Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Di Lokasi Konser


__ADS_3

Aron tercengang : “Pameran pelelangan barang antik? Apakah itu diselenggarakan secara resmi?”


“Tentu tidak, penyelenggaranya adalah seorang pengusaha dan kolektor dari Futuwa, dia mengadakan pameran pelelangan ini untuk menarik beberapa pecinta barang antik agar mengeluarkan benda pusaka mereka dan kalau pengusaha dari Futuwa itu menyukainya dia akan mendapatkannya dengan cara apa saja, kami Detasemen Perlindungan Hukum bertanggung jawab atas keamanan!” Eddyt menjelaskan.


“Baik, terima kasih banyak Ketua Detasemen Eddyt!”


Saat ini Aron membutuhkan banyak energi spiritual, dan barang-barang antik seperti ini biasanya mengandung energi spiritual, atau seperti Kursi Naga milik Kurniawan yang berisi Naga Kebencian yang bisa membantu Aron dalam berkultivasi.


Setelah mengantar Eddyt, Aron kembali ke rumah, namun Nuri masih belum pulang, Aron pun berbaring dan tertidur, mungkin Nuri sudah pulang ke kediaman keluarga Utomo!


Keesokan paginya, Angela mengutus  seseorang untuk mengantarkan tiket kepada Aron, semua tiket itu merupakan tiket barisan pertama!


Aron melihat waktu dan masih terlalu awal untuk pergi ke konser, dia kembali menutup kepalanya dan tidur lagi!


Di Stadion Kota Sanur, Ella dan dua orang wanita yang merupakan teman sekelasnya sedang menunggu di depan pintu dengan cemas!


“Ella, apakah kakakmu benar-benar bisa mendapatkan tiketnya? Setahuku tiket kali ini sudah habis terjual sejak awal, dan banyak orang yang membelinya dengan harga yang lebih tinggi dari calo!”


Seorang temannya bertanya pada Ella.


“Kakakku sangat hebat, kalau dia bilang bisa mendapatkannya pasti bisa mendapatkannya!”


Ella sangat percaya pada Aron, bagi Ella, Aron yang bisa menghabisi Yudas pasti bukan orang biasa!


“Kalau begitu cepat telepon kakakmu dan suruh dia antarkan tiketnya kemari, sebentar lagi sudah akan masuk….”


Teman perempuannya yang lain mendesak dengan gelisah!

__ADS_1


“Saya sudah menelponnya, dia menonaktifkan ponselnya!” Ella juga sangat gelisah saat ini!


Dan pada saat itu, tiga orang pemuda berusia tujuh belas delapan belas tahun berjalan menghampiri, salah satu pemuda itu mengenakan anting-anting, dan air liurnya sudah bagaikan sungai!


Melihat tiga pemuda itu, Ella tampak sedikit takut dan panik!


“Ella, kalian tidak punya tiket ya?”


Pemuda beranting itu bertanya.


Ella hanya melirik pemuda itu dan tidak mengatakan apapun!


Sebaliknya, wanita di sampingnya berkata : “Kata Ella, kakaknya sudah membelikan kami tiket!”


​“Haha, apa kalian tahu kalau tiket konser ini sangat sulit didapatkan? Saya beritahu ya, ayahku merupakan salah satu sponsor dari konser kali ini, oleh karena itu saya berhasil mendapatkan beberapa tiket barisan depan…..”


Mendengar tiket itu adalah tiket barisan depan, mata kedua teman Ella menatap lurus pada tiket itu, dan Ella juga tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya!


“Kak Jacky apa kami boleh melihatnya?”


Dua wanita itu bertanya dengan nada menyanjung.


“Boleh!” Pemuda itu menyerahkan tiket itu kepada dua gadis itu, dan mata kedua gadis itu seketika bercahaya, dan mereka tidak bisa melepaskannya!


“Kalau Ella bersedia menjadi pacarku dan menciumku, maka saya akan memberikan tiket ini kepada kalian….”


Pemuda itu berkata dengan nada mempermainkan.

__ADS_1


“Benarkah?” dua gadis yang mendengarnya seketika bersemangat : “Ella, keluarga Kak Jacky memiliki bisnis besar dan kaya, kamu setuju saja jadi pacarnya, ya?”


“Benar, kalau kamu mencium Kak Jacky, kita akan bisa mendapat tiket konser, dan ini tiket 10 barisan pertama, kamu bisa melihat Angela tanpa perlu teropong!”


Ella baru saja pindah sekolah, jadi dia belum memiliki banyak teman dan dua gadis ini adalah teman terdekatnya, tapi pada saat ini mereka malah membujuk dia untuk mencium Jacky hanya demi tiket konser!


“Kenapa kalian berdua seperti itu, saya tidak suka dengannya, dan tidak mau menciumnya!”


Ella mengernyitkan keningnya.


“Ella, hanya mencium sekali tidak akan mati, sekarang sudah zaman seperti apa kenapa kamu masih sangat kolot!”


“Benar, kamu ini murid pindahan dari kampung, Kak Jacky bisa menyukaimu saja sudah menjadi keberuntunganmu, kenapa kamu malah tidak menghargainya?”


Demi mendapatkan tiket, dua gadis itu berusaha keras membujuk Ella!


​“Saya tidak mau tiket konser, kalau kalian mau kalian saja yang melakukannya, kakakku pasti akan memberikan tiket kepadaku, saya percaya padanya!”


Ella menjauhkan diri dari kedua gadis itu!


“Kakakmu membohongimu, kalau dia punya tiket dia pasti sudah datang sejak awal, sekarang dia bahkan menonaktifkan ponselnya, jangan berharap lagi!”


“Kakakmu juga dari kampung kan, walaupun dia hebat, bisa sehebat apa? Saya rasa dia belum tentu bisa mendapatkan tiket di barisan paling akhir!”


Dua gadis itu berkata dengan ekspresi menghina.


__ADS_1


__ADS_2