
Vian pun membuat kopi. Lalu melihat laporan perkembangan dan perencanaan dari perusahaan perusahaan miliknya. Tak lama handphonenya berbunyi.
" maaf pak mengganggu, sebentar lagi pesanan bapak akan dikirim, kebetulan ada mobil L-Trans akan kembali ke jakarta." kata opik
" iya pik, terimakasih banyak." kata vian
" sama sama pak, memangnya mau ada siapa." tanya opik
" pak menteri Sosial, katanya dia mau berkunjung silaturahmi dan ingin mencoba jagung bakar." kata vian
" jangan jangan bapak benar benar mau nyalon nih." kata opik
" enggak kefikiran sejauh itu pik, saya sudah bersyukur bisa kenal sama mereka aja." kata vian, setelah berbasa basi vian menutup teleponnya. Vian meminum kopi lalu menyalakan rokoknya lagi. Tak lama lily dan shinta datang menemui vian
" pah aku ke kantor LCI dulu ya, enggak apa apa." kata lily
" iya sudah enggak apa apa, mamah enggak cape." kata vian
" enggak lah pah, malahan kalau di rumah enggak enak badan." kata lily
" aku kurang enak badan pah, aku di rumah dulu ya." kata shinta
" iya sayank enggak apa apa di rumah aja, nanti papah kesana." kata vian, lily pun pamitan lalu pergi ke kantor LCI
" kamu mau ke dokter.?" tanya vian
" enggak pah aku hanya sedikut pusing aja, mungkin bawaan hamil aja." kata shinta
" tapi kamu harus bilang ya, jangan sampai kamu enggak kenapa kenapa, dan kalau ada yang kamu mau bilang ya." kata vian
" iya pah, pasti aku bilang kok, terimakasih ya pah." kata shinta
" kamu mau makan apa." kata vian
" aku mau yang seger seger pah." kata shinta
" apa makanan atau buah buahan." kata vian
" aku mau sop buntut, sama jus strowbery." kata shinta
" iya udah kita makan ke restoran aja kalau begitu." kata vian
" ikut dong pah, kita udah lama enggak keluar rumah." kata astrid yang mendengarkan obrolan vian dan shinta, dia sedang menjemur de avin
" iya pah aku juga ikut ya." kata dilla yang sedang menjemur de alea
" iya sudah nanti kita sama sama pergi." kata vian
" terus de avin sama de alea dibawa juga." lanjut vian
" enggak pah, titip sama asri dan della aja, lagian stok ASI ada kok di freezer." kata astrid
" iya sudah kalau begitu nanti siang kita pergi ya." kata vian
__ADS_1
" papah enggak ajak aa perginya." kata devan yang sedang main
" aa mau ikut memangnya." kata vian
" ikut dong pah, aa bosen di rumah aja." kata devan
" boleh sayang, kalau aa memang mau ikut." kata vian
" asyiiik aa mau beli mainan." kata devan
" aa kita mau pergi makan, bukan mau beli mainan." kata astrid
" iya habis makan kita pergi beli mainan, iya kan pah." kata devan
" iya gimana aa aja deh." kata vian
" nenek di ajak enggak a." kata bu retno
" mobilnya penuh nek, jadi nenek enggak usah ikut ya." kata devan
" kan ada bus, jadi nenek bisa ikut." kata bu retno
" iya deh boleh." kata devan
vian minum kopi lalu menyalakan rokoknya, setelah itu vian telepon lily, lalu menelepon pak dede supaya menyiapkan minibus.
