Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Mulai Berkumpul


__ADS_3

“Roddy, Sutai, kalian tunggu saja bajingan, kalian berdua mengambil kesempatan dan melukai ayahku, membunuh begitu banyak orang dari Lembah Tanpa Bayangan, dendam ini akan selalu kuingat…”


Tommy memelototi Roddy dan Sutai.


“Hahaha, Tommy, kamu juga pantas berbicara seperti itu? Hanya dengan karaktermu itu, berlatih seumur hidup pun jangan harap bisa membalas dendam.”


Sutai berkata dengan penuh penghinaan : “Ayahmu berumur panjang, dia bahkan tidak mati, tapi walau ayahmu tidak mati, dengan kekuatan Lembah Tanpa Bayangan kalian saat ini, jangan harap bisa dibandingkan dengan dua keluarga kami.”


Sutai yang terus menghinanya membuat Tommy semakin geram, dia menggertakkan giginya dengan keras, sedangkan dua Great Grand Master di belakang Tommy menguarkan energi mereka dan sepasang tinju mereka mengepal erat.


Piak!


Namun siapa sangka, pada saat ini kilatan cahaya menyilaukan muncul di depan mata Sutai, disusul dengan tamparan yang mengenai wajahnya dan membuat separuh dari wajahnya langsung memerah dan bengkak.


“Siapa, siapa yang memukulku?”


Sutai berteriak dan mundur dua langkah sambil memegangi wajahnya.


“Saya akan membalaskan dendam Lembah Tanpa Bayangan, kalau kamu berani berbicara lagi, maka saya akan mencabut nyawamu sekarang juga…”


​Aron berkata dengan raut wajah muram, sepasang matanya membeku saat dia menatap Sutai dan nada bicaranya penuh dengan keinginan membunuh yang mengerikan.

__ADS_1


Bagaimanapun Lembah Tanpa Bayangan adalah cabang dari Kuil Naga Langitnya, dan sekarang Lembah Tanpa Bayangannya sudah diserang, Aron tidak mungkin membiarkannya begitu saja.


“Aron, sialan, kamu berani memukulku, jangan kira kamu memiliki orang yang bisa diandalkan jadi kamu bisa melakukan semua yang kamu mau, hari ini saya akan membunuhmu terlebih dulu…”


Sutai yang berapi-api seketika mengamuk, dua orang Great Grand Master di belakangnya langsung melangkah maju dan energi di tubuh mereka langsung menyelimuti Aron.


​“Sutai, nyalimu besar sekali, bagaimanapun Tuan Aron adalah anggota dari Detasemen Perlindungan Hukum, kamu juga terlalu tidak memberi muka kepada Detasemen Perlindungan Hukum.”


Eddyt melihat Sutai yang tidak menganggap keberadaannya seketika berteriak dengan marah.


“Eddyt, Detasemen Perlindungan Hukum kalian hanya menjaga keamanan di Kota Dama, menangkap beberapa pencuri kecil saja sudah bagus, untuk apa berpura-pura hebat, enyahlah, kalau tidak saya akan sekalian menghabisimu.”


Sutai sama sekali tidak menganggap Eddyt serius, keluarga bela diri seperti mereka, tidak akan takut pada Detasemen Perlindungan Hukum yang begitu kecil.


​Raut wajah Eddyt memucat karena kesal, namun dengan kekuatannya saat ini jika dia benar-benar menyerang, sepertinya dia tidak akan menang melawan Sutai, apalagi ditambah dua orang Great Grand Master yang ada di belakang Sutai.


Saat ini situasi di lokasi menjadi tegang, banyak orang yang menyaksikan keributan itu namun tidak ada yang berniat menghentikannya.


Bagi mereka, menyenangkan rasanya jika mereka bisa menyaksikan keributan seperti ini, jika mereka benar-benar bertarung maka akan berkurang satu orang yang berebut dengan mereka nantinya.


“Apakah kalian tidak memahami aturan pelatihan? Berani bertarung di sini?”

__ADS_1


Sebuah aura yang kuat tiba-tiba menyelimuti, dan sosok Wiwanto melayang dari kejauhan.


​Melihat Wiwanto, Sutai seketika ciut dan segera menunjukkan raut wajah tersenyum : “Ketua Dewan Wiwanto, Aron yang terlebih dulu memukulku, coba lihat wajahku ini…”


Sutai menunjukkan wajahnya kepada Wiwanto!


Wiwanto bahkan tidak meliriknya, ekspresinya terlihat dingin dan berkata dengan serius : “Saya tidak peduli dendam apa yang kalian miliki, saya beritahu pada kalian, pelatihan kali ini diselenggarakan oleh Aliansi Seni Bela Diri, jadi jika kalian ingin membuat keributan disini, itu sama saja mencari masalah dengan Aliansi Seni Bela Diri, saya yang akan memimpin tim di pelatihan kali ini, sampai saatnya, kalian semua harus bersikap patuh…”


“Pasti, pasti…”


Sutak terkejut dan segera mengangguk.


​Wiwanto menatap Aron : “Kamu juga sebaiknya bersikap patuh, jangan mengira Tuan Gino bisa mendukungmu seumur hidup…”


Setelah Wiwanto selesai bicara, dia berjalan ke depan dengan sepasang tangannya di punggung, dan August juga menghampiri dan menyapanya : “Ketua Dewan Wiwanto…”


​“Tuan Muda August, kekuatanmu bertambah pesat lagi!”


Wiwanto menatap August dan berkata sambil tersenyum.


“Kekuatanku ini tidak pantas dibicarakan di hadapan Ketua Dewan Wiwanto…”

__ADS_1


August berkata dengan rendah hati.



__ADS_2