Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Terselamatkan


__ADS_3

Sebuah cahaya lembut dan damai menyinari tubuh Aron, membuat aura di tubuh Aron seketika menjadi lemah dan kesadaran spiritual Aron juga menjadi kabur disinari oleh cahaya itu.


Stupa itu turun dari langit, namun di saat itu, tatapan mata Aron bersinar dengan cemerlang dan kesadaran spiritual di dalam tubuhnya pulih, aura di dalam tubuhnya juga mulai menyatu!


“Hentikan…”


Di saat stupa itu akan menekan Aron, tiba-tiba Lion muncul dan berdiri bersama dengan Aron.


Rafael yang melihat itu segera melambaikan tangannya dan stupa besar yang ada di udara langsung menghilang.


“Ayah, apa yang sedang kamu lakukan?”


Lion menatap ayahnya sendiri dengan bingung.


Sedangkan seorang wanita paruh baya juga ikut berjalan masuk bersama dengan Lion, dan dia adalah ibunya Lion.


Melihat rumahnya yang hancur, ibu Lion juga menatap Rafael dengan ekspresi bingung : “Rafael, apa yang terjadi di sini?”


Raut wajah Rafael menjadi lebih jelek lagi dan berkata dengan muram, “Kalian tidak perlu ikut campur, segera tinggalkan tempat ini.”


“Ayah, kenapa kamu menyerang Saudara Aron? Kalau kamu tidak menjelaskannya saya tidak akan pergi.”


Lion ingin tahu, kenapa dua orang yang tadinya baik-baik saja saat dia beranjak tiba-tiba berkelahi.


Raut wajah Rafael menjadi muram, dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada Lion.


Dia tahu dengan jelas bagaimana karakter putranya ini.

__ADS_1


Kalau tidak, dia juga tidak akan mencari alasan untuk membuat Lion pergi.


“Ayahmu menginginkan Kristal Naga di dalam tubuhku, lalu diberikan kepadamu…”


Rafael tidak mau bicara, maka Aron yang di sampingnya yang berbicara.


Lion yang mendengar itu seketika terlihat sangat marah, lalu menatap Rafael : “Ayah, apakah yang dikatakan oleh Saudara Aron benar?”


“Lion, apa pun yang kulakukan itu semua demi kebaikanmu, kamu memiliki kekuatan paling lemah di seluruh generasi muda, membuat banyak orang yang menghina dan mengkritikmu.”


“Kalau bukan karena saya berada di depan, kamu kira dengan kekuatanmu sekarang, kamu masih bisa menyombongkan dirimu di Kota Dama?”


Rafael menegur Lion.


“Saya tidak perlu, kekuatanku lemah atau kuat, saya akan berlatih dengan mengandalkan kemampuanku sendiri, saya tidak perlu merebut barang orang lain untuk meningkatkan kemampuanku.”


“Apa bedanya perilaku seperti ini dengan para Kultivator Iblis? Untuk apa setiap hari kamu selalu mengatakan kamu adalah keluarga bela diri yang benar, tidak akan sudi menjadi sama seperti orang-orang yang tergabung dalam Aliansi Seni Bela Diri.”


“Apakah kamu sudah memperhitungkannya sejak awal, agar saya membawa Saudara Aron kemari, lalu kamu mencari cara untuk mengusirku lalu menyerang Saudara Aron?”


“Kamu benar-benar sangat tidak tahu malu…”


Lion berteriak dengan marah kepada ayahnya sendiri, suaranya menjadi serak dan tatapannya penuh dengan kemarahan.


“Bajingan…”


Rafael melihat putranya sendiri berani memakinya seperti itu, seketika mengamuk dan mengulurkan tangannya untuk memukul Lion.

__ADS_1


Namun ibu Lion menariknya dengan erat.


“Apa yang ingin kamu lakukan? Kalau kamu berani memukul putraku, saya tidak akan membiarkanmu…”


Ibu Lion membentak Rafael dengan penuh kemarahan.


Rafael menatap istrinya sendiri dan kemarahannya seketika mereda.


Dalam masyarakat ini, tidak peduli betapa tinggi status seseorang, takut dengan istri sudah hampir menjadi sebuah kebiasaan.


“Saudara Aron, saya meminta maaf padamu, jika ada kesempatan saya akan mencarimu secara pribadi untuk menebus kesalahan, kamu pergilah…”


Lion berkata dengan penuh rasa bersalah sambil menatap Aron.


Aron menatap Lion dan tidak mengatakan apa pun, dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan, jadi dia berbalik dan hendak pergi.


“Tidak boleh pergi…”


Rafael melihat Aron yang hendak pergi segera mencoba untuk menghentikan.


“Kalau kamu berani menghalangi, maka saya akan mati di hadapanmu.”


Lion mengeluarkan sebuah belati dan langsung menaruhnya di lehernya sendiri.


Ibu Lion yang melihat hal ini seketika ketakutan dan raut wajahnya langsung berubah, dia segera berkata dengan gemetaran : “Putraku, dengarkan perkataan ibu, letakkan belati itu, jangan melakukan hal bodoh.”


​“Lepaskan Saudara Aron, kalau tidak saya akan mati di sini agar keturunan Keluarga Dayo terputus selamanya.”

__ADS_1


Lion menatap Rafael dan mengancamnya.



__ADS_2