Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Cepat Pergi


__ADS_3

“Saya pasti akan mengeluarkanmu…”


Pedang Naga di tangan Aron terus diayunkan dengan putus asa ke arah sel!


Dang dang dang…


Bunyi yang begitu keras seolah hampir membuat seluruh penjara bawah tanah itu runtuh!


Namun walaupun demikian, sel itu tetap tidak tersentuh.


Sedangkan, di bagian paling dalam dari penjara bawah tanah yang remang-remang, di dalam sebuah sel yang begitu gelap, seseorang sedang duduk bersila di atas lantai tiba-tiba membuka sepasang matanya.


Sepasang matanya itu memancarkan cahaya hijau yang menakutkan.


Sudut mulutnya terangkat ke atas, orang itu menunjukkan senyuman kecil lalu tiba-tiba memejamkan matanya lagi.


Sekujur tubuh Aron tersentak, dia merasakan sebuah aura yang sangat menakutkan dan mengerikan, namun aura ini hanya terasa sekejap saja!


Aron tidak terlalu memikirkannya, dia harus mengeluarkan Nuri terlebih dulu.


Setelah belasan ayunan pedang, kening Aron dipenuhi dengan keringat dingin, namun sel yang kokoh ini tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan.


“Aron, penjara di Aliansi Seni Bela Diri ini sangat kokoh, kamu tidak akan bisa membukanya, sebaiknya kamu segera pergi, tidak lama lagi pasti akan ada orang yang datang!”


“Asalkan kamu baik-baik saja di luar sana, maka saya sudah lega, saya baik-baik saja di sini, kamu tidak perlu khawatir…”


Nuri berteriak dan membujuk Aron.

__ADS_1


Namun di saat itu, Aron sudah kehilangan akal sehatnya, dia hanya ingin mengeluarkan Nuri dari sana.


Sepasang mata Aron membelalak, dia menggigit lidahnya dengan keras lalu menyemburkan darahnya ke bilah Pedang Naga.


Pedang Naga mulai bergetar dengan hebat dan auman naga terus terdengar.


“Aron, kamu sudah gila?”


Nuri yang melihat ini langsung berteriak keras pada Aron.


Saat ini, Aron sudah sangat gila dengan membakar esensi darahnya sendiri, perlu diingat membakar esensi darah sangat berdampak buruk bagi tubuh, jika keadaannya serius maka seluruh tubuhnya akan lumpuh.


Namun saat ini Aron tidak mau mendengar apa pun, dia seperti seekor monster gila yang menghantam sel itu dengan sekuat tenaga!


Aron tidak tahu berapa banyak luka yang mengenai dirinya sendiri, darah terus mengalir dari pergelangan tangannya.


Aron terduduk lemas di atas lantai, wajahnya penuh dengan keputusasaan.


Dia sudah menggunakan semua kemampuannya, namun tidak bisa membuka sel ini, tidak bisa menyelamatkan Nuri.


Sepertinya, Aliansi Seni Bela Diri memang tidak sederhana.


Aron menatap Nuri dengan tidak berdaya, keduanya begitu dekat tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.


Nuri menatap pergelangan tangan Aron yang berlumuran darah, dia merasa sangat sedih, dan bergegas menarik syal sutranya untuk membalut luka Aron.


Aron menatap Nuri dengan berlinang air mata : “Nuri, jangan khawatir, saya pasti akan membunuh semua orang di dalam Aliansi Seni Bela Diri, dan saya akan membuat mereka membayarnya dengan darah mereka…”

__ADS_1


Cahaya dingin berkilat di mata Aron, aura pembunuh di tubuhnya terus menyebar, saat ini kebencian Aron pada Aliansi Seni Bela Diri telah mencapai titik ekstrem.


“Kamu tidak perlu memedulikanku, mereka tidak akan berbuat apa pun terhadapku, kamu harus menjaga dirimu sendiri, kamu cepat pergi, kalau tidak pergi maka akan terlambat…”


Nuri yang telah membalut luka Aron, mulai membujuk Aron.


Aron memegang tangan Nuri dengan erat, sama sekali tidak mau melepaskannya, dia tidak ingin pergi, dan tidak tega.


Jika dia pergi, entah kapan dia bisa melihat Nuri lagi.


Awalnya dia mengira, setelah mencapai ranah Master Guru, dia dapat menyelamatkan Nuri, namun sepertinya dia benar-benar terlalu naif.


Bruak bruak bruak…


Pada saat ini, suara gemuruh terdengar, diikuti dengan beberapa aura yang datang mendekat ke arah mereka.


Aron tahu, itu pasti orang-orang dari Aliansi Seni Bela Diri.


Di sisi lain, Nuri mendorong Aron sekuat tenaga : “Aron, kamu cepat pergi, cepat pergi, kamu harus menjaga dirimu dengan baik, dengan begitu saya akan memiliki harapan, apa kamu sudah ingat?”


Aron menatap Nuri, dia tidak ingin pergi, dia tidak ingin melihat Nuri terkurung di sini sendirian.


“Aron, kalau kamu masih tidak mau pergi, saya akan menabrakkan kepalaku ke dinding dan mati di sini, dengan begitu kamu tidak perlu memikirkanku lagi selamanya…”


Nuri tahu, jika Aron tidak segera pergi, maka sepertinya dia tidak akan bisa pergi lagi, jadi dia mulai mengancam Aron.


__ADS_1


__ADS_2