" iya sudah bawa aja deh de qinar, de avin sama de alea supaya dia nanti enggak kaget juga lagian mereka sudah mau 3 bulan juga, insyaAllah mereka kuat, lagian sudah lama juga kita enggak makan di luar sama sama." kata vian
" iya anak anak sekarang beda dengan anak anak zaman dulu." kata bu ningsih
" iya bu, anak sekarang enggak kaya anak zaman kita dulu," kata bu asti
Jam 11.17 menit mereka pun siap siap pergi, pak dede sudah siap di rumah, setelah siap semuanya mereka pun pergi ke kantor LCI menjemput Lily. Vian turun dari minibus bersama devan pergi ke kantor LCI
" mah, ayo kita makan siang dulu." kata vian
" iya ayo, kok aa juga ikut." kata lily
" mamah shinta, mamah astrid dan mamah dilla juga ikut mah, nenek sama kakek juga ikut, bahkan de qinar, de avin sama de alea juga ikut." kata devan
" memangnya mau kemana." kata lily
" mqu makan, terus mau beli mainan untuk aa." kata devan. Lily pun mengajak bu sisil pergi juga, mereka pun petgi ke restoran untuk makan siang. Jam 11.47 menit mereka sampai di restoran, merrka pun memesan makanan, shinta memesan sop buntut dan jus strowbery.
" asyik berarti kita susah bisa jalan jalan untuk liburan pah." kata lily
" iya udah, mau liburan kemana memangnya." kata vian
" jangan jauh jauh mbak, kasihan de avin." kata astrid
" memangnya kita mau ajak kamu apa." kata lily
" ih mbak gitu banget sih." kata astrid
__ADS_1
" kita ke bali aja ya." kata bu retno
" boleh... Sebelum liburan sekolah jadi enggak begitu rame, nanti pulang dari sana kita ke singapura." kata lily
" iya udah mamah atur aja." kata vian
" tapi de avin sama de alea belum punya pasport." kata astrid
" iya udah enggak usah di ajak aja pah." kata lily
" mulai deh, anak kembar ini kalau sudah becanda." kata bu retno
" iya udah nanti buat pasport sekalian astri dan della." kata vian
" iya udah siapkan persyaratannya ya, astri sama della, kamu minta dikirimaja persyaratannya dari orang rumah kalian." kata lily
" baik bu." kata astri dan della
" oh iya pah, mamah udah pesan makanan, jadikan kunjungan pak menteri sosial ke rumah nanti malam." kata lily
" sepertinya jadi, pak menteri UMKM enggak memberi kabar apa apa lagi." kata vian
setelah pesanan makanan di hidangkan, mereka pun makan bersama. Selesai makan vian pergi ke tempat pak dede dan haris dan putra duduk sambil membawa minumannya, vian menyalakan rokoknya.
" oh iya pak de, barang kiriman dari LA dan dari PBN, sudah jalan dari sana." kata vian
" sudah pak, sebentar lagi sampai pak, saya suruh langaung kirim ke rumah bapak aja." kata vian
" syukur kalau begitu. besok kirim beras dan yang lainnya ke panti asuhan ya." kata vian
" siap pak, nanti sore juga bisa pak." kata pak dede
" iya audah kalau begitu, nanti saya lihat waktu, kalau memang saya bisa, sama saya kesananya." kata vian
" baik kalau begitu pak." kata pak dede
" saya mau lihat kondisi disana setelah mereka pindah." kata vian lalu menghisap rokoknya
" enak ya sekarang kebutuhan pokok juga bisa livi group kuasai juga." kata pak dede
" setidaknya untuk kebutuhan livi group bisa aman pak de. Jadi enggak khawatir." kata vian
" itu dia pak, dengan harga sembako yang turun naik livi group enggak khawatir atas pluktuasi harga tersebut, dan panti asuhan pun setidaknya untuk kehidupan mereka sudah aman." kata pak dede
" iya. Harusnya pengurus panti asuhan tidak perlu memikirkan lagi anak anak makan dari mana, apa bisa anak anak makan, gimana pendidikan anak anak, tinggal memikirkan pertumbuhan dan perkembangan anak anak itu aja." kata vian
" iya pak, fokus pengurus hanya ke pendidikan mereka aja, tidak usah memikirkan lagi untuk kebutuhan hidup anak anak." kata pak dede
" jujur saja, saya masih khawatