
“Kalau begitu saya akan mengeluarkan kelabang itu dari tubuhmu dulu!” kata Aron.
“Kelabang ini didapatkan oleh dari Desa Poison , dan sudah berada di dalam tubuhku selama beberapa tahun, makanannya adalah darahku, dan sudah menjadi satu dengan tubuhku, sama sekali tidak bisa dikeluarkan!”
Tetua Ketiga menggelengkan kepalanya!
“Ulurkan tanganmu!” Aron berkata pada Tetua Ketiga.
Tetua Ketiga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Aron, tapi dia tetap mengulurkan tangannya dengan patuh!
Jari-jari Aron bergerak dan cahaya merah yang samar muncul di ujung jarinya, lalu Aron menunjuk ke telapak tangan Tetua Ketiga dan cahaya merah itu masuk ke dalam tubuh Tetua Ketiga!
Tetua Ketiga gemetar, dan kemudian ekspresinya mulai terlihat kesakitan, lalu cahaya merah itu menjalar di dalam tubuh Tetua Ketiga dengan cepat, seperti sedang mengejar sesuatu!
“Ah……….”
Tiba-tiba Tetua Ketiga membuka mulutnya dan berteriak, dan seekor kelabang merah keluar dari mulutnya, dan saat kelabang merah itu terkena sinar matahari dia langsung mengeluarkan asap merah dan mati!
Melihat kelabang yang sudah mati, mata Tetua Ketiga melebar, dan dia tidak berani mempercayai kalau ini benar-benar terjadi!
“Sudah, sekarang sudah tidak ada kelabang dalam tubuhmu, ayo pergi sekarang!”
Aron berkata dengan ringan.
Tetua Ketiga langsung berlutut di hadapan Aron dan terus bersujud padanya!
Selama bertahun-tahun dia sudah dikendalikan oleh kelabang ini, dan sudah melakukan banyak hal yang berdosa, hatinya sangat tersiksa tapi demi bertahan hidup dia hanya bisa mematuhi perintah Picak dengan patuh!
“Mengeluarkan kelabang dari tubuhmu bukan untuk menyelamatkanmu, kamu bisa bertahan hidup atau tidak itu tergantung dari kinerjamu sendiri……”
__ADS_1
Aron berkata dengan dingin!
"Saya mengerti!” Tetua Ketiga menganggukkan kepalanya!
Tetua Ketiga membawa Aron dan yang lainnya menuju ke dalam Lembah Ilusi!
Dan pada saat ini, di dalam aula markas Lembah Ilusi, Picak sedang bermain catur dengan Tetua Pertama, ini adalah hal yang paling disukai Picak saat dia sedang tidak ada urusan!
“Sudah waktunya mendapatkan buku rahasia dan membunuh Jon, kalian harus bergegas menangkap putrinya, saya sudah mendapat kabar kalau putrinya sudah kembali dari Kota Dama!”
Picak berkata kepada Tetua Pertama.
“Tetua Ketiga sudah mempersiapkannya, saya yakin dalam beberapa hari ini sudah akan ada hasilnya!”
Tetua Pertama berkata dengan sopan!
Picak bertanya dengan sedikit marah.
“Penguasa Lembah, saya sudah bertanya, kamu juga tahu masyarakat zaman sekarang, para gadis-gadis sudah sangat bebas, Tetua Ketiga sudah menangkap banyak gadis tapi sayangnya yang masih perawan hanya beberapa, oleh karena itu jadinya agak lambat!”
Tetua Pertama menjelaskan!
“Hm, dasar gadis-gadis tidak tahu malu……”
Picak mendengus dingin, dan mengambil bidak catur dan meletakkannya!
Dan pada saat ini, ada pergerakan tiba-tiba di dalam pot hitam di samping Picak, dan kelabang di dalamnya seperti ketakutan oleh sesuatu!
Picak tercengang dan bergegas membuka untuk memeriksa, dan raut wajahnya seketika berubah!
__ADS_1
“Penguasa Lembah, apa yang terjadi?” tanya Tetua Pertama.
Picak mengulurkan tangannya ke dalam dan mengeluarkan kelabang dari dalam pot, dia mengernyitkan keningnya dan berkata : “Tetua Ketiga sudah mati……….”
“Apa? Tetua Ketiga sudah mati?” raut wajah Tetua Pertama terlihat tidak percaya!
“Ini adalah kelabangnya, sekarang kelabangnya sudah mati, itu artinya Tetua Ketiga sudah mati, siapa yang membunuhnya?”
Picak berkata dengan murung!
“Apakah mungkin anggota Detasemen Perlindungan Hukum Kota Dama? Belakangan kita banyak membunuh anggota Detasemen Perlindungan Hukum, mungkin anggota Detasemen Perlindungan Hukum dari Kota Dama sudah datang!”
Tetua Pertama berpikir sejenak!
“Mungkin!” Picak mengangguk : “Kamu bawalah orang untuk memeriksa, kalau benar orang dari Detasemen Perlindungan Hukum Kota Dama datang, maka jangan langsung berkonflik dengan mereka, kalau Eddyt yang memimpin tim untuk datang mencari masalah, saat ini kita tidak cukup kuat untuk melawan Detasemen Perlindungan Hukum Kota Dama, harus menghindar untuk sementara waktu!”
Picak memberi perintah pada Tetua Pertama.
“Baik!” Tetua Pertama bangkit berdiri, berbalik dan berjalan keluar.
“Hm, setelah saya mempelajari Teknik Lima Racun, Detasemen Perlindungan Hukum Kota Dama tidak akan ada apa-apanya!”
Cahaya dingin melintas di mata Isaah!
…………..
Tetua Ketiga membawa Aron dan yang lainnya keluar dari resort, dan tiba di pedalaman Lembah Ilusi, Aron pernah datang kemari sebelumnya, dan di depan ada mantra pelindung yang menghalangi dan seharusnya kegunaannya adalah untuk memberi peringatan!
“Tuan Aron, ada mantra pelindung di depan dan apabila ada orang asing yang menerobos masuk, Picak akan tahu, saya akan membuka mantranya sekarang!”
__ADS_1