
Setelah bersemangat selama sesaat, Aron akhirnya perlahan-lahan menjadi tenang.
Setelah menyimpan Pil Kehidupan, Aron berkata pada Alfat : “Tetua Alfat, bawalah beberapa tetua untuk bekerja agak keras malam ini, buatkanlah puluhan Pil Pelatihan Tubuh, saya akan membawanya pergi besok pagi…”
Aron berencana memberikan Pil Pelatihan Tubuh kepada anggota Detasemen Perlindungan Hukum Kota Dama, dengan begitu mereka bisa meningkatkan kekuatan mereka secepat mungkin.
“Penguasa Lembah, tidak perlu khawatir kami akan meramu pil obat sepanjang malam dan pasti akan menyelesaikan pekerjaan kami…”
Alfat berkata sambil mengangguk.
Aron meninggalkan Aula pengobatan dan bersiap untuk beristirahat kembali ke kamarnya, tapi Nely terus mengikuti Aron.
Meskipun dia baru berpisah dua hari dari Aron, tapi Nely merasa dia sudah tidak bisa meninggalkan Aron lagi, dan ingin bersama dengannya setiap saat.
“Sudah selarut ini, kamu tidak pergi tidur dan terus mengikuti saya, untuk apa?”
Aron melihat Nely yang terus mengikuti dirinya merasa jantungnya berdebar kencang.
Gadis ini begitu terus terang, dan kalau Aron sampai tidak hati-hati dia bisa kehilangan kepolosannya pada Nely.
Kalau begitu dia akan bersalah pada Nuri.
“Lukamu belum sembuh total saya tentu saja harus menjagamu…”
Kata Nely.
__ADS_1
“Sudahlah, lukaku sudah sembuh, tidak perlu kamu jaga…”
Aron mengibaskan tangannya dengan tergesa-gesa, lalu melompat beberapa kali untuk mengisyaratkan dia sudah tidak terluka.
“Kalau saya bilang kamu belum sembuh ya belum sembuh, seorang pria dewasa sepertimu cerewet sekali…”
Nely tiba-tiba mendorong Aron masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu kamar.
“Apa yang kamu lakukan?” Aron tercengang.
“Malam ini saya mau menjagamu disini, tidur denganmu…”
Nely berkata dengan terus terang.
“Tidak boleh, wanita dan pria tidak boleh berduaan di dalam kamar, itu akan berpengaruh tidak baik…” Aron menggelengkan kepalanya dengan tegas.
“Tapi saya takut, saya adalah pria yang polos, kalau…kalau…”
Aron tidak tahu bagaimana dia harus melanjutkan perkataannya.
“Tenang saja, walau saya tidur satu kamar denganmu, saya tidak akan melakukan apapun padamu, kamu benar-benar menyamakanku dengan wanita-wanita murahan itu, kalau kamu tidak mengizinkan saya tidak akan menyentuhmu…”
Nely memutar matanya pada Aron.
Perkataan Nely begitu janggal di telinga Aron, bukankah itu seharusnya diucapkan seorang pria kepada wanita?
__ADS_1
Hari ini sebaliknya, malah Nely yang mendominasi.
Aron menatap Nely dengan pasrah, dan pada akhirnya dia hanya bisa tidur dengan mengenakan pakaian.
Hanya saja, malam itu Nely juga tidak menyentuh Aron, dia hanya diam-diam mencium Aron, Aron sudah tahu sejak awal, hanya saja agar situasi tidak menjadi canggung, Aron berpura-pura tidur, tidak masalah selama Nely tidak melakukan hal aneh.
Keesokan paginya, Alfat mengantarkan Pil Pelatihan Tubuh yang sudah disiapkan, saat melihat Aron dan Nely berjalan keluar dari kamar yang sama, dia tersenyum tipis.
“Penguasa Lembah, Pil Pelatihan Tubuh sudah disiapkan, lalu saya juga sudah membuatkan sebuah Pil Tahan Lama , saya rasa pasti akan membantu Penguasa lembah, setelah Penguasa Lembah memakan Pil Tahan Lama walau harus bertarung selama tiga ratus ronde juga bisa diatasi dengan mudah…”
Alfat berkata sambil mengedipkan matanya pada Aron.
Aron tercengang, lalu akhirnya memahami apa yang dimaksud oleh Alfat, ternyata ada pil obat seperti Pil Tahan Lama ini, pemberian namanya juga cukup berani.
“Tetua Alfat, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, saya dan Nely tidak melakukan apapun, Pil Tahan Lama ini tidak ada gunanya untukku, kamu simpan saja untuk dirimu sendiri…”
Aron menjelaskan dengan canggung.
“Tetua Alfat, kamu benar-benar meremehkan Aron, dia seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, mana memerlukan benda seperti ini, kamu tidak tahu seganas apa dia di malam hari…”
Nely berkata dengan senyuman puas di wajahnya.
“Saya mengerti, saya mengerti…”
Alfat tersenyum dan menyimpan kembali Pil Tahan Lama .
__ADS_1
“Bicara sembarangan apa kamu?” Aron berteriak pada Nely, lalu menatap Alfat dan berkata : “Tetua Alfat, jangan dengarkan omong kosongnya, kami benar-benar tidak melakukan apapun…”