
Setelah berkata, Tetua Ketiga berjalan menuju dinding batu!
"Tidak usah repot-repot!” Aron berkata dengan ringan, dia menjentikkan jarinya dan sebuah cahaya merah menyala!
Dan saat menyentuh mantra pelindung, cahaya merah itu menyebar dengan cepat lalu menghilang!
Setelah melakukan semua itu, Aron berkata dengan ringan : “Ayo!”
Tatapan mata Tetua Ketiga terlihat tidak percaya, jakunnya bergulir dua kali dan kemudian memimpin jalan!
Robet yang terus mengikuti dari belakang saat ini sudah melihat kekuatan Aron, dan wajahnya terasa panas, dia terus mengira Aron adalah Tuan Muda yang tidak bisa apa-apa, tapi tidak disangka ternyata kekuatan Aron begitu luar biasa!
Saat ini dia akhirnya mengerti, kenapa Eddyt memintanya untuk menjemput Aron, dan kenapa Eddyt berani mengutus dirinya dan bawahannya untuk menghancurkan Lembah Ilusi, itu semua karena keberadaan Aron, yang membuat Eddyt merasa tenang!
Setelah berjalan ratusan meter, cahaya menjadi semakin redup dan suhu juga semakin rendah, dan membuat orang yang merasakan kesejukan ini merasa takut!
Chika yang kedinginan mengencangkan kerahnya dengan erat, Mars memanfaatkan kesempatan ini untuk memeluk Chika, agar dia merasa sedikit hangat, dan Chika juga tidak melawan!
“Siapa, yang berani menerobos ke dalam Lembah Ilusi…..”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan, dan tidak jauh di depan Aron dan yang lainnya, tiga lelaki tua muncul dan aura mereka terlihat luar biasa.
“Kakak pertama………”
__ADS_1
Tetua Ketiga bergegas berteriak!
“Adik ketiga? Bukankah kamu sudah mati?” Tetua Pertama berkata dengan kaget!
Dia jelas-jelas mendengar Picak mengatakan kalau Tetua Ketiga sudah mati, dan kelabangnya juga sudah mati, kenapa masih bisa muncul di hadapannya!
“Kakak pertama, saya belum mati, dengarkan penjelasanku…….”
Tetua Ketiga bergegas berjalan maju!
Aron takut Tetua Ketiga akan bermain trik, jadi dia juga bergegas mengikutinya, jaraknya hanya selangkah lagi dari Tetua Ketiga dan asalkan Tetua Ketiga berani bergerak, Aron bisa menamparnya hingga mati!
Dengan jarak yang begitu dekat, ketiga tetua itu juga dapat melihat dengan jelas Aron yang ada di belakang Tetua Ketiga!
Tiga tetua itu seperti bertemu dengan musuh besar, dan meledakkan keinginan bertarung!
“Kakak pertama, kakak kedua, adik keempat, kalian jangan turun tangan dulu, dengarkan penjelasanku dulu……”
Tetua Ketiga bergegas menghalangi tiga orang itu, lalu menjelaskan : “Kakak pertama, saya tidak mati, Tuan Aron yang mengeluarkan kelabang dari dalam tubuhku dengan paksa, dan kelabang itu mati saat terkena sinar matahari, oleh karena itu kelabang yang ada di dalam pot Picak juga mati.”
“Bagaimana mungkin, kelabang itu sudah lama menjadi satu dengan tubuh kita dan menghisap darah kita selama bertahun-tahun, bagaimana mungkin bisa dipaksa keluar?”
Tetua Pertama tidak mempercayainya sama sekali!
__ADS_1
“Kakak pertama, bukankah sekarang saya masih hidup, tentu saja benar, kita tidak perlu lagi dikendalikan oleh Isaah, dan putri dari Penguasa Lembah Jon juga sudah datang….”
Tetua Ketiga berkata sambil menunjuk Chika.
Tiga tetua itu melihat ke arah Chika, dan ekspresi suram terlihat di wajah mereka, saat ini mereka tidak tahu harus berbuat apa!
“Kakak pertama, kita membantu Isaah melakukan begitu banyak perbuatan berdosa demi bertahan hidup, dulu Penguasa Lembah Jon tidak pernah bersikap kejam kepada saudara-saudara kita, sekarang kita bisa melepaskan kendali dari kelabang, kenapa kita harus mengorbankan hidup untuk Picak lagi?”
Tetua Ketiga melihat ketiga tetua tidak berbicara, dan bergegas membujuk mereka!
Karena dia tahu, kalau benar-benar terjadi pertarungan, mereka tidak akan menjadi lawan Aron, kekuatan Aron sudah melebihi batas imajinasi mereka!
Tetua Pertama terlihat ragu-ragu sejenak, demi bertahan hidup mereka sudah dianiaya selama bertahun-tahun, dan sekarang ada harapan mereka bisa lepas dari kendali itu, tapi dia tidak berani bertaruh, kalau sampai kalah maka bayarannya adalah nyawanya, Picak tidak akan melepaskan mereka, walau mereka melarikan diri ke ujung dunia, nyawa mereka ada di tangan Picak!
“Saya saja!” saat Tetua Pertama ragu-ragu, Tetua keempat berjalan maju dan berkata pada Aron : “Aron, kalau kamu benar-benar bisa mengeluarkan kelabang ini dari dalam tubuhku, dan tidak dikendalikan oleh Picak lagi saya tidak akan menjadi musuhmu, kalau kamu berani membohongi kami, maka jangan salahkan kami tidak segan-segan padamu……”
“Kamu sedang mengancamku?” Aron bertanya dengan dingin.
“Kamu bisa menganggapnya seperti itu!” Tetua Keempat mengangguk!
“Selain mendengarkanku, apa kalian punya pilihan lain? Menjadi musuhku, kalian kira kalian pantas…..”
__ADS_1