
Di pagi hari vian seperti biasa berolahraga naik sepeda di temani lily dan dan shinta, setelah itu vian duduk di kursi teras depan rumah. Shinta membawa air putih dan kopi, vian menyalakan rokoknya.
" pah besok mau berangkat jam berapa, acaranya kan jam 10 pagi." kata shinta
" dari sini maximal jam 6 harus sudah berangkat." kata vian
" ibu ikut juga kan." kata vian
" iya pah, ibu mau ikut, dia mau tau juga dan lihat lihat pabrik LA." kata shinta
" ibu punya pakaian hangat enggak takutnya nanti dia kedinginan." kata vian
" enggak pah, soalnya selama ini belum pernah ke daerah dingin," kata shinta
" iya sudah kamu belikan, tanya ke lily beli dimana dan apa mau pergi belanja enggak." kata vian
" iya pah nanti aku tanya ke mbak." kata shinta, shinta pun pergi menemui lily, tak lama lily datang.
" kenapa pah, papah mau ngajak mamah belanja ya." kata lily
" iya, kita belikan pakaian buat ibu kan kita mau pergi ke KBB disana kan dingin, kata shinta ibunya enggak punya, terus yang lainnya juga udah lama belinya, mamah juga terus aa sama de qinar." kata vian
" iya udah kita beli, tapi nanti sore aja ya perginya, mamah ada kerjaan soalnya." kata lily
" oke kalau begitu, papah juga mau ke YPL dulu, apa perlu kita ajak ibu juga," kata vian
" nanti aja pas sarapan bilang, iya sudah kalau begitu, mamah tunggu di kantor LCI aja ya." kata lily
" iya nanti papah ke kantor LCI jemput kalian. Aa ajak jangan." kata vian.
" enghak usah pah, kasian capek baru kemarin dari KBB, besok kesana lagi." kata lily
Mereka pun pergi sarapan, lily pun bilang ke ibunya dan ibu yang lainnya.
" iya dong masa kita enggak ikut." kata bu retno
__ADS_1
" kalau begitu nanti sore aja kita ketemu di mall ya." kata lily
" besok kita berangkat ke KBB maximal jam 6, untuk jaga jaga kita menginap disana jadi persiapkan aja." kata vian
selesai sarapan vian dan shinta siap siap pergi ke YPL, vian mengabari pak dede supaya datang ke rumah karena mau pergi ke YPL.
Jam 9.07 menit vian dan shinta pamitan pergi ke YPL, lily, astrid dan dilla pun mereka pergi ke LCI. Di perjalanan vian berhenti di supermarket untuk membeli minuman dan makanan ringan serta stok rokok vian, tak lupa vian juga membeli untuk pak dede dan putra, srtelah itu melanjitkan perjalanan lagi.
" pak besok pergi jam berapa, pakai minibus kan." kata pak dede
" berangkat jam 6, iya pakai minibus." kata vian
" gimana ada obrolan apa di karyawan L-Trans." lanjut vian
" alhamdulillah mereka pada semangat pak." kata pak dede
" ini kita ke villa atau pangsung ke kantor YPL." kata pak dede
" ke kantor YPL aja." kata vian
" lanjutkan saja diskusinya." kata vian, dia pun melihat apa yang sedang mereka diskusikan. Bayu pun melaporkan perkembangan YPL kepada vian, lalu vian mengecek ke lokasi sekolahan. Karena sudah jam makan siang vian dan shinta pergi ke restoran, vian menyuruh pak dede dan putra memesan makanan disana juga. Sambil menunggu makanan siap vian merokok di luar bersama pak dede dan putra. Tak lama shinta memanggil untuk makan. Selesai makan vian ke mesjid. dari mesjid vian pergi ke villa untuk istirahat.
" papah mau dibuatkan kopi." kata shinta
" boleh sayank terimakasih ya." kata vian, vian menyalakan rokoknya, tak lama shinta datang membawa kopi lalu duduk di samping vian, dia menyandarkan kepalanya ke bahu vian.
" pah, aku senang bisa menemani papah terus, kemarin ibu bilang, apa enggak akan jadi beban kalau ibu dan deni tinggal di rumah." kata shinta
" iya enggak lah, lagian udah waktunya ibu untuk istirahat, papah masih bisa ngasih makan dan biayai deni kuliah, memangnya ibu ada keinginan apa selain buat biaya hidup dan deni." kata vian
" enggak pernah ngomong sih pah, tapi ibu merasa enggak enak." kata shinta
" papah kan udah pernah bilang, kita yang akan enggak enak kalau ibu masih kerja, bukannya papah enggak mau mendengar ocehan orang lain, tapi apakah ibu akan merasa enak juga kalau anaknya diomongin, kalau untuk aktivitas ibu kan papah udah siapkan perusahaan buat mereka, apa ada omongan yang enggak enak dari yang lainnya." kata vian
" aku juga udah bilang pah, enggak ada ibu bilang dia merasakan kehangatan berada di keluarga ini," kata shinta
__ADS_1
" jadi ruko dan rumah itu bisa dipakai oleh paman kamu, tapi bukan menjadi hak milik mereka." kata vian
" iya ibu bilang gitu, seenggaknya kita juga bisa bantu mereka." kata shinta
" nanti kamu atur aja ketemu sama paman kamu, kita obrolkan," kata vian
" paling habis pulang dari KBB pah, supaya toko juga enggak begitu lama tutup, sayang pelanggan yang udah ada." kata shinta
" iya udah kamu atur aja jadwalnya, mau malam ini juga enggak apa apa," kata vian
" aku coba tanya ke ibu, supaya ibu bisa hubungi paman juga." kata shinta, dia pun langsung telepon ibunya.
" iya pah paman mau ketemu nanti malam di rumah kita," kata shinta
" iya sudah kalau begitu, itu kan asset keluarga peninggalan ayah kamu, jadi kamu juga harus bisa mengelola asset tersebut, kamu harus bisa menjelaskan ke deni juga, dan niatkan untuk membantu paman semoga ini menjadi amalan yang baik dan mengalir ke almarhum ayah kamu." kata vian
" aamiin, terimakasih ya pah." kata shinta, dia pun memeluk vian dan mencium pipinya.
" kenapa kamu mau." kata vian
" memangnya papah udah enggak mau gitu." kata shinta, lalu vian mematikan rokoknya dan minum air putih, mereka pun pergi ke kamar. Mereka pun memelakukan pemanasan dan permainan sesungguhnya, setelah mendapatkan kepuasan vian dan shinta pun berpelukan lalu mereka mandi dan siap siap pulang. Vian pun mengabari lily mau jam berapa. pergi belanjanya.
Jam 4.17 menit mereka pun pergi ke ruko bersama shinta dan ibu serta ibu mertuanya. Vian dan shinta pindah mobil lalu berangkat ke mall, jam 4.47 menit mereka tiba di mall, lily langsung membawa mereka ke toko yang menjual pakaian, mereka pun memilihnya, tak lupa lily membeli pakaian untuk devan dan de qinar, lily juga memberi tahu mereka bahwa minggu depan mau ke pantai sekalian aja membali pakaian yang di butuhkan disana.
Selesai berbelanja mereka pulang ke rumah, sampai di rumah mereka kembali ke kamar masing masing untuk mandi dan ganti pakaian, selesai magrib mereka makan malam bersama, setelah makan vian pamitan pergi ke gazebo.
Di gazebo vian membuat kopi dan menyuruh indra menyiapkan panggangan jagung bakar karena mau ada pamannya shinta. Vian menyalakan rokoknya dan meminum kopi. Tak lama shinta datang bersama ibu anita ke gazebo.
" nak apa enggak akan merepotkan kalian kalau ibu dan deni tinggal disini." kata bu anita
" iya enggak dong bu, saya malahan senang, jadi kita enggak terlalu khawatir kalau ibu dan deni ada disini," kata vian
" terimakasih ya nak." kata bu anita
mereka pun mengobrol sambil menunggu pamannya shinta datang.
__ADS_1