak, benar, benar-benar hanya ada satu penumpang, jika tidak percaya kalian bisa memeriksanya…”
Melihat hal ini, bajak laut itu mengedipkan matanya ke arah bajak laut lain dan beberapa bajak laut itu langsung pergi untuk memeriksa.
Tidak lama kemudian, semua awak kapal digiring ke dek dan pada saat itu Aron sedang duduk bersila di kamarnya dan berkultivasi.
Bang…
Tiba-tiba suara dentuman keras terdengar dan pintu kamarnya ditendang hingga terbuka.
Aron segera membuka matanya, dan tidak menunggu Aron bergerak, dua buah pisau yang berkilau sudah berada di leher Aron.
“Jangan bergerak, kalau berani bergerak maka saya akan memenggalmu…”
Aron melirik ke arah orang yang menerobos masuk, mengenakan pakaian serba hitam dan tubuh mereka memancarkan aura seorang Master.
__ADS_1
Awalnya Aron ingin menyerang, namun saat merasakan dua orang itu hanyalah Master, Aron kehilangan niat untuk menyerang.
Dia tahu mereka pasti tidak datang kemari untuk mencarinya, karena tidak akan ada orang yang mengirim dua orang Master untuk datang mencarinya.
Bukankah itu sama saja dengan mengirim mereka ke kematian.
“Saudara, siapa kalian? Apa yang kalian inginkan, kalian bisa memberitahuku, asal jangan menyakitiku!”
Aron bertanya sambil berpura-pura ketakutan.
“Kami adalah bajak laut dari Pulau Tengkorak, bisa jatuh ke tangan kami, terima saja nasibmu!”
Salah seorang bajak laut itu berkata dan menarik Aron lalu membawanya ke dek.
“Ketua, memang hanya ada satu penumpang di sini…”
Melihat belasan orang yang meringkuk ketakutan di depannya, bajak laut dengan tengkorak merah di dadanya mengernyitkan keningnya.
“Sial, sungguh sial!” Setelah mengumpat, dia lalu berkata : “Hanya sedikit orang ya sudah, bawa mereka semua kembali.”
“Ketua, orang-orang ini hanya orang biasa, tidak satu pun dari mereka yang merupakan ahli bela diri, apakah Bos akan marah saat kita kembali nanti?”
Seorang bajak laut bertanya dengan hati-hati.
“Bicarakan lagi nanti!”
Bajak laut dengan tengkorak merah di dadanya mengibaskan tangannya dengan tidak sabar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, kapal pesiar mulai melaju dan menuju ke arah matahari.
Aron dan yang lainnya dikunci di dalam sebuah kamar, dan semua awak kapal itu gemetar ketakutan, bahkan ada yang sedang menangis.
Hanya Aron yang melihat keluar jendela ke arah laut yang tidak berujung dengan ekspresi bingung.
Aron sedikit tidak mengerti, mengapa seseorang dengan kekuatan Master bisa menjadi seorang bajak laut?
Meskipun kekuatan Master tidak ada apa-apanya di komunitas bela diri di beberapa kota besar, tapi jika di kota-kota tingkat tiga atau empat, itu merupakan eksistensi yang hebat.
Seperti di Kota Lamar, Kota Sanur, kota-kota kecil seperti itu meskipun perekonomiannya berkembang dengan baik, tapi tidak banyak orang-orang dari komunitas bela diri di sana, apalagi seseorang dengan kekuatan Master.
Pergi ke kota kecil seperti itu dengan kekuatan Master juga akan dihormati oleh orang, kenapa malah lari ke laut dan menjadi bajak laut?
Entah setelah berapa lama, sebuah pulau kecil mulai perlahan-lahan muncul di hadapan mereka.
Pulau itu kecil dan penuh dengan bebatuan gundul, hampir tidak ada tumbuhan yang terlihat.
Saat mendekat, Aron dan yang lainnya digiring ke perahu motor cepat lalu berlayar menuju pulau kecil itu.
Saat tiba di pulau, terlihat pulau itu dipenuhi dengan kerangka hewan yang tersebar di mana-mana.
Namun, di antara kerangka-kerangka itu Aron menemukan ada banyak kerangka tengkorak manusia.
Hanya saja, satu-satunya bagian yang hilang dari kerangka itu adalah tengkorak kepala.
Dan ada bau darah yang sangat menyengat di pulau itu.
__ADS_1