
Vian mengecek laporan sambil merokok, tak lama datang pak bambang kesana.
" wah lagi ada acara apalagi nih." kata pak bambang
" biasa saja pak kumpul keluarga sambil bicarakan persiapan umroh." kata vian
" pak vian dan keluarga mau pergi umroh, semuanya pak." kata pak bambang
" InsyaAllah pak sama distributor LNI." kata vian
" ibu juga udah daftar pak, boleh kan." kata ibu sisil
" aku juga udah daftar pak." kata silvy dan silvia
" terus bapak gimana sama siapa disini." kata pak bambang
" iya bapak ikut juga." kata ibu sisil
" kapan memang rencananya pak." kata pak bambang
" insyaAllah bulan depan, minggu ke 2 atau ke 3." kata vian
" iya sudah kalau begitu, saya daftar juga, mudah mudahan gak ada cara penting." kata pak bambang
" iya, mudah mudahan saja bapak bisa ikut biar rame." kata vian
" ibu lily tumben diam, kenapa sedang sakit." kata pak bambang
" gak pak, saya cuma lagi kesal saja." kata lily
" kesal kenapa bu, pak vian mau nikah lagi." kata pak bambang
" dia tuh mau ketemu sama mantannya." kata lily
" aduh mah mah, siapa yang mau ketemu sama mantan sih, papah kan cuma mau datang ke kantor BLS." kata vian
" iya datang kesana, sekalian janjian ketemu." kata lily
" kalau lun gak janjian kan pasti ketemu kalau dia masuk kerja." kata vian
" oh mantan pak vian kerja di BLS." kata pak bambang
" iya pak, dulu dia pacaran waktu masih perusahaan investama." kata lily
" iya gak apa apa dong bu, toh ibu jadi pemenangnya." kata pak bambang
" jadi pengen lihat seberapa cantiknya dia, sampai selevel bu lily cemburu." kata ibu sisil
" biasa saja sih bu orangnya, tapi gak tau saya kesel kalau lihat dia." kata lily
__ADS_1
" kok bisa seperti itu, mungkin sekarang dia menyesal sudah melepas pak vian, apa dia belum menikah." kata ibu sisil
" sudah bu, sudah punya anak 2." kata lily
" jangan jangan de qinar mau punya adik lagi." kata ibu sisil
" gak mungkin bu, saya sedang datang bulan kok." jawab lily
" pantes saja sedang sensitive." kata ibu sisil.
mereka pun mengobrol santai, karena sudah malam pak bambang, ibu sisil, silvy dan silvia pamitan untuk pulang. Vian dan yang lainnya pun masuk ke dalam rumah. Setelah masuk kamat vian duduk di sofa, astrid dan dilla menemaninya.
" mamah kenapa sih, kaya ABG aja ngambek gak jelas." kata vian
" gak jelas dimananya, orang papah niat mau ketemu sama dia kok." kata lily
" iya terus mamah maunya gimana sekarang." kata vian yang sudah mulai gak tahan akan kelakuan lily.
" menurut papah harus gimana." kata lily
" udah mas, mbak lagi cape." kata astrid menenangkan
" iya udah mas pergi dulu ya." kata vian lalu beranjak pergi
" mas mau pergi kemana." kata dilla
" kemana aja, mas pengen istirahat." kata vian
" mas ke depan, mau ngerokok." kata vian. Astrid dan dilla pun gak bisa menghalangi lagi.
Vian pergi mengambil kunci mobil lalu pergi ke arah villa livi residence. Dengan beban kerjaan dan masalah dengan lily membuat vian tidak konsentrasi dalam menyetir mobilnya, sekitar 15 menit lagi menuju villa dengan kecepatan yang lumayan kencang vian tidak bisa menghindar sebuah truk dari arah berlawanan yang sedang menyalip truk lainnya, vian berusaha menghindar dari tabrakan dengan membanting stir ke kiri tapi masih tersenggol badan truk sehingga mobil vian terlempar 7 meteran, Mobil vian terberhenti tertahan pohon di pinggir jalan dan truk juga bisa menghindar ke arah lain sehingga kecelakaan berat pun terhindar. Keadaan lalulintas tidak begitu ramai. Melihat kejadian kecelakaan tersebut warga sekitar berusaha menolong dan kebetulan tak lama ada mobil patroli polisi yang memang biasa berpatroli kalau malam karena daerah itu rawan kejahatan.
Polisi yang melihat kejadian tersebut langsung menelepon ambulance dan berusaha mengevakuasi kendaraan vian. vian terhimpit badan mobil dan mukanya terkena pecahan kaca. Vian pun gak sadarkan diri. Tak lama ambulance pun datang dari rumah sakit livi yang memang gak jauh dari tempat kejadian. Setelah di evakuasi vian di bawa ke rumah sakit livi. dokter UGD pun bergerak cepat, setelah mengetahui orang yang sedang di rawat di UGD tersebut dari kartu identitas di dompet vian, dokter jaga pun menelepon dr. Chandra memberitahukan bahwa vian mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di UGD. Dr. Chandra pun datang dengan terburu buru ke ruang UGD kebetulan beliau belum pulang. dr. Chandra meminta dokter untuk melakukan yang terbaik, dokter jaga pun melakukan tindakan pengangkatan pecahan kaca di ruang operasi.
Di saat kejadian itu pula astrid dan dilla yang mau minum vitamin gelasnya jatuh " PRAAAAAANG" gelas itu jatuh ke lantai "Astaghfirullah" kata mereka serentak. " kalian kenapa." kata lily
" gak tau mbak kenapa." kata astrid dan dilla
" vian kemana." tanya lily
" tadi bilang mau merokok mbak ke depan." kata astrid
" oh.. Iya udah kalian hati hati, biar mirna nanti yang bereskan." kata lily, lalu dia pergi ke bawah memanggil mirna. Lily pun meminta mirna untuk membersihkan gelas yang pecah.
" ada apa ly, kok tadi kedengaran suara gelas pecah." kata ibu retno yang mendengar suara gelas pecah.
" itu bu, tadi astrid dan dilla mau minum vitamin gelasnya jatuh." kata lily
" terus vian kemana." tanya ibu retno yang merasa ada sesuatu terjadi
__ADS_1
" kata astrid katanya mau merokok di depan, makanya aku mau lihat," kata lily
Lily pergi ke depan melihat keberadaan vian, setelah melihat di depan gak ada, dia pun pergi ke gazebo, di gazebo pun gak ada.
" gimana ada gak" kata ibu retno
" gak ada bu, kemana dia." kata lily masih ketus
" coba tanya pak sunarto barangkali dia tau." kata ibu retno. Lily dan ibu retno pun pergi ke depan
" pak lihat vian gak." kata ibu retno
" tadi bapak bilang mau ke luar bu." kata pak sunarto
" gak bilang mau kemana." kata ibu retno
" gak bu, soalnya kelihatan bapak buru buru." kata pak sunarto
" iya sudah pak terimakasih." kata ibu retno
mereka pun kembali ke dalam
" ada apa sih, kamu masih ribut sama vian." kata ibu retno, lily pun terdiam. Disaat itu handphone lily di kamar berbunyi, astrid melihatnya di dekat kasur. karena gak biasanya ada telepon masuk jam 11 malam, astrid melihat siapa yang telepon dan mengangkatnya karena ID penelepon Dr.Chandra dan dia mendapatkan firasat kurang baik.
" selamat malam bu, maaf saya mengganggu, saya mau mengabarkan bahwa bapak kecelakaan sekarang sedang di rawat di ruang operasi." kata dr. Chandra. Astrid yang mendapat kabar vian mengalami kecalakaan langsung lemas dan terjatuh pingsan di kasur. Dilla yang melihat keadaan itu pun jadi panik. Dia menyuruh mirna yang sedang membersihkan pecahan gelas memanggil lily. Dilla terus berusaha membangunkan astrid. Mirna yang sudah membersihkan kaca tapi belum sempat membuangnya pun lari ke bawah.
" ibu... Ibu... Ibu.. Bu astrid pingsan." kata mirna, lily dan ibu retno pun datang ke kamar.
" kenapa bisa pingsan." kata ibu retno pun panik
" tadi bu, handphone mbak bunyi astrid mengangkatnya, tapi setelah mengangkatnya dia pingsan." kata dilla
lily pun melihat siapa yang meneleponnya, setelah melihat ternyata baru saja mati. Lily menelepon balik.
" selamat malam dokter, ada apa ya, soalnya tadi yang angkat handphone saya astrid dan sekarang dia pingsan." kata lily
" aduh maaf banget ibu, itu bu saya tadi mengabarkan bahwa bapak mengalami kecelakaan dekat rumah sakit, sekarang beliau sedang di rawat di ruang operasi rumah sakit livi." kata dr. Chandra
" apa dokter, suami saya kecelakaan." kata lily
" iya bu, informasi yang saya terima dari pihak kepolisian bapak tabrakan dengan truk." kata dr. Chandra
" terimakasih dokter informasinya." kata lily, lily pun terduduk lemas di kasur dan dilla yang mendengar informasi itu lemas lalu pingsan di sebelah astrid.
" ly ada apa." kata ibu retno yang tadi tidak begitu mendengar karena mengurus astrid.
" vian bu......" kata lily menangis
" iya.. Vian kenapa." tanya ibu retno
__ADS_1
" dia kecelakaan bu." kata lily lirih. Mendengar kabar tersebut bi retno pun terdiam, lalu menyuruh mirna memanggil ibu asti dan ibu sri serta ibu ningsih. Mirna pun buru buru turun memanggil semuanya.