
Namun yang lainnya tidak setenang Hendy, terutama Kurniawan dan Jhonatan, meskipun mereka tahu Aron sangat kuat tapi mereka tidak tahu identitas Aron yang sebenarnya, oleh karena itu mereka terlihat sangat khawatir.
“Ayah, apa yang kalian lakukan di sini?”
Saat ini, Nuri dan Lina juga sudah tiba dan saat melihat semua orang menunggu di luar villa dan tidak masuk ke dalam, Nuri bertanya.
“Aron masih tidur, kami semua takut mengganggunya….”
Jhonatan menjelaskan.
“Aron ini, kenapa memiliki hati yang begitu besar, menghadapi masalah sepenting ini dia masih bisa tidur!”
Nuri berkata sambil berjalan masuk ke dalam villa dan hendak membangunkan Aron.
“Nona Nuri….” Kurniawan bergegas menghalangi Nuri : “Nona Nuri, hari ini Tuan Aron akan menghadapi urusan penting jadi sebaiknya membiarkan dia tidur dengan cukup, dengan begitu energinya akan terisi ulang….”
Nuri yang mendengarnya merasa itu cukup masuk akal dan menghentikan langkahnya.
Dan pada saat ini, Aron menguap dan keluar dari villa, saat dia melihat semua orang menunggunya di luar villa, dia tercengang, kenapa dia bisa tertidur hingga tidak menyadari ada begitu banyak orang di luar villa.
“Kenapa kalian datang sepagi ini? Bukankah akan dimulai di siang hari?”
__ADS_1
Aron bertanya dengan heran.
“Tuan Aron, sudah cukup banyak orang yang berkumpul di lokasi, saya rasa tidak ada salahnya kalau kita pergi lebih awal dan mengenal lokasi terlebih dulu…”
Saat ini, Hendy melangkah maju dan bersuara.
“Baiklah, kalau begitu saya akan mandi dulu, kalian duduklah…”
Aron mengangguk dan setelah mandi, mereka semua menuju ke stadion dengan gagah.
Saat Aron tiba, dan melihat kerumunan orang yang begitu ramai, dia kaget, dia tidak menyangka akan ada begitu banyak orang yang kemari, bahkan ada yang rela datang dari ribuan mil hanya untuk melihat pertarungan Aron dan Wira.
Saat ini, di ruang tunggu di stadion, Dika sedang duduk di kursi malas dan matanya sedikit terpejam, di belakang Dika ada Boyca yang memimpin rombongan dari Keluarga Bara.
Boyca berkata dan meneteskan air mata.
“Apa kamu sedang mengajariku bagaimana saya harus melakukannya?” Dika berkata dengan ringan dengan matanya yang masih terpejam.
Boyca yang mendengarnya bergegas menggelengkan kepalanya : “Kakak, saya tidak bermaksud seperti itu…..”
Saat ini Dika sudah mencapai ranah Great Grand Master, dan Boyca menjadi lebih takut lagi padanya.
__ADS_1
“Apakah ada kabar dari kakak keduamu? Apakah leluhur menyukai hadiah yang kita kirimkan kali ini?”
Tanya Dika.
“Kakak kedua sudah memberi kabar, dia mengatakan kalau leluhur sangat gembira, dan sekarang kakak kedua sudah boleh memasuki aula leluhur, Keluarga Bara akhirnya akan memiliki seorang yang abadi, dan pada saatnya kakak kedua akan mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menjadi abadi, kita akan bisa menikahi belasan istri, melahirkan sekumpulan anak, dan saya rasa di seluruh Kota Dama, tidak akan ada lagi yang berani melawan Keluarga Bara….”
Boyca berkata dengan bersemangat.
Dika yang mendengarkan itu seketika membuka matanya dan menoleh untuk memelototi Boyca : “Kekanak-kanakan….”
Boyca gemetar dan tidak berani berbicara lagi.
Saat ini, Aron sedang membawa rombongannya masuk ke ruang tunggu, karena waktunya belum tiba, jadi mereka akan menunggu di ruang tunggu terlebih dulu.
Boyca melihat Aron yang berjalan masuk seketika menatap Aron dengan tatapan marah.
Sedangkan Dika meliriknya sekilas dan saat melihat Hendy dan Eddyt yang mengikuti Aron di belakang, dia mencibir.
“Kepala keluarga Keluarga Darmanto yang terhormat, Ketua Detasemen Perlindungan Hukum Kota Dama, sekarang sudah menjadi anjing orang lain, bukankah majikan kalian ini sedikit terlalu muda?”
Ejekan Dika membuat Hendy dan Eddyt menjadi geram, dan keduanya ingin menerjang untuk beradu dengan Dika.
__ADS_1
Hanya saja mereka tetap menahannya, karena saat ini Dika sudah mencapai ranah Great Grand Master, walau mereka berdua bekerja sama, mereka juga tidak akan bisa melawan Dika, karena perbedaan kekuatan mereka terlalu besar dan itu bukan sesuatu yang bisa dibantu oleh kuantitas.