
Tanah di bawah kaki Dika sudah mulai retak tapi dia masih menggertakkan giginya dan bersikeras bertahan, energi Aron yang begitu kuat membuat Aron terkejut.
Krek krek krek….
Suara retakan terdengar dan dinding udara di depan Dika mulai muncul retakan kecil yang kemudian menjadi semakin besar.
Raut wajah Dika seketika berubah dan dia bergegas mundur!
Brak brak brak…..
Setelah energi Dika ditarik, dinding udara itu seketika menghilang dan cahaya pedang Aron mengayun ke bawah dan membelah ring di bawah kaki Dika dengan panjang beberapa kaki.
Cahaya pedang itu sangat tajam hingga menembus ring, bahkan tanah yang dibelahnya menjadi lubang dengan dalam beberapa meter, dan membuat pasir serta batu terguling.
Saat ini tubuh Dika sudah mencapai tepi ring dan hampir tidak mungkin untuk menghindari cahaya pedang Aron lagi.
Melihat Dika yang tertekan, Aron menyipitkan matanya : “Kalau tanganku memegang sebuah pedang pusaka, kamu pasti sudah berubah menjadi roh dari pedangku sejak awal….”
Dika menatap Aron dan tidak membantahnya, karena perkataan Dave memang benar, kalau yang Aron gunakan bukanlah pedang yang dipadatkan dari energinya, tetapi pedang pusaka sungguhan, maka Dika pasti akan sulit menghindar.
__ADS_1
“Aron, jangan senang dulu, saya sudah mengurung diri selama beberapa tahun, dan mengabdikan diriku untuk latihan dan mencapai ranah Great Grand Master sedang susah payah, hanya seorang grand master sepertimu bisa kukalahkan dengan mudah….”
Setelah selesai bicara, aura mengerikan tiba-tiba muncul dari tubuh Dika, dan seluruh stadion mulai diterpa oleh hembusan angin yang kuat.
Rambut Dika berdiri dan kedua tangannya seperti sedang menari, dan mencengkram dengan erat di udara, tapi setelah mencengkram Wira tiba-tiba menghempaskannya dan tangan yang semula kosong, kini memunculkan bilah-bilah yang tajam!
Berjarak beberapa kaki di depan Aron sudah dipenuhi oleh bilah-bilah tajam ini, dan bilah-bilah tajam itu seperti bola baja yang langsung mengarah ke bagian vital Aron.
Aron tidak mengelak dan tidak menghindar, dia membiarkan bilah-bilah yang tajam itu mengenai tubuhnya.
Setelah beberapa kali bertarung dengan Dika, Aron mulai memahami kekuatan Dika, dan juga pemahaman tentang kemampuan tubuhnya dalam menahan serangan, jadi dia berani untuk tidak menghindar.
Raut wajah Dika menjadi jelek : “Aron, lantas kamu mengenakan pelindung tubuh? Saya belum pernah melihat siapapun mengolah tubuhnya menjadi sekeras ini.”
Aron mencibir dan melepas Cermin Perunggu Pelindung Jiwa di dadanya lalu melemparkannya ke atas ring.
“Walau saya tidak mengenakan apapun, apakah kamu mempunyai kemampuan untuk melukaiku?”
Perkataan Aron membuat Dika kehilangan mukanya.
__ADS_1
Melihat Dave melemparkan Cermin Perunggu Pelindung Jiwa ke tanah, raut wajah Aron menjadi serius.
Karena Aron berani membuang Cermin Perunggu Pelindung Jiwa itu membuktikan kalau Aron sangat percaya diri saat ini.
Dika menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap Aron dengan dingin : “Karena kamu sangat sombong, maka saya akan membiarkanmu merasakan rasa dari kematian…..”
Setelah berkata, aura di tubuh Dika kembali meningkat dan tekanan yang mengerikan berpusat pada Dika dan menyebar ke sekitarnya, dengan lambaian tangan kanan Wira, cahaya yang tidak terhitung jumlahnya berkumpul di tangannya, seolah seluruh matahari sedang dikendalikan oleh Dika.
Segera, titik cahaya di tangan Dika menjadi semakin terang, bahkan melebihi sinar matahari dan membuat semua orang yang berada di stadion tidak bisa membuka matanya.
“Jurus apa yang digunakan oleh Dika? Mengerikan sekali…..”
“Ini terlalu kuat, dari jarak sejauh ini saja saya bisa merasakan panasnya….”
“Jurus ini pasti tidak akan bisa ditahan oleh Aron, sepertinya perbedaan antara mereka berdua tidak akan bisa dibantu oleh siapapun lagi!”
“Sudah berakhir, Aron pasti akan kalah kali ini…..”
Semua orang mulai membicarakan kekuatan jurus Dika, dan mereka yang duduk di barisan pertama memejamkan mata mereka.
__ADS_1