Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Kultivator Iblis Terluka


__ADS_3

Saat melihat kabut hitam itu terus bergerak ke arah pria berjas, Naga Es mulai mengganas.


Tidak lama kemudian, kabut hitam di atas kepala pria berjas perlahan-lahan berkumpul dan membentuk sebuah kepalan tinju yang besar, pria berjas menghentakkan kakinya dan mengarah ke arah Naga Es.


Naga Es tidak menunjukkan kelemahannya, dan setelah mengaum ringan dia membuka mulut besarnya dan mengarah ke arah pria berjas itu.


Kedua pihak saling menyerang dalam pertempuran besar, dan orang-orang yang ada di sekitar mulai bergerak mundur karena takut akan terkena dampaknya.


Hanya Aron yang berdiri diam, dia mengernyitkan keningnya, kekuatan kultivator iblis ini secara mengejutkan berada di luar bayangan Aron, tidak disangka teknik sihir orang ini benar-benar hebat dan sangat tersembunyi.


Di saat itu, Sutai dan Roddy muncul dengan bawahan mereka, dan saat melihat pria berjas yang sedang bertarung dengan Naga Es di udara, raut wajah mereka menjadi sangat jelek.


Bam!


Suara teredam terdengar, baik pria berjas maupun Naga Es tersentak mundur, namun jelas terlihat kalau pria berjas itu lebih dirugikan, karena saat ini dia sudah terhempas oleh pukulan Naga Es.


Pria berjas itu jatuh ke tanah, raut wajahnya seputih kertas, dan mulutnya tidak berhenti menyemburkan darah segar.


Naga Es tampaknya juga terluka parah, dengan satu pukulan itu seluruh tubuhnya langsung jatuh ke dalam air.

__ADS_1


Perlahan-lahan air di dalam kolam kembali menjadi tenang, dan semua orang menatap pria berjas itu dengan wajah tegang.


“Kakak kedua, gawat, orang itu tidak bisa menang melawan Naga Es, sepertinya dia tidak akan bisa kabur, apa yang harus kita lakukan?”


Boyca melihat pria berjas itu terluka dan tahu kalau dia pasti sudah tidak bisa kabur, lagipula Sutai dan Roddy juga sudah tiba disini, mereka tidak mungkin membiarkan seorang kultivator iblis yang terluka pergi.


Raul terdiam, raut wajahnya berubah, dia tidak tahu bagaimana luka pria berjas itu, dan tidak berani keluar.


Sedangkan Tommy melihat pria berjas itu tergeletak di tanah dan tidak berhenti menyemburkan darah, menunjukkan senyuman di wajahnya.


Akhirnya sekarang dia bisa membalas dendam, saat di kapal pesiar, pria ini tidak memberi muka kepadanya, sekarang dia akan membunuhnya selagi dia cedera.


Tommy melambaikan tangannya dan membawa beberapa bawahannya untuk mengepung pria berjas itu.


​Dan ada orang-orang dari Klan Petir serta Keluarga Tanu yang mengawasi di sekeliling, pria berjas itu tahu dirinya tidak akan bisa kabur jika tidak berjuang mati-matian.


“Haha…bukankah kamu sangat hebat? Kenapa, sekarang kamu sudah jatuh ke tanganku, sebentar lagi kamu akan merasakan apa yang dinamakan lebih baik mati daripada hidup!”


Tommy menatap pria berjas itu dengan raut wajah penuh kepuasan.

__ADS_1


Meskipun pria berjas itu memelototinya dengan marah, tapi dia sudah terluka parah dan tidak mungkin menjadi lawan yang sepadan bagi Tommy dan yang lainnya, jadi dia hanya bisa membiarkan Tommy berteriak dan mengumpat padanya.


Melihat pria berjas itu tidak membalas perkataannya, Tommy menjadi semakin puas dalam hatinya, dia mengangkat salah satu kakinya dan menginjak wajah pria itu dengan keras.


Perbuatan Tommy membuat pria berjas itu sangat marah, sebagai seorang Great Grand Master dia malah dipermalukan oleh seorang Master dan pria berjas itu tidak berniat untuk bersabar lagi.


Pria berjas itu terlihat meraba-raba tubuhnya, Tommy mengira dia akan mengeluarkan senjata dan mundur dua langkah karena ketakutan.


Tapi saat dia melihatnya dengan jelas, terlihat pria berjas itu mengeluarkan sebuah boneka kayu, dan Tommy tidak bisa menahan rasa gelinya.


“Sialan, sudah sebesar ini masih bermain boneka!”


Tommy berkata dengan raut wajah penuh penghinaan.


“Haha…”


Bawahan Tommy juga tertawa terbahak-bahak.


Pria berjas itu tidak memperdulikan cibiran dari Tommy dan yang lainnya, dia memegang boneka di tangannya lalu setelah menggigit ujung lidahnya, dia menyemburkan seteguk esensi darah pada tubuh boneka itu.

__ADS_1


Dia yang awalnya sudah terluka parah, kini menyemburkan seteguk esensi darah membuat luka di tubuh pria berjas itu semakin parah, wajahnya seputih kertas dan sudah hampir pingsan.



__ADS_2