
“Sial, aura pembunuh yang kuat sekali!” Lion menyeka darah dari sudut mulutnya : “Pasti ada barang bagus di balik ini, kalau tidak untuk apa dipasang mantra sihir, kalian berdua coba hancurkan mantra sihir ini…”
Lion berkata sambil memerintahkan dua bawahannya.
Dua orang bawahan dari keluarga Dayo mengangguk, mereka meledakkan aura Great Grand Master tingkat tujuh mereka dan mulai berjalan masuk ke arah makam.
Dua orang itu menghantamkan tinju dengan kekuatan besar dan ingin menghancurkan mantra itu dengan kekerasan, dengan tubuh mereka yang kuat, dan langsung berjalan masuk.
Dua pria yang sudah memiliki persiapan itu tentu saja harus berjalan lebih jauh daripada Lion, tapi saat mereka terus mengeluarkan energi mereka, aura pembunuh yang ada pada mantra sihir itu menjadi semakin mengganas.
Keringat dingin mulai keluar di kening dua bawahan Keluarga Dayo, dan setiap langkah mereka untuk maju menjadi semakin sulit dari sebelumnya, tidak lama kemudian dua orang itu sudah tidak dapat menahan diri dan langsung terhempas seperti layang-layang putus dan menghantam tanah dengan keras.
Dua orang itu memuntahkan seteguk darah, dan tampak cedera berat, tapi keduanya hanya terpental sejauh belasan meter dibandingkan dengan Lion.
“Sialan, mantra sihir macam apa ini? Terlalu kuat, sebenarnya harta karun apa yang disembunyikan di dalam, sampai disegel dengan formasi sihir sekuat ini!”
Lion mengumpat.
“Kak Aron dia, saya akan mencobanya!” Tommy yang mendengar ada harta karun di dalam bersemangat dan ingin mencobanya.
Aron menarik Tommy dan menghentikannya : “Jangan pergi, dengan kekuatanmu sekarang sepertinya baru melangkah masuk saja sudah akan berubah menjadi daging cincang karena tekanan dari aura pembunuh itu.”
__ADS_1
Tommy yang mendengarnya juga ketakutan dan tidak berani mencobanya.
Sekarang jalan mereka dihadang oleh formasi sihir, jelas di dalam sana pasti ada harta karun, tapi saat ini tidak ada satupun dari mereka bisa masuk, Aron dan yang lainnya hanya bisa duduk untuk beristirahat terlebih dulu, Aron mencoba menyebarkan kesadaran spiritualnya untuk mencoba menemukan titik buta dari formasi sihir tersebut, yang penting dia bisa memecah formasi sihir ini.
Tapi saat kesadaran spiritual Aron baru saja menyebar, sudah langsung diblokir kembali dan ini membuat Aron kaget, formasi sihir ini bahkan bisa memblokir kesadaran spiritual.
Melihat tidak ada yang bisa dilakukan oleh Aron dan yang lainnya, August membawa bawahannya berjalan ke hadapan Aron dan mengamati terowongan makam yang kosong itu.
“Teflon, kamu cobalah…”
August berkata pada Telfon.
“Tuan Muda, saya…”
“Kenapa? Apa perkataanku tidak bisa dimengerti?”
Melihat Teflon yang ragu-ragu, raut wajah August seketika menjadi dingin.
Teflon menggelengkan kepalanya lalu membungkus dirinya dengan energi dan melesat mengarah ke kedepan dengan perlahan-lahan.
Saat Teflon melangkah masuk, aura pembunuh yang kuat dan ganas itu seketika menghantam tubuh Teflon seperti sebuah gunung.
__ADS_1
Teflon bahkan tidak sempat bereaksi, tubuhnya langsung terhempas terbang dan jatuh menabrak tanah, butuh waktu lama untuk bisa berdiri kembali.
August melihat Teflon yang menjadi seperti itu mengernyitkan keningnya dengan erat.
“Andai Ketua Dewan Wiwanto ada disini…”
August bergumam, jika Wiwanto ada disini, dengan kekuatan Great Grand Master puncak Wiwanto, mungkin bisa menerobos tempat ini, August yakin pasti ada harta karun di balik tempat ini.
Tidak kuasa menahan godaan, August mengatur nafasnya lalu ingin mencoba juga!
Tapi akhirnya sama saja, August juga hanya sanggup melangkah beberapa langkah lebih jauh dan langsung terlempar keluar.
Untuk sesaat, beberapa orang itu terjebak disini dan tidak bisa maju lagi.
Setelah beristirahat sejenak, Aron perlahan-lahan bangkit berdiri, dia berencana mencoba lagi, barusan dia terlalu ceroboh dan tidak mempersiapkan diri, jadi dia langsung terlempar keluar.
“Kak Aron, apakah kamu ingin mencoba lagi?”
Tommy bertanya sambil menghentikan Aron.
“Iya, saya akan mencoba lagi, jika dapat memecah formasi sihir ini maka kita akan tahu harta karun seperti apa yang ada di belakang sana!”
__ADS_1
Aron mengangguk.