
“Tidak disangka Dika akan begitu keras kepala…..”
Setelah selesai bicara Alfat melambaikan kedua tangannya dan sebuah pelindung yang terlihat dengan mata telanjang langsung membungkus Aron dan Dika di dalamnya.
Dengan begini, walau Dika meledakkan dirinya itu tidak akan mempengaruhi orang lain di stadion, jika tidak, seorang Great Grand Master yang meledakkan dirinya akan menyebabkan banjir mayat di lokasi kejadian.
Tapi dengan begini, Aron tidak memiliki cara untuk melarikan diri juga, dan hanya bisa menahan ledakan energi dari dalam tubuh Dika.
Kekuatan di dalam tubuh Dika mulai meningkat dengan cepat dan tubuhnya juga membengkak seperti dipompa.
Dika menatap Aron dengan tatapan mata yang tidak puas dan marah, hanya saja sayangnya dia tidak bisa berbicara saat ini, jadi dia hanya bisa menggunakan tatapan matanya untuk mengekspresikan emosinya.
Melihat penampilan Dika yang begitu ganas, Aron tidak merasakan rasa takut sedikit pun melainkan dia malah merasa senang.
“Kamu terlihat sangat gemuk sekarang, imut sekali….
__ADS_1
Aron menyeringai dan disusul dengan semburan kabut berwarna putih yang muncul dari tubuhnya, dan segera kabut berwarna putih dari tubuh Aron bersatu dengan kabut merah dari tubuh Dika.
Kabut menyelimuti kedua orang itu dan membuat orang lain tidak bisa melihat sosok mereka berdua.
Dika sangat terkejut, dia tidak mengerti kenapa Aron tidak takut, seorang Great Grand Master hendak meledakkan dirinya, dan sudah beberapa ratus tahun belum pernah ada orang yang mendengar Great Grand Master meledakkan dirinya, tapi Dika adalah Great Grand Master pertama yang terpaksa meledakkan dirinya karena Aron.
Awalnya Dika mengira dia bisa melihat Aron menjadi panik sebelum mati, tapi sayangnya dia salah, Aron bukannya takut malah memasang senyuman di wajahnya dan ini membuat Dika sangat bingung.
Tapi saat Dika sedang bingung, dia merasa ada hal yang lebih luar biasa terjadi, dia hanya bisa merasakan energi di dalam tubuhnya terkuras dengan cepat.
Untuk meledakkan diri seluruh energi harus dikumpulkan di dalam Dantian, lalu meledakkan Dantian, tapi kalau energinya bocor, tidak akan bisa meledakkan diri.
Dan saat Dika menatap dengan seksama, sebuah adegan yang tidak akan pernah dia lupakan terjadi, dia melihat Aron yang tersenyum di depannya membuka sedikit mulutnya dan semua kabut merah yang keluar dari tubuhnya disedot oleh Aron.
Dika tercengang, dia tidak mengerti kultivasi seperti apa yang dilakukan Aron, bagaimana mungkin dia menyedot energi dari orang lain ke dalam tubuhnya?
__ADS_1
Dan saat Dika ingin menghentikan energinya yang bocor, dia menyadari kalau dia tidak punya cara untuk menghentikannya, dan hanya bisa menatap dengan pasrah energi di Dantiannya diserap habis.
Pada saat ini, Dika bahkan tidak memiliki kesempatan untuk meledakkan diri, tubuhnya yang semula menggembung juga menyusut dengan cepat dan pada akhirnya hanya tersisa kerangkanya saja.
Sampai mati pun Dika tidak mengerti kekuatan seperti apa yang dimiliki oleh Aron.
Waktu terus berlalu menit dan detik, tapi Dika yang hendak meledakkan diri tidak kunjung meledak, dan semua orang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Dan saat kabut putih itu menghilang, sosok Aron dan Dika terlihat hanya saja, Aron terlihat masih berdiri sedangkan Dika sudah terbaring di tanah dengan tubuh kurus kering, dan sepasang matanya terbuka lebar dan tidak bernafas lagi.
Melihat pemandangan itu semua orang sangat kaget, Alfat melambaikan tangannya dan menghilangkan penghalang itu dan bergegas maju.
Banyak orang yang berkerumun dan ingin melihat apakah Dika sudah benar-benar mati.
“Dika……sudah mati….”
__ADS_1
Setelah ada orang yang memastikan seluruh lokasi menjadi hening, mereka tidak habis pikir, Dika yang hendak meledakkan dirinya kenapa malah berhenti di saat saat terakhir?