Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Mata Keranjang


__ADS_3

“Erni, benarkah seperti itu? Saya tidak pernah mendengar kamu mengatakan kamu bermimpi buruk di malam hari?”


Mendengar itu, Anton segera bertanya kepada istrinya sendiri.


Entah kenapa, tatapan mata istri Anton mulai menghindar dan raut wajahnya menjadi sangat jelek, dia menggerutu tidak jelas dan tidak mau menjawab secara langsung.


Secara logika, kalau mengalami mimpi buruk di malam hari, kenapa tidak bersedia menceritakannya?


“Kenapa kamu tidak menjawab? Apakah yang dikatakan Tuan Aron benar? Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Apakah ada yang kamu sembunyikan dariku?”


Melihat istrinya menghindar dan tidak mau menjawab pertanyaannya, Anton merasa sangat heran.


“Huhuhu…” tiba-tiba, istri Anton menangis dan menangis dengan sangat sedih.


Melihat istrinya menangis dengan sedih seperti itu, Anton menjadi panik.


“Erni, kamu…kamu jangan menangis dulu, sebenarnya ada apa?”


Anton bertanya dengan cemas.


Namun saat istri Anton hendak buka mulut, dia melihat seorang pemuda yang mengenakan setelan jas dan sepatu kulit masuk dengan energik, di belakang pemuda itu terlihat seorang pemuda yang seumuran dengannya.


“Ayah, saya mengundang Canon untuk memeriksa penyakit ibu!”

__ADS_1


Pemuda yang mengenakan setelan jas itu berkata pada Anton.


Pemuda itu adalah putra Anton, Surya Ewa!


Sedangkan pemuda di samping Surya, melirik ke arah kerumunan dan pada akhirnya menjatuhkan tatapannya pada tubuh Nely, setelah sedikit mengernyit dia segera membuang muka.


Surya yang melihat Lucas segera menganggukkan kepalanya pada Lucas dan berkata: “Tuan Rumah Lucas, apa kabar!”


Lucas juga tersenyum pada Surya dan berkata, “Surya masih saja energik, dan sangat pandai bicara!”


Surya yang melihat Aron hanya meliriknya dan tidak mengatakan apapun, karena dia tidak mengenal Aron.


Namun saat tatapan Surya jatuh pada tubuh Nely, dia seketika tertarik dengan kecantikan Nely.


Penampilan Nely bagaikan bidadari, fitur wajahnya yang terlihat tajam, tubuhnya yang mempesona dengan lekukan indah, serta aroma yang memancar dari tubuhnya membuat Surya seketika terpesona, matanya menatap lurus pada Nely tanpa berkedip.


Melihat putranya menatap Nely dengan tidak sopan, Anton segera batuk dengan keras.


Meskipun Anton tidak tahu apa hubungan Nely dan Aron, tapi putranya bersikap begitu tidak sopan, kalau sampai menyinggung Aron, maka kerugiannya sulit ditanggung.


Mendengar Anton terbatuk, Surya tersadar kembali dan bergegas bertanya pada Anton: “Ayah, siapa wanita cantik ini?”


“Surya, ini adalah Tuan Aron yang saya undang untuk memeriksa penyakit ibumu!”

__ADS_1


Anton tidak memperkenalkan Nely terlebih dulu dan menunjuk Aron sambil memperkenalkan, lalu berkata: “Gadis ini adalah temannya Tuan Aron, mereka datang bersama!”


Anton memperkenalkan seperti ini agar Surya menahan dirinya sedikit, Anton tahu kalau putranya ini sangat mesum, tapi dia harus membedakan situasi.


Surya menatap Aron dengan dingin, tanpa mengatakan apapun lalu berjalan ke hadapan ibunya dan berlutut: “Ibu, apakah kamu sudah merasa jauh lebih baik?”


Ibu Surya mengangguk dengan bersemangat: “Sudah jauh lebih baik, sakit kepalanya sudah tidak terlalu parah.”


“Ibu, tenang saja, saya sudah mengundang Canon, dia pasti bisa menyembuhkan sakit kepalamu…”


Surya menunjuk pemuda yang ada di sampingnya dan berkata.


“Master Canon, maaf merepotkanmu datang jauh-jauh kemari…”


Ibu Surya tersenyum tipis pada Canon.


“Bibi, jangan berkata seperti itu, saya dan Surya adalah teman sekolah, kamu bisa langsung memanggil namaku saja…”


Canon berkata dengan sangat segan.


Melihat pemuda bernama Canon itu, Aron menyipitkan matanya lalu bertanya pada Anton: “Ini adalah teman sekolah putramu?”


“Benar, Canon yang memilih lokasi untuk villa saya dan membantu melihatnya, sekarang dia menjadi murid di Yayasan Hanura!”

__ADS_1


Anton berkata sambil mengangguk.



__ADS_2