Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Menyelam sambil minum Air


__ADS_3

Neli memanggil taksi, dan dua orang itu masuk ke dalam mobil lalu menuju ke Desa Poison.


Jarak menuju Desa Poison masih jauh, Desa Poison terletak di pegunungan di barat daya, dan jika mengendarai mobil juga hanya bisa sampai di kaki gunung, sisa perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki, jadi saat mereka sampai di Desa Poison mungkin sudah tengah malam.


Aron dan Neli duduk di kursi penumpang belakang, sementara si supir terus mengawasi setiap gerak gerik mereka melalui kaca spion.


Aron terus memeluk Neli dan bersandar di pundaknya.


Segera, kepala Aron terbaring di pelukan Neli dan dia terus mengusap lengan Neli dengan tatapan mata yang penuh keserakahan.


Sepasang tangannya mulai bertindak tidak jujur.


Neli diam-diam memelototi Aron, tapi Aron seolah tidak melihatnya dan melakukan hal sesuka hatinya!


Tiba-tiba tubuh Neli bergetar, dia merasa tangan Aron akan menyentuh area sensitifnya dari waktu ke waktu.


Neli menggertakkan giginya, dia tidak tahu apakah Aron sengaja atau tidak, hanya saja perasaan seperti tersengat listrik itu membuat tubuh Neli menjadi tegang, dan dia menggertakkan giginya dengan erat tanpa mengeluarkan suara.


Namun wajah Neli segera menjadi merah dan nafasnya menjadi sedikit pendek, sepasang tangannya menekan Aron dengan erat, agar Aron tidak bergerak lagi, Neli yang belum pernah berhubungan sedekat itu dengan pria takut dirinya akan tidak tahan pada saat ini.

__ADS_1


Setelah mengemudi selama lebih dari dua jam, Neli merasa seolah satu tahun sudah berlalu, perasaan aneh di tubuhnya membuat dia hampir ambruk di kursi.


Segera, mobil berhenti di kaki gunung, supir taksi membuka pintu dengan senyuman tipis: “Nona Neli, kita sudah sampai, selamat kamu berhasil menyelesaikan misi, Raja Poison sedang menunggumu...”


Neli menatap supir taksi itu dengan sedikit heran, tidak disangka supir taksi itu ternyata orang dari Desa Poison, untung saja dia dan Aron tidak berperilaku berbeda di dalam taksi, serta tidak mengatakan apapun, kalau tidak pasti akan ketahuan.


Neli keluar dari taksi, tepat saat kakinya menginjak tanah kedua kakinya tiba-tiba lemas dan dia hampir jatuh, untung saja Aron cekatan dan segera menopang Neli.


Melihat hal itu, supir taksi tersenyum tipis dan berkata: “Teknik pesona Nona Neli memang sangat hebat, anak ini sudah begitu terpesona olehmu...”


Setelah berkata, supir taksi itu masuk kembali ke dalam mobil dan pergi.


Neli menunggu jawaban Aron dan wajahnya masih memerah.


Aron malah tidak peduli dan hanya tersenyum tipis: “Kalau saya tidak berbuat seperti itu, bukankah akan ketahuan oleh orang dari Desa Poison kalian?”


Neli menatap Aron dengan sedikit heran: “Kamu sudah tahu sejak awal kalau supir taksi itu adalah orang dari Desa Poison?”


“Tentu saja, kalau tidak kamu benar-benar mengira saya akan mengambil kesempatan atas dirimu!” Aron mengangkat sudut bibirnya: “Cepatlah, kalau tidak kita akan bermalam di hutan.”

__ADS_1


Neli ingin berjalan tapi kakinya masih sedikit lemas, selama dua jam lebih dia menahan diri dengan menggertakkan giginya.


Melihat penampilan Neli, Aron tersenyum: “Apa perlu saya menggendongmu?”


“Tidak perlu, menjauh saja dariku…”


Neli memelototi Aron.


“Kamu jangan lupa, ini adalah wilayah Desa Poison, kalau di dalam hutan ada orang dari Desa Poison dan kita sampai ketahuan, jangan salahkan saya...”


​Setelah Aron selesai bicara, dia langsung berjalan menuju ke gunung.


Neli yang mendengar ini hanya bisa mengejar Aron dengan pasrah, lalu Aron kembali melingkarkan tangannya di lengannya, dan dua orang itu berjalan menuju gunung bagaikan lem.


Aron tidak menyangka Raja Poison sangat berhati-hati, Neli adalah putri angkatnya dan dia bahkan tidak mempercayainya, hingga meminta seseorang untuk mengamati secara diam-diam.


Saat ini, hari sudah gelap, Aron dan Neli masih berjalan di jalanan pegunungan.


Sedangkan di lembah di atas gunung, masih terlihat cahaya yang terang benderang, ini adalah Desa Poison.

__ADS_1



__ADS_2