
“Tuan Aron…”
Eddyt ingin memastikan dengan Aron, apakah Aron sebenarnya memiliki keyakinan untuk menang melawan Ichiro Watanabe, kalau tidak memiliki keyakinan bukankah sebaiknya dia menyerah, lebih baik kehilangan muka daripada kehilangan nyawanya.
Aron tidak mengatakan apapun, dia hanya memberikan tatapan tenang pada Eddyt.
Eddyt juga tidak mengatakan apapun, dia kembali ke posisi semula dan melihat ke atas ring.
Saat ini, ring telah dibersihkan, tim dari Negara Timta menatap Ichiro Watanabe dengan marah, hanya saja mereka tidak berani menyuarakannya, apalagi mereka sudah menandatangani persetujuan hidup atau mati sebelum bertarung di atas ring, dan mereka tidak boleh membalas dendam jika terjadi sesuatu seperti ini!
“Siapa selanjutnya?”
Ichiro Watanabe yang masih memegang pedangnya melihat ke sekeliling ruangan dan berkata dengan bangga.
Perwakilan Negara Solowa yang berada di bawah ring menunjukkan raut wajah yang serba salah, menurut undian orang yang seharusnya naik ke atas ring kali ini adalah dirinya, tapi kekuatan yang baru saja ditunjukkan oleh Ichiro Watanabe membuat perwakilan dari Negara Solowa sedikit takut-takut.
Pada akhirnya, perwakilan dari Negara Solowa langsung menyerah, mereka tahu jika mereka tetap naik ke atas ring maka mereka akan berakhir terbunuh.
Setelah perwakilan Negara Solowa menyerah, giliran berikutnya adalah Audrey dari Negara Kree.
“Audrey, apa kamu memiliki keyakinan?”
Putri Hanna bertanya pada Audrey.
__ADS_1
Kali ini, Audrey tidak lagi percaya diri seperti tadi, dia mengernyitkan keningnya dan berkata : “Saya akan mencobanya!”
Hanna tidak mengatakan apapun, dan diam-diam memberikan sebutir pil kepada Audrey.
Audrey menatap Hanna dan memasukkan pil itu ke dalam saku mantelnya lalu berjalan perlahan ke arah ring.
Hnna mengepalkan tinjunya, dia jelas terlihat gugup!
“Putri Hanna, prajurit seperti Audrey belum tentu tidak menjadi lawan Ichiro Watanabe, kamu tidak perlu gugup…”
Eddyt melihat Hanna yang gugup, meyakinkan dan menghiburnya.
“Terima kasih Ketua Eddyt, para prajurit dari Negara Kree tidak boleh kalah…”
“Walau kamu memberikan Pil Peledak padanya, prajuritmu yang hanya punya otot tidak punya otak itu juga bukan tandingan Ichiro Watanabe!”
Aron berkata dengan acuh tak acuh.
“Apa katamu?” Hanna menatap Aron dengan marah : “Kalau prajurit kami seperti Audrey juga tidak bisa menang melawan Ichiro Watanabe, maka kamu lebih tidak mempunyai kemungkinan untuk menang melawannya, sebaiknya kamu berdoa agar Audrey bisa mengalahkannya, dengan begitu kamu masih bisa mempertahankan nyawamu.”
“Tidak perlu berdoa, ini adalah sebuah pertarungan yang tanpa ketegangan!”
Aron menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Hanna memelototi Aron dan tidak mengatakan apapun lagi, saat ini Audrey dan Ichiro Watanabe sudah berdiri bersama di atas ring.
Menghadapi Audrey, Ichiro Watanabe tidak sesantai saat dia berhadapan dengan Soon Fa, pedang panjangnya pun dikeluarkan dari sarungnya.
Pedangnya yang bagaikan daun willow itu bersinar dengan cahaya dingin, seperti sayap jangkrik yang tipis, setiap ayunan pedang itu bagaikan sambaran petir.
Audrey mengandalkan ukuran tubuhnya dan tinjunya yang bagaikan besi, dia tidak takut dengan pedang yang ada di tangan Ichiro Watanabe, dia langsung menggunakan sepasang tinjunya untuk melawan pedang Ichiro Watanabe!
Dang dang dang…
Setelah suara benturan, tinju Audrey tidak terluka sama sekali.
Meskipun keduanya tidak jauh lebih baik satu sama lain, hanya saja Audrey jelas merupakan petarung yang lebih baik menggunakan tinjunya untuk melawan pedang Ichiro Watanabe.
“Apakah kamu sudah melihatnya, tangan besi prajurit Audrey tidak takut pada senjata tajam apapun, saya pernah melihat prajurit Audrey menangkap peluru dengan tangannya…”
Hanna yang melihat Audrey tampak unggul mulai tidak gugup dan menoleh ke arah Aron dengan wajah puas.
Aron hanya tersenyum dan berkata dengan ringan : “Dalam sepuluh jurus, prajurit Audrey kalian akan dikalahkan…”
“Apa katamu?” Hanna berdiri dan berteriak : “Kamu sedang mengutuk prajurit kami?”
__ADS_1