Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Bekerjasama Dengan Putri Hanna


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu dalam sekejap mata!


Di salah satu pelabuhan, kerumunan orang sudah berkumpul untuk menyaksikan para tim naik ke atas kapal.


Karena ada beberapa tim yang sudah mengundurkan diri dari kompetisi, pada akhirnya hanya tersisa tim dari Arunika, Kree dan Partan yang akan berpartisipasi dalam kompetisi.


Saat ini semua anggota tim Detasemen Perlindungan Hukum mengenakan pakaian lengkap dan bersenjata, mereka semua sangat bersemangat, dengan dipimpin oleh Aron mereka semua merasa sangat percaya diri.


Melihat anggotanya yang penuh semangat dan tidak berhenti tersenyum, hati Eddyt merasakan perasaan yang sulit diungkapkan.


Dia sangat memahami orang-orang dari Negara Partan itu, mereka adalah orang-orang yang kejam dan tidak tahu aturan, sama sekali tidak berkeprimanusiaan.


Alasan mengapa mereka tiba-tiba mengusulkan kompetisi tim seperti itu pasti karena mereka memiliki niat buruk.


“Ketua Detasemen Eddyt, jangan khawatir, saya akan berusaha yang terbaik utnuk membawa mereka semua pulang.”


Melihat sikap Eddyt, Aron mencoba menghiburnya.


“Sekarang yang bisa kami lakukan hanya menaruh harapan pada Tuan Aron.” Eddyt saat ini hanya bisa menaruh seluruh harapannya pada Aron.


​“Ketua Detasemen, dengan adanya Tuan Aron, kita pasti akan kembali dengan kemenangan kali ini.”

__ADS_1


Albert berkata dengan penuh keyakinan.


Mereka semua telah melihat dengan mata kepala sendiri kekuatan Aron, dan dia bahkan pernah mengalahkan Ichiro Watanabe, jadi mereka yakin kalau mereka pasti akan menang dalam kompetisi kali ini.


Eddyt tidak mengatakan apapun, dia tidak terlalu percaya diri, tapi demi tidak menurunkan semangat tim, Eddyt hanya bisa memilih diam.


“Aron, ayo kita pergi bersama…”


Saat ini, Audrey menghampiri dengan rombongannya, dia berencana pergi bersama dengan Aron.


“Putri Hanna?”


​Eddyt tidak mengerti apa maksud Audrey membawa orang dan pergi bersama Aron, karena ini adalah kompetisi tim, mereka adalah lawan.


Hanna berkata pada Eddyt.


“Ini…” Eddyt tercengang : “Putri Hanna, ini tidak sesuai dengan aturan bukan?”


“Tidak sesuai aturan apanya, sesampainya di atas pulau tidak ada lagi yang memperdulikan tentang aturan, kamu kira orang-orang dari Negara Partan itu akan tetap mengikuti aturan?”


Hanna bertanya dengan keras.

__ADS_1


​Eddyt tersenyum tidak berdaya, dia juga tahu, orang-orang dari Negara Partan pasti tidak akan mengikuti aturan, mereka mungkin juga sudah menyiapkan jebakan untuk mereka semua.


Saat ini, membentuk aliansi dengan Audrey untuk melawan Ichiro Watanabe membuat Eddyt jauh lebih tenang.


Suara cerobong kapal berbunyi, tiga tim naik ke atas kapal secara bergantian dan berangkat menuju sebuah pulau kecil yang tidak jauh dari sana.


Di atas pulau itu ada banyak bahaya yang tidak diketahui, namun setiap tim setiap anggota memiliki alat pelacak dan radio panggil, jika mereka sudah tidak bisa bertahan maka mereka bisa meminta bantuan dan mundur, seseorang akan segera menjemput mereka.


Di atas kapal, Aron memimpin tim dan berdiskusi dengan tim Audrey hanya Ichiro Watanabe dan timnya yang duduk di samping!


“Ketua, sepertinya tim dari Arunika dan Kree sudah membentuk aliansi, kalau begitu bukankah kita akan dirugikan jika melawan dua tim itu?”


Seorang pria yang mengenakan seragam samurai dan memegang pedang samurai menghampiri Ichiro Watanabe dan bertanya dengan suara pelan.


Ichiro Watanabe melirik Aron dan Audrey yang sedang berbincang-bincang, tatapan matanya tidak menunjukkan rasa gugup melinkan sebuah kilatan kelicikan : “Jika mereka ingin membentuk aliansi, maka biarkan saja mereka membentuk aliansi, pada saatnya tidak satu pun dari mereka bisa keluar dari pulau ini.”


“Apakah ketua sudah menyiapkan tindakan pembalasan?”


Pendekar samurai itu bertanya dengan suara pelan.


Ichiro Watanabe terdiam sejenak lalu menatap pria itu dengan dingin : “Bodoh, apakah itu sesuatu yang harus kamu tanyakan?”

__ADS_1


Melihat Ichiro Watanabe menjadi marah, pendekar samurai itu berubah menjadi ketakutan, dia segera membungkuk dan meminta maaf : “Maaf, saya salah…”



__ADS_2