Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
2 terowongan


__ADS_3

“Itu adalah Cairan Katak Busuk, kalau tidak memotong telapak tanganmu maka seluruh tubuhmu akan segera berubah menjadi hanya tersisa tulang.”


Herman berkata dengan serius.


Meskipun murid dari Keluarga Umar itu sudah kehilangan satu telapak tangannya tapi dia tahu dalam hatinya, di situasi seperti ini kalau tidak memotong pergelangan tangannya maka nyawanya akan menghilang.


“Terima kasih kepala keluarga!” Murid Keluarga Umar itu menggertakkan giginya dan berkata sambil menahan rasa sakit.


“Tidak ada yang boleh menyentuh barang-barang yang ada disini lagi, termasuk dinding batu itu, tidak tahu ada perangkap seperti apa, semuanya berhati-hatilah!”


Herman mengernyitkan keningnya dan memperingatkan mereka.


“Apakah kalian sudah mendengar perkataan Kepala Keluarga Keluarga Umar?”


Wiwanto berteriak dan bertanya kepada semua orang.


“Sudah dengar!”


Semua orang menganggukkan kepalanya.


Melalui kejadian ini, baik Wiwanto maupun kerumunan orang itu sudah merubah pendapat mereka terhadap Herman.


Karena bagaimanapun mereka sudah melihat kehebatan dari makam kuno ini.


Meskipun mereka tidak tahu benda apa yang Herman sebut sebagai Cairan Katak Busuk tadi, tapi sepertinya itu sangat menakutkan.


“Kalian semua mundurlah, seharusnya ada sebuah pintu batu di sini, ini bukan akhir.”

__ADS_1


Mendengar perkataan Herman semua orang bergegas melangkah mundur, termasuk Wiwanto juga mundur beberapa langkah.


Herman menatap tiga permata hijau yang tersisa di dua kepala patung itu dan menarik nafas kecil, lalu mengulurkan kedua tangannya, gelombang energi terpancar dari kedua telapak tangannya dan segera, tiga buah permata itu perlahan-lahan keluar dari kedua patung itu.


Tiga permata yang meninggalkan patung seketika berubah menjadi cairan dan menetes ke tanah, lantai marmer itu seketika dikorosi oleh cairan itu.


Melihat keempat mata dari patung itu sudah kosong, Herman mengulurkan tangannya dan menarik empat lubang itu, lalu memutarnya ke arah luar sehingga dua patung itu benar-benar bergerak.


Krek krek krek krek…


Suara dinding batu yang bergesekan terdengar, dinding batu yang ada di luar tiba-tiba terbuka perlahan-lahan, dan segera dua buah terowongan muncul di hadapan semua orang.


​Ternyata memang ada perangkapnya, Kepala Keluarga Keluarga Umar memang luar biasa, tidak heran mereka merupakan keluarga penjelajah makam.”


“Kali ini dengan adanya Kepala Keluarga Keluarga Umar yang mengikuti, kita akan jauh lebih santai.


“Sepertinya walau di dalam sini ada harta karun, juga tidak boleh disentuh dengan mudah, ada banyak perangkap dimana-mana.”


“Kepala Keluarga Keluarga Umar, saya ingin memberikan penghargaan kepadamu atas pelatihan kali ini!”


Wiwanto menatap Herman dan bahkan mengubah sapaannya.


Saat ini Herman tidak bisa menjelaskan betapa bahagianya dia dalam hati saat ini, setelah pelatihan kali ini posisi Keluarga Umar di Kota Dama akan semakin meningkat.


“Kepala Keluarga Keluarga Umar, sekarang ada dua terowongan yang muncul, yang mana yang harus kita pilih?”


August maju dan bertanya pada Herman.

__ADS_1


“Tuan Muda August, tunggu sebentar saya akan memeriksanya…”


Herman berkata lalu menatap dua terowongan itu dengan seksama.


Sedangkan saat Aron melihat dua terowongan itu, dia tiba-tiba merasakan aliran energi spiritual yang terus mengalir keluar makam dari terowongan sebelah kiri.


“Bagaimana bisa ada energi spiritual di tengah makam?” Aron sangat kaget, jika ada hawa yin di makam maka itu sangat wajar, tapi bagaimana mungkin ada energi spiritual?


“Kak Aron, apa yang kamu katakan?”


Tanya Tommy.


“Oh, tidak apa-apa!” Aron menggelengkan kepalanya.


Namun dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berjalan ke arah terowongan sebelah kiri dan merasa seperti ada sesuatu yang menariknya ke dalam.


“Apa yang kamu lakukan?”


Herman yang melihat Aron tiba-tiba berjalan masuk ke arah terowongan seketika berteriak.


Dia sudah lama merasa tidak senang dengan Aron, kalau bukan karena perkataan Aron maka makam kuno ini sudah menjadi aset pribadi Keluarga Umar sejak awal, dan karena Aron lah, makam ini langsung disita.


“Aron, apa yang sedang kamu lakukan? Apakah kamu tidak mendengar perkataanku?”


Melihat Aron berjalan sendiri ke arah terowongan, Wiwanto berkata dengan raut wajah dingin.


“Saya rasa ada sesuatu di dalam terowongan ini…”

__ADS_1


Kata Aron.



__ADS_2