Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Berlututlah


__ADS_3

“Saya tidak tertarik dengan teknik kultivasi jahatmu yang tidak berguna itu…”


Aron menyipitkan matanya, dan tatapan matanya menjadi tajam dan dingin!


“Coba kamu katakan, apa yang kamu inginkan? Saya bisa memberikannya kepadamu…”


Wiwanto berkata dengan penuh ketakutan.


Aron perlahan-lahan menatap dada Wiwanto, dan tiba-tiba tersenyum sinis : “Saya menginginkan Dantian yang ada di dalam tubuhmu…”


Setelah Aron melontarkan perkataannya, Wiwanto seketika dipenuhi dengan kengerian!


Dantian, adalah sumber kekuatan dari seorang ahli bela diri, tanpa Dantian itu sama saja mereka sudah menjadi orang cacat, jika Dantian milik seorang kultivator hancur, dia masih dapat mengandalkan kultivasi untuk memulihkannya kembali, tapi ahli bela diri tidak bisa melakukan hal itu.


Sekarang Aron menginginkan Dantian Wiwanto, itu sama saja dengan menginginkan Wiwanto menjadi orang cacat bukan?


Kalau seperti itu, akan lebih buruk daripada langsung membunuh Wiwanto!


Seorang Ketua Dewan Aliansi Seni Bela Diri yang terhormat, menjadi seorang yang cacat, bagaimana Wiwanto bisa berhadapan dengan para keluarga bela diri itu di masa depan?


“Kumohon padamu, kumohon padamu, selain Dantian, saya…”


​Wiwanto memohon pada Aron, namun belum sempat menyelesaikan perkataannya, Aron melayangkan sebuah tinju ke arahnya.


Bam!


Tinju Aron menghantam dada Wiwanto dengan ganas, seluruh tinjunya menembus ke dalam tubuh Wiwanto!


Kekuatan yang ganas itu menembus Teknik Pelindung Tubuh Surgawi Wiwanto!


Krek…

__ADS_1


Terdengar suara retakan dan ekspresi Wiwanto seketika membeku, diikuti dengan tubuhnya yang merosot dengan cepat.


Tinju Aron langsung menghancurkan Dantiannya Wiwanto.


Seluruh energi Qi Wiwanto menghilang tanpa jejak dalam sekejap, dan dia berubah menjadi seorang manusia cacat.


“Kamu…kamu benar-benar menghancurkan Dantianku…”


Raut wajah Wiwanto menjadi pucat pasi.


Saat ini, Aron mengeluarkan tangannya dari perut Wiwanto dan tangannya berlumuran dengan darah, dengan satu jentikkan jarinya, semua cabang pohon yang mengikat Wiwanto, lenyap.


Tubuh Wiwanto tergeletak di atas tanah, energi di tubuhnya terkuras habis dengan cepat dan darah mengucur deras dari luka di dadanya.


Wiwanto ingin bangkit berdiri, tapi setelah mencoba berkali-kali, dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bangkit berdiri.


“Bunuh saya, bunuh saya…”


Wiwanto tidak ingin hidup lagi.


Alasan mengapa Wiwanto mempraktikkan teknik kultivasi jahat karena dia memiliki keinginan untuk mendapatkan kekuatan, dan bagi banyak ahli bela diri, benak mereka hanya dipenuhi dengan kekuatan.


Sekarang Wiwanto tiba-tiba berubah menjadi orang cacat, hal ini membuat dia tidak bisa menerimanya!


“Membunuhmu?”


Aron menatap Wiwanto dengan dingin : “Jika membunuhmu begitu saja, bukankah itu akan menguntungkanmu?”


​“Di mana sikapmu yang selalu meninggikan diri sebelumnya? Saat kamu menangkap pacarku, apakah kamu pernah memikirkan apa yang akan terjadi padamu?”


“Sekarang, berlututlah di hadapanku, mungkin saya akan membiarkanmu mati dengan lebih menyenangkan…”

__ADS_1


Wiwanto menatap Aron dengan marah : “Bermimpilah, walau sekarang saya sudah menjadi orang cacat, kamu juga tidak pantas…”


“Kamu boleh membunuhku, tapi saya tidak akan pernah berlutut padamu!”


Setelah selesai berbicara, Wiwanto membuka mulutnya dan ingin menggigit lidahnya sendiri.


“Dia akan menggigit lidahnya untuk bunuh diri, karena dia tahu dia sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi, dan hidup akan menjadi siksaan baginya saat ini.


“Ingin bunuh diri?” Aron menampar wajah Wiwanto dengan ganas!


Semua gigi Wiwanto sudah rontok, dan dia bahkan tidak mempunyai kemampuan untuk bunuh diri dengan menggigit lidahnya lagi.


“Bunuh saya, bunuh saya…”


Wiwanto melihat dirinya bahkan sudah tidak sanggup bunuh diri, berteriak dengan putus asa.


“Saya sudah bilang, saya tidak akan membiarkanmu mati dengan begitu mudah…”


Aron menjambak rambut Wiwanto : “Berlutut…”


“Bermimpilah, saya tidak akan pernah berlutut padamu…”


Wiwanto berkata dengan raut wajah galak.


Aron langsung mengangkat Wiwanto : “Sekarang bagiku, kamu tidak ada bedanya dengan seekor semut, kamu tidak mempunyai hak untuk menolakku!”


Setelah selesai berkata, Aron langsung menendang paha Wiwanto dua kali, dan dua suara nyaring terdengar, membuat Wiwanto langsung jatuh berlutut!


Wiwanto masih ingin melawan tapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri.


Kring kring kring…

__ADS_1


Pada saat ini, ponsel Wiwanto berdering.



__ADS_2