
Aron tidak mengatakan apapun, dia hanya terus berjalan ke depan, dalam perjalanan semua orang sangat waspada karena kalau sampai terjadi kesalahan mungkin akan memicu perangkapnya.
August yang mengikutinya di belakang menatap Lion dan Aron yang berjalan bersama, raut wajahnya menjadi sangat muram, mereka sudah lebih dari cukup untuk menghadapi Aron, tapi jika ditambah dengan Lion dan dua Great Grand Master tingkat tujuh dari Keluarga Dayo, mereka hanya punya sedikit peluang untuk menang.
“Sialan, Lion anak itu, setelah pelatihan berakhir saya pasti akan mencari kesempatan untuk memberi pelajaran kepadanya!”
August menggertakkan giginya.
“Tuan Muda, sekarang kita tidak bisa menyerang Aron begitu saja, tidak ada orang lain disini, jika mereka tiba-tiba memiliki niatan untuk membunuh, sepertinya kita tidak akan bisa mengatasinya dengan baik…”
Teflon memperingatkan pada August.
Jika August bersikeras ingin berurusan dengan Aron, dan Aron benar-benar berniat untuk membunuh, ditambah dengan Lion, sepertinya mereka akan mati disini, apalagi sekarang para keluarga dan klan bela diri sedang tidak berada di sekitar, saat pelatihan berakhir nanti mereka bisa beralasan kalau perangkap terpicu.
“Omong kosong, apa perlu diperingatkan olehmu!”
August menatap Teflon.
Teflon menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi, hanya saja kilatan dingin muncul di matanya.
…
Di sisi lain, Herman membawa Wiwanto dan para keluarga dan klan bela diri lainnya terus berjalan di terowongan sebelah kanan, karena dengan adanya Herman, mereka semua merasa lega.
Herman yang sedang berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, karena dia merasakan aura yang sangat menakutkan dan terdengar suara dengungan.
__ADS_1
“Apakah kalian mendengar suara itu?”
Herman menoleh dan bertanya pada beberapa murid Keluarga Umar.
“Sepertinya ada suara dengungan, seperti suara lebah yang sedang beterbangan?”
Beberapa murid Keluarga Umar berkata.
“Gawat, cepat mundur, mundur!”
Raut wajah Herman berubah dan segera berteriak, dan sosoknya bergegas berlari ke arah belakang.
Wiwanto dan yang lainnya merasa heran tapi mereka semua juga berlari ke belakang dengan cepat.
Karena tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi, Herman berteriak dengan panik pasti karena menyadari ada bahaya.
Semua orang berlari ke belakang dengan cepat, Herman adalah orang yang terakhir keluar dan ingin mencoba menutup terowongan tapi sudah terlambat, tidak lama kemudian ada banyak lebah yang terbang keluar dari terowongan yang gelap, memenuhi seluruh terowongan
“Lebah beracun, semuanya hati-hati!”
Herman berteriak kepada kerumunan dan memperingatkan mereka.
Mendengar ada lebah beracun, mereka semua menjadi gugup, saat melihat lebah beracun di hadapan mereka, mereka semua tercengang.
Sekarang mereka sudah hampir kembali ke aula makam, jika mereka terus mundur maka hanya bisa keluar dari makam kuno itu.
__ADS_1
“Sialan, sebuah makam kuno ternyata mempunyai begitu banyak perangkap!”
Seseorang berteriak dan mengumpat dengan marah.
Segera, banyak dari mereka yang mulai mengeluarkan energi mereka dan mengarahkannya ke arah kawanan lebah itu, memblokir terowongan itu agar kawanan lebah itu tidak bisa keluar.
Energi yang besar terus menyapu, banyak lebah beracun yang mati karena tekanan energi yang begitu kuat, tapi akan semakin banyak lebah yang terbang kembali.
Melihat situasi ini, sepertinya belum sempat memusnahkan semua lebah ini, mereka semua akan mati kelelahan karena kehabisan energi.
“Kepala Keluarga Keluarga Umar, apa yang harus kita lakukan?”
Wiwanto meledakkan auranya dan membungkus rapat dirinya, lalu bertanya pada Herman.
“Gunakan api, lebah beracun ini takut pada api, cara lainnya tidak akan berguna!”
Herman berkata pada Wiwanto.
“Kalau begitu serang dengan api, segera nyalakan api…”
Wiwanto mendesak Herman.
Herman tampak serba salah : “Ketua Dewan Wiwanto, meskipun saya mempunyai bubuk api tapi tidak ada yang bisa dibakar, di ruangan makam ini hanya ada batu, sama sekali tidak bisa dibakar!”
Wiwanto yang mendengarnya melihat sekeliling, memang tidak ada barang yang bisa mereka bakar, selain dua obor kecil yang dipegang oleh murid Keluarga Umar, tidak ada lagi yang bisa mereka bakar.
__ADS_1