
siang itu vian dan keluarga pergi ke tempat oleh oleh, mereka pun larut dalam kegembiraan karena bisa berbelanja. setelah berbelanja mereka makan siang fan bersiap untuk pergi ke bandara.
Mereka melakukan check in dan masuk ke bandara menunggu pesawat, tak lama mereka sudah disuruh naik ke pesawat, tak lama pesawat pun bergerak take off, perjalanan kurang lebih 2 jam mereka sampai di bandara soekarno hatta, setelah ambil bagasi mereka menuju minibus jemputan. karena ada sedikit macet perjalanan menuju rumah memakan waktu 2 jam, sampai di rumah mereka langsung istirahat.
Sehabis sholat magrib mereka berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. setelah makan vian dan lily masuk kekamar, didalam kamar lily mengajak ngobrol vian.
" pah, waktu di bali papah ngobrol sama bapak itu apa? dan mamah lihat waktu papah melawan brandalan disana berbeda." kata lily
" iya papah juga merasakan aneh waktu melawan brandalan itu papah sudah kehabisan tenaga karena papah terlalu emosi, tapi gak tau kenapa di tubuh papah ada rasa hangat mengalir sama waktu papah bersalaman dengan kakek yang waktu kita tolong itu." jawab vian
" o iya pah kita belum kesana lagi ya... papah juga belum ngobrol ke mereka masalah rusun itu kan." kata lily
" iya papah lupa, mungkin besok papah kesana." jawab vian
" kalo yang resort bapak gimana jadinya." tanya lily
" alhamdulilah ada peningkatan, dari sisi promosinya juga dialihkan ke media sosial yang tanggung jawab si astrid itu" jawab vian
" katanya mau di ambil alih sama livi group jadi." tanya lily
" jadi tapi menunggu RUPS dulu, kata bapak." jawab vian
mereka pun tiduran sambil berpelukan, karena cape mereka pun tertidur dengan pulas.
di pagi hari vian mengajak main devan ke taman, berlari, main bola, dan vian mengajak devan untuk mandi. setelah mandi vian sarapan bersama keluarga lainnya.
jam 9 vian pamit mau ke lokasi pembangunan rusun dan mau ketemu kakek itu.
selesai belanja vian langsung menuju ke rumah kakek, di perjalanan vian memikirkan "Siapa dia..?, kalo memang energi yang diperoleh itu berasal dari kakek itu. mobil di parkirkan di supermarket. lalu vian berbelanja kebutuhan pokok untuk dikasihkan ke warga di supermarket tetsebut.
vian di bantu putra dan edi untuk membawa sembako tersebut. di luar rumah sang kakek sedang mempersiapkan gerobaknya untuk pergi mencari barang barang bekas. vian langsung menghampiri sang kakek
__ADS_1
" assalamualaikum kek, apa kabarnya." tanya vian
" waalaikumsalam nak, alhamdulillah baik. nak mau ketemu siapa ya." jawab kakek
" saya mau ketemu kakek, apa boleh saya mengobrol dengan kakek.? tanya vian
" oh tentu nak, ayo kita masuk ke dalam." sahut sang kakek, lalu kakek memanggil istrinya, " nek....nek... ini ada tamu." kata kakek
" siapa kek.?" tanya nenek
" ini ada tamu nek." jawab kakek
" iya ada tamu, silahkan masuk nak." kata nenek
kakek masuk terlebih dahulu disusul vian dan putra, edi pulang lagi ke mobil habis mengantarkan sembako tadi.
Vian memberikan sembako ke sang kakek dan sisanya menyuruh putra membagikan ke tetangga kakek, selanjutnya vian mengobrol dengan sang kakek
" iya kakek lihat, dan kami disini membicarakannya andai kami bisa menempati tempat itu, kami sangat senang." jawab kakek
" syukur kalo begitu, memang saya buat itu peruntukannya untuk kakek dan yang lainnya yang membutuhkan tempat tinggal yang layak." kata vian
" terimaksih banyak nak, kakek gak bisa membalas kebaikan kamu, kakek dan yang lainnya hanya bisa mendoakan saja." jawab kakek
" itu sudah sangat cukup buat saya dan keluarga kek, oh iya kek sebelumnya mohon maaf, kalo boleh tau nama kakek dan nenek siapa ya." jawab vian
" nama kakek Braja kalo nenek sumi. kenapa gitu nak." kata kakek braja
" gak ada apa apa kek, tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan." kata vian
" tanyakan saja nak, apa ada kaitannya dengan kejadian kemarin. kamu gak apa apa kan." jawab kakek braja
__ADS_1
di situ lagi lagi vian di buat bingung kok sang kakek bisa tau kejadian kemarin. disana vian bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada tubuhnya berkaitan dengan kakek braja ini. lalu siapa dia sebenarnya.
" maaf kek kok kakek bisa tau." kata vian penasaran
" kakek hanya melihat saja nak. kakek gak bisa apa apa." jawab kakek
" tubuh saya serasa ada aliran hangat waktu itu disaat saya lemah." kata vian
" wajar kamu lemah karena saat itu kamu emosi melihat keluarga kamu di aniyaya orang, kamu gak usah khawatir nak selagi kamu berbuat baik, suka menolong orang lain, pasti doa doa orang yang kamu tolong akan melindungi kamu." jawab kakek braja
" lalu kenapa kakek mau melindungi saya, padahal kita barun ketemu." kata vian
" kakek tidak melindungi mu nak, itu adalah hasil perbuatan baik kamu, kakek fikir kamu baik, hati kamu bersih." jawab kakek
" mohon maaf kek, kenapa kakek dan nenek bisa kaya gini, dimana keluarga kakek, anak anak kakek." kata vian
" kakek dan nenek dari daerah jawa tengah, kakek kesini mengadu nasib, eh seperti ini hasilnya. kakek dan nenek sudah tidak dianggap keluarga lagi, biasa permasalaha keluarga. kakek dan nenek tidak punya keturunan nak, waktu itu kami kecelakaan dan nenek dinyatakan tidak bisa punya anak." jawab kakek sambil menahan tangis.
disitu vian berfikiran buat kakek dan nenek ini gak usah tinggal di rusun tapi di perumahan livi residence. untuk pekerjaannya biar dia mau nerima, disuruh membersihkan villa dan menjaganya. kalo tinggal disana pasti ada yang awasi juga. kalo disini khawatir sang kakek masih cari rongsokan
vian meminta izin ke kakek untuk telepon sebentar, vian menelepon pak daryat menanyakan apakah bisa dibuatkan satu kamar tidur, dapur, ruang tamu, kamar mandi di belakang villa. pak daryat bilang itu bisa di bangun, vian meminta dikerjakan secepatnya gak harus dari tembok yang penting rapi..
setelah telepon vian bilang ke kakek braja, kalo kakek dan nenek berkenan minggu depan pindah dari sini ke daerah B, disana sudah disiapkan tempat tinggal, dan kakek gak usah lagi mencari ronsokan biar kakek dan nenek merawat villa saja. untuk keperluan sehari hari nanti disediakan jadi kakek dan nenek menikmati hidup saja.
" bagaimana kek. apa kakek berkenan." kata vian
" terimakasih nak, kakek bersyukur bisa bertemu sama kamu." jawab kakek
" jadi nanti kalau sudah jadi kakek dan nenek saya jemput, dan mulai hari ini kakek jangan ambil rongsokan lagi." kata vian
" tetimakasih nak. kakek dan nenek hanya bisa berdoa saja." jawab kakek
__ADS_1
vian bukannya tidak ingin membawa langsung kesana dan menempatkan sementara di villa, vian berfikir khawatir nantinya jika rumah yang dibuat tidak semewah villa takut kecewa.