
Sebagai ahli sihir nomor satu di Futuwa, perkataan Febri tentu saja sangat penting bahkan Master Rahman saja harus bersikap hormat padanya!
“Saya hanya percaya pada mataku sendiri!”
Aron menyeringai!
“Baik kalau begitu, hari ini saya akan membuatmu puas, saya akan menunjukkan padamu apakah Pa Kua ini kayu busuk atau bukan….”
Guru Febri berkata sambil mengambil Pa Kua lalu tangannya tiba-tiba mengaktifkan sihir, dan tiba-tiba di atas Pa Kua itu terpantul garis-garis Pa Kua, dan garis-garis itu bersinar terang dan tidak berhenti berputar!
“Argh…..”
Guru Febri berteriak marah dan garis-garis Pa Kua itu tiba-tiba meledak dan kemudian cahaya keemasan yang tidak terhitung jumlahnya terlihat membentuk mantra!
Cahaya keemasan yang terang itu membuat orang tidak bisa membuka matanya, dan seluruh ruangan berubah menjadi seperti negeri dongeng!
Namun segera, cahaya keemasan itu menghilang dan Pa Kua itu kembali ke bentuk semula!
Tapi pada saat ini semua orang menatap Pa Kua itu dengan terengah-engah, dan mata mereka membelalak lebar, dan penuh ketidakpercayaan!
“Guru Febri memang ahli sihir nomor satu di Futuwa, saya malu, malu….”
Mata Master Rahman penuh dengan rasa iri dan hormat.
“Senjata ajaib ini menang ternyata barang bagus, kalau bukan karena Guru Febri, sepertinya barang sebagus ini tidak akan dianggap oleh kami!”
__ADS_1
“Saya belum pernah melihat senjata ajaib yang begitu hebat!”
“Hari ini pengetahuanku bertambah, walau harus bangkrut saya harus mendapatkannya….”
Pada saat ini semua orang mulai berdiskusi, dan mereka semua sudah bersiap untuk bersaing, tidak peduli harus mengeluarkan uang sebanyak apa, mereka harus mendapatkan Pa Kua itu!
Boyca bahkan sudah menelpon ke rumah untuk meminta mereka menyiapkan dana lebih, karena dia tahu setelah ini persaingan akan menjadi ketat!
Melihat itu, semua orang juga menelpon untuk mengumpulkan uang, sepertinya persaingan ini akan menjadi sangat kejam!
Oyong dan Febri bertukar pandang dan tersenyum, dalam hati mereka sudah merasa sangat senang!
“Saudara, apa kamu masih merasa kalau Pa Kua ini hanyalah sepotong kayu busuk?”
Febri bertanya pada Aron dengan nada mengejek dan menghina!
“Hanya seorang bocah ingusan, apa yang dia pahami, hanya Keluarga Darmanto yang buta dan menjadikannya sebagai tamu kehormatan!”
“Di depan begitu banyak master, dia malah berani berlagak lebih hebat dan berani memprovokasi Guru Febri, benar-benar tidak tahu diri!”
“Kalau saya adalah Guru Febri, saya pasti sudah menamparnya sampai mati!”
“Saya benar-benar tidak tahu dari mana asalnya bocah ini, saya saja belum pernah mendengar namanya, berani datang ke Kota Dama untuk mempermalukan diri sendiri!”
Semua orang menghina Aron, bahkan melibatkan Keluarga Darmanto, dan ini membuat raut wajah Basri terlihat lebih jelek lagi!
Sebaliknya Aron terlihat tidak peduli!
__ADS_1
“Bocah, Guru Febri bertanya padamu, apa kamu bisu? Kalau begitu sekarang kamu bisa mengakui kekalahan mu dengan patuh kan, bayar 2 triliun, lalu kami tidak akan perhitungan padamu lagi….”
Boyca menatap Aron dan mencibir!
“Hanya kayu busuk, selamanya akan tetap menjadi kayu busuk, tidak peduli menggunakan teknik setinggi apapun, tidak ada gunanya, itu tidak mengubah fakta kalau ini hanyalah sepotong kayu busuk….”
Aron berkata dengan enteng.
Melihat Aron masih berani berkata seperti itu, semua orang tercengang, bahkan Basri juga terlihat kaget dan bergegas berbisik : “Tuan Aron, jangan bicara lagi….”
Walau Basri tahu Aron adalah seorang kultivator, tapi dia belum melihat kekuatan Aron dengan matanya sendiri, sedangkan kemampuan yang ditunjukkan oleh Guru Febri tadi, tidak ada bedanya dengan sihir abadi, dia tidak merasa Aron akan lebih hebat dari Guru Febri!
Jangankan Febri, bahkan Master Rahman juga mungkin tidak sebanding dengan Aron, karena Aron masih muda, dan baik ahli bela diri, ahli sihir maupun kultivator semuanya memerlukan waktu untuk mengasah keterampilan!
“Bocah, apa kamu buta? Saya baru saja membuka mantra di Pa Kua ini, apa kamu tidak melihatnya? Masih berani mengatakan ini hanya sepotong kayu busuk?”
Febri menatap Aron dengan dingin!
Sebagai ahli sihir nomor satu di Futuwa, bagaimana dia bisa menahan diri saat diprovokasi oleh seorang bocah ingusan!
Oyong juga menatap Aron dengan tidak senang, kalau bukan karena Aron, Pa Kua ini pasti sudah menjadi rebutan orang dengan harga tinggi, sekarang gara-gara orang ini situasi jadi kacau!
“Bocah, nyalimu besar juga ya, bahkan berani mempertanyakan Guru Febri, apa kamu tahu betapa hebatnya Guru Febri?”
Master Rahman menatap Aron dan mencibir.
Master Rahman akan menginjak-injak Aron untuk menjilat pada Febri, teknik yang ditunjukkan Febri tadi sudah cukup untuk membuat seorang master seperti dia menunjukkan rasa hormatnya!
__ADS_1