
“Saudara Aron, kenapa terburu-buru? Kalian belum makan siang kan? Bagaimana kalau makan dulu?”
Tedi tidak menyangka Aron akan begitu terburu-buru, dan bergegas kemari sebelum makan.
“Tidak ada waktu lagi, ayo berangkat sekarang….”
Aron menarik Tedi dan pergi.
Baru saja mereka keluar, mereka bertemu dengan Yumi dan Yuri dua orang kakak beradik itu terkejut saat mereka melihat Aron.
Dalam sekejap mata, karena sudah lama tidak bertemu dengan Aron, dan kembali bertemu dengan Aron di Kota Lingau membuat hati Yumi yang awalnya sudah tenang kembali sedikit bergejolak.
“Kakak ipar, kapan kamu datang kemari? Dimana Kak Nuri?”
Nuri sangat senang melihat Aron dan bertanya padanya.
“Kakakmu tidak ikut, saya datang kemari karena ada sedikit urusan dengan Kak Tedi….”
Setelah Aron berkata, dia menarik Tedi pergi, karena waktunya terlalu mendesak dia tidak punya waktu untuk mengobrol dengan dua kakak beradik itu.
Saat Aron melewatinya, Yumi membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
“Yumi, kamu dan Yuri makan saja dulu, jangan menungguku, saya akan kembali setelah menyelesaikan urusanku dengan saudara Aron…”
Tedi berkata pada Yumi.
Yumi tidak berbicara, dia hanya diam-diam menatap punggung Aron yang masuk ke dalam mobil dan tidak bergerak hingga mobil itu tidak terlihat lagi.
Yumi ketakutan setengah mati saat berada di kediaman Keluarga Wisono di Kota Taka saat itu, dia sudah mempersiapkan diri untuk mati, dan pada saat dia putus asa, sosok Aron muncul dan dia tidak akan pernah melupakan adegan saat Aron muncul itu selamanya.
“Kak, kamu dan Aron itu tidak ditakdirkan bersama, jangan pikirkan lagi, lagipula Aron adalah pacarnya kak Nuri, kamu tidak bisa merebutnya dari Kak Nuri kan?”
Yuri sebenarnya sudah mengetahui isi hati Yumi sejak awal, sejak Yumi diselamatkan oleh Aron dari kediaman Keluarga Wisono di Kota Taka, Yumi sangat banyak berubah.
Hubungan Yumi dan Tedi yang awalnya sangat baik, mulai sering bertengkar sejak saat itu, sedangkan Yumi juga sering membandingkan Tedi dengan Aron, hanya saja karena sudah lama, perasaan Yumi pada Dave menjadi semakin redup, lagipula keduanya tidak mungkin bersama, dan tidak akan bertemu.
“Ayo masuk dan makan…..”
Yumi sendiri tahu setelah pertemuannya dengan Aron kali ini, entah kapan mereka akan bertemu lagi, mungkin selamanya tidak akan pernah bertemu lagi.
Namun saat ini Aron tidak tahu apa yang sedang Yumi pikirkan, dia hanya memikirkan bagaimana caranya dia bisa melihat ginseng puluhan ribu tahun itu secepat mungkin, dan tidak peduli apapun caranya dia harus mendapatkan ginseng puluhan ribu tahun itu, walaupun pada akhirnya harus merebutnya, Aron juga tidak akan melepaskan kesempatan itu.
Setelah tiba di Teras Obat, Tuan Imam sudah mendapatkan kabar dari Tedi sejak tadi, dan sudah membawa orang untuk menyambut Aron di depan, karena Pil Peremajaan milik Aron membuat dia menghasilkan banyak uang dan bagi dirinya Aron adalah Dewa Kekayaan.
__ADS_1
“Tuan Aron…….”
Tuan Imam melangkah maju dan membukakan pintu untuk Aron secara pribadi.
“Tuan Imam, mengenai ginseng puluhan ribu tahun itu, apakah itu benar?”
Begitu turun dari mobil Aron bergegas bertanya padanya.
“Benar, ginseng puluhan ribu tahun ini ditemukan oleh Keluarga Teguh di Provinsi Murra, hanya saja Keluarga Teguh tidak berurusan dengan bahan obat, jadi mereka menyebarkan berita dan ingin menemukan pembeli yang cocok….”
Tuan Imam menjawab dengan pasti.
Melihat Tuan Imam menjawab dengan penuh keyakinan, Aron akhirnya merasa lega, kalau ini memang benar maka akan mudah ditangani.
“Kalau begitu kamu ikut aku berangkat ke Provinsi Murra sekarang, nanti setelah mendapatkan ginseng puluhan ribu tahun itu, keuntunganmu tidak akan berkurang….”
Aron berkata dengan bersemangat.
“Baik, bisa bekerja untuk Tuan Aron saya mana berani menginginkan keuntungan!” Tuan Iman berkata dan mengeluarkan beberapa lembar tiket pesawat dari sakunya : “Saya sudah memesan tiket pesawat terlebih dulu, dan menunggu Tuan Aron datang kemari….”
Aron sangat senang saat melihat ini, dan dia sangat mengagumi Tuan Imam karena kecerdasan juga kelicikannya, pantas saja seorang pendatang bisa bertahan mencari nafkah di Kota Lingau.
__ADS_1
Aron bergegas berangkat ke bandara bersama Tuan Imam, Jekson dan Lyla, tapi Tedi tidak ikut.