
“Tuan Aron, apa ada yang salah?”
Imam bertanya dengan suara rendah
“Oh, tidak apa-apa, ayo kita masuk dan lihat….”
Aron mengikuti Iman masuk ke dalam ruangan, namun dalam perjalanan masuk Aron tidak merasakan adanya energi spiritual, melainkan hanya angin dingin yang bertiup.
Secara logika apabila Keluarga Teguh memiliki ginseng puluhan ribu tahun, dia seharusnya bisa merasakan energi spiritual yang dipancarkan oleh ginseng puluhan ribu tahun itu walau dalam jarak beberapa ratus meter, tapi Aron sama sekali tidak merasakannya, jadi hanya ada dua kemungkinan, yang pertama ginseng puluhan ribu tahun itu tidak berada di dalam rumah Keluarga Teguh, atau yang kedua, Keluarga Teguh sama sekali tidak memiliki ginseng puluhan ribu tahun itu dan hanya menyebarkan berita palsu.
Namun tidak peduli bagaimanapun situasinya, Aron harus melihat ginseng puluhan ribu tahun terlebih dulu, Aron tidak akan bertransaksi sebelum melihat barangnya.
Imam membawa Aron dan yang lainnya masuk ke ruang utama, meskipun banyak bawahan Keluarga Teguh tapi tidak ada orang yang menghalangi mereka, mereka semua mengangguk kecil untuk menyapa Iman, ini menunjukkan bahwa Iman cukup akrab dengan Keluarga Teguh.
Setelah berjalan masuk ke ruang utama, terlihat ada lima enam orang yang sedang duduk di sofa, beberapa dari mereka sedang merokok dan mengernyitkan keningnya, beberapa dari mereka menundukkan kepalanya seolah sedang memikirkan sesuatu, dan ada seorang wanita yang matanya terlihat sembab dan tergenang air mata, seharusnya dia baru saja menangis.
“Paman Imam, kapan kamu kemari? Ayo silahkan duduk…..”
__ADS_1
Pada saat ini, ada seorang pemuda yang menyadari kehadiran Imam dan yang lainnya, dan bergegas bangkit berdiri.
Sedangkan beberapa orang lainnya mengangkat kepala mereka, dan saat melihat Iman mereka semua berdiri untuk menyambutnya, mereka semua tampak sangat menghormati Imam.
“Duduk, semuanya silahkan duduk….”
Imam sedikit tersanjung dan bergegas melambaikan tangannya untuk mempersilahkan mereka semua duduk, lalu bertanya kepada pemuda itu : “Jeffry, saya dengar ayahmu sakit, jadi saya bergegas datang kemari, bagaimana keadaannya?”
Imam sangat mengerti etika jadi dia sama sekali tidak membahas tentang ginseng puluhan ribu tahun, dan menanyakan keadaan Jordi, kepala keluarga Keluarga Teguh terlebih dulu, sehingga nanti saat mereka membahas tentang ginseng puluhan ribu tahun, Keluarga Teguh harus memberi sedikit muka kepada mereka.
“Aduh….” Jeffry menghela nafas : “Kami juga sedang mengkhawatirkannya saat ini, saat dia baru kembali, keadaannya kadang baik dan kadang buruk, dia masih bisa mengenali orang, namun sekarang dia seperti orang gila, dia tidak mengenal siapapun dan terus berteriak, saat melihat orang dia akan menggigit….”
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa menjadi seperti itu?”
Meski Imam sudah mendengar dari adiknya, Ian, tapi yang diketahui Ian juga hanya sebagian kecil, karena alasan sebenarnya pasti hanya anggota Keluarga Teguh yang tahu.
Jeffry membuka mulutnya namun dia tidak mengatakan sepatah kata pun, dia menghela nafas dan kembali duduk.
__ADS_1
Anggota Keluarga Teguh yang lain juga terdiam, dan ada orang yang mulai menangis tersedu-sedu.
“Lantas tidak mencari dokter untuk memeriksanya?”
Imam
bertanya dengan heran.
“Sudah, saya sudah mencari semua dokter yang ada di radius ratusan mil, tapi tidak ada orang yang bisa memeriksanya, mereka semua mengatakan kalau Jordi tidak akan hidup lebih dari tiga hari…..”
Wanita itu menjawab dan saat berbicara, dia kembali menangis.
“Adik ipar, jangan menangis, saya yakin pasti ada solusinya….” Imam berkata dan menghibur wanita itu, lalu menatap Aron dan berkata pada semua anggota Keluarga Teguh : “Kedatanganku kali ini, saya juga secara khusus mengundang Tuan Aron dari kota, Tuan Aron adalah tabib yang terkenal dan tidak peduli penyakit apapun, obatnya pasti akan bisa menyembuhkannya….”
Semua orang melihat Iman membawa tabib seketika melihat ke arah Aron dan yang lainnya yang ada di belakang Imam.
Pada akhirnya, tatapan mereka semua jatuh pada Jekson, karena usia Jekson lebih tua, dan lebih memungkinkan untuk disebut sebagai tabib, sedangkan Aron hanyalah pemuda berusia dua puluh tahunan, dan tidak ada orang yang menganggapnya sebagai tabib.
__ADS_1