Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Jebakan


__ADS_3

“Siapa kalian? Kalau kenal dengan kami maka segera enyah, jangan mengantar diri ke kematian!”


Gera berteriak pada belasan pria berbaju hitam itu.


Namun tidak disangka, belasan pria berbaju hitam itu tidak panik malah terkekeh dan berkata : “Tuan Gera, kami sudah lama menunggumu di sini…”


“Menungguku? Kenapa kalian menungguku?”


Gera merasa bingung.


“Menunggumu, tentu saja karena ingin membunuhmu!”


Seorang pria berbaju hitam tertawa.


“Saudara, Keluarga Galah tidak memiliki dendam apa pun denganmu, kenapa kalian mau membunuhku?”


“Kalau kalian dalam kesulitan, kalian bisa memberitahuku, saya pasti akan mengutus seseorang untuk mengirimkan banyak uang kepada kalian!”


Gera melihat tatapan acuh tak acuh pria itu, hatinya sudah tahu dengan jelas kalau dia sudah bertemu dengan orang yang tangguh.


“Saya sudah bilang, kami tidak mau uangmu, tapi menginginkan nyawamu!”


Pria berbaju hitam itu berbicara lalu langsung menyerang Gera.


Pria berbaju hitam lainnya juga langsung menyerang bawahan Keluarga Galah.


Seketika itu, Gera yang baru saja bertarung dalam pertarungan besar kini diserang lagi.


Tidak lama kemudian , para bawahan Keluarga Galah itu sudah tewas dan terluka, menyisakan Gera yang berjuang sendiri.


Pada akhirnya, Gera terlempar oleh sebuah tendangan dan menghantam tanah dengan keras.


Sebuah pisau tajam mendarat di leher Gera.


Gera bisa dibilang seorang pria yang cukup jantan, dihadapkan dengan kematian seperti ini dia juga tidak memohon belas kasihan, dan menatap pria berbaju hitam itu dengan dingin : “Siapa sebenarnya kalian?”

__ADS_1


“Walau ingin membunuhku, kamu juga harus membiarkanku mati dengan sebuah kejelasan, di tangan siapa saya mati.”


“Keluarga Galah kami tidak pernah mempunyai dendam dengan komunitas bela diri Kota Dama.”


Gera masih bertanya-tanya siapa orang yang ingin membunuhnya.


Lantas orang-orang dari Lembah Iblis mengejar?


Gera memikirkan kemungkinan itu namun segera menepisnya.


Lembah Iblis juga sudah mengalami kerugian yang besar, tidak mungkin menyisakan orang untuk mengejar mereka.


Jika mereka adalah orang-orang dari Lembah Iblis, juga tidak perlu berpakaian begitu hati-hati, sampai memakai topeng wajah.


“Karena kamu ingin tahu, maka saya akan memberitahumu!”


​Pada saat itu, seorang pemuda yang memegang kipas lipat di tangannya muncul dari samping.


“Tuan Muda Robi?”


Ternyata orang itu tidak lain tidak bukan adalah Robi.


“Tuan Muda Robi, sebenarnya ada apa ini?”


Gera bertanya dengan kebingungan.


Karena dia datang mencari Aron dan bertarung mati-matian dengan Lembah Iblis juga karena Robi.


Sekarang Robi tiba-tiba muncul di sini dan membuat Gera mengernyitkan keningnya.


“Tidak ada apa-apa, saya hanya ingin memberitahumu kalau orang yang ingin membunuhmu adalah saya?”


Robi tersenyum tipis.


Gera menatap Robi dengan tidak percaya : “Kenapa, kenapa kamu ingin membunuhku?”

__ADS_1


“Kedua keluarga kita sepertinya tidak memiliki dendam apa pun!”


Gera tidak mengerti, kenapa Robi ingin membunuhnya.


“Tidak mengapa, karena keponakanmu Rein, bukan dibunuh oleh Aron, tapi saya.”


“Saya hanya ingin meminjam tangan Keluarga Galah untuk membunuh Aron saja!”


“Tidak disangka, Keluarga Galah benar-benar sangat tidak berguna, jelas-jelas sampah!”


“Karena kamu sampah, maka tidak ada gunanya lagi tetap hidup!”


Robi berkata dan menyeringai!


Sedangkan Gera membelalak, raut wajahnya memerah karena marah.


Dia tidak menyangka, dia sudah dipermainkan oleh Robi.


Seluruh Keluarga Galah, seluruh komunitas bela diri Kota Dawa sudah mengorbankan begitu banyak.


Pada akhirnya itu adalah sebuah Jebakan.


“Kamu…kamu sangat hina, tidak tahu malu…”


Gera memelototi Robi dan menggertakkan giginya.


“Saya hina atau tidak sudah tidak penting, yang paling penting adalah kamu akan segera mati!”


Robi tersenyum lalu memerintahkan : “Lakukan…”


Sebuah kilatan cahaya dingin melintas dan leher Gera seketika menyemburkan darah!


Sampai akhir hayatnya, mata Gera masih membelalak, dia mati dengan keengganan dalam hatinya…


Melihat Gera yang sudah mati, Robi menyeringai : “Ayo, kita pergi ke Lembah Iblis…”

__ADS_1



__ADS_2