
Wiwanto kembali mengingatkan tentang instruksi-instruksi, tapi mereka bukan baru pertama kali ikut pelatihan jadi tidak ada yang mendengarnya dengan serius, mereka semua sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam makam kuno itu.
Setelah selesai mengingatkan, Wiwanto menoleh ke arah Keluarga Umar dan berkata pada Herman : “Herman, waktunya sudah tiba, buka pintu makamnya.”
“Siap laksanakan!”
Herman segera membawa murid Keluarga Umar langsung melompat ke depan pintu makam.
Pintu makam ini terbuat dari marmer putih, tingginya mencapai lebih dari satu kaki dan beratnya lebih dari puluhan ribu ton, jika berganti orang biasa, walau bisa mencapai pintu makam ini mereka juga tidak akan bisa membukanya.
Herman mengeluarkan semangkuk kacang merah dan menebarkannya di depan pintu, sedangkan beberapa murid dari Keluarga Umar berdiri di kedua sisi dan masing-masing dari mereka memegang lilin putih, lilin putih itu sudah dinyalakan dan nyala api menari-nari di atasnya.
Herman bergumam dan membuat kacang merah itu tiba-tiba masuk ke dalam tanah satu per satu dan tunasnya tumbuh dengan cepat.
Semua orang menatap erat pada Herman, tidak ingin melewatkan satu detail pun.
Tidak lama kemudian, sebidang tunas kacang merah sudah tumbuh pada tanah di depan pintu makam, Herman melambaikan tangannya dan semua tunas kacang merah itu berada di tangannya, dan dia memasukkannya ke dalam mulutnya.
Pada saat itu, sepasang tangan Herman mulai bersinar, dan sinar itu menjadi semakin lama semakin kuat hingga pada akhirnya itu menjadi seperti sepasang lampu penerangan di mobil.
__ADS_1
“Buka…”
Herman mengayunkan sepasang tinjunya dan sebuah energi besar seketika menghantam ke pintu.
PIntu makam yang berat itu mulai perlahan-lahan terbuka, dan membuka sebuah celah, celah itu juga semakin lama semakin besar.
Aliran hawa yin keluar dari celah pintu makam dan menyebabkan suhu di tempat itu menurun drastis.
Nyala api beberapa lilin yang ada di tangan murid Keluarga Umar mulai bergerak dengan lincah, dan saat pintu makam terbuka semakin lebar, kabut hitam menyembur keluar.
Api pada lilin langsung padam dan semua orang dapat merasakan hawa dingin yang menusuk menyelimuti mereka.
Herman mengernyitkan keningnya dan memuntahkan tunas kacang merah yang ada di mulutnya, dan kabut hitam itu seketika menyebar ke kejauhan.
“Ketua Dewan Wiwanto, pintu makam sudah dibuka.”
Herman melapor kepada Wiwanto.
Wiwanto maju dan melihat lalu menganggukkan kepalanya dengan puas : “Herman, kali ini Keluarga Umar turut membantu, Aliansi Seni Bela Diri tidak akan melupakan kerja keras Keluarga Umar.”
__ADS_1
“Bisa membantu Aliansi Seni Bela Diri merupakan kehormatan bagi Keluarga Umar kami.”
Herman bergegas membungkuk dan berkata dengan rendah hati.
“Semuanya, ikuti saya dan berhati-hatilah!” Wiwanto berkata lalu berkata lagi pada Herman : “Herman, ikutlah di sampingku, jika ada apa-apa beritahulah terlebih dahulu.”
Meskipun Wiwanto memiliki kekuatan seorang Great Grand Master puncak tapi ada banyak bahaya tersembunyi di dalam makam kuno ini yang tidak dia ketahui, Herman adalah ahli dalam hal ini jadi dia meminta Herman untuk mengikutinya.
“Ketua Dewan Wiwanto, jangan khawatir, saya sudah memiliki banyak pengalaman dalam makam kuno, tidak akan ada masalah!”
Herman berkata dengan penuh percaya diri, ini adalah kesempatan untuk Keluarga Umar menunjukkan kemampuan mereka.
Jika dilihat dari kekuatannya, Keluarga Umar hanya termasuk keluarga kelas tiga di dalam dunia bela diri, tapi jika dari pengalaman berburu makam kuno, Keluarga Umar memiliki reputasi yang terkenal di Kota Dama.
Semua orang mengikuti mereka dan masuk ke dalam, Eddyt menatap Aron dan berkata : “Tuan Aron, saya hanya bisa mengantarmu sampai disini, setelah masuk ke dalam makam kuno kamu sendiri harus berhati-hati.”
Eddyt tidak termasuk dalam daftar partisipan pelatihan jadi dia tidak bisa masuk ke dalam makam kuno.
“Ketua Detasemen Eddyt, jangan khawatir, saya akan menjaga diri sendiri!”
__ADS_1
Aron mengangguk lalu membawa Tommy berjalan masuk ke dalam makam kuno.
Setelah masuk ke dalam makam kuno, mereka merasakan perasaan mencekik di sekelilingnya, sangat menekan dan lorong makam yang panjang itu seolah tidak berujung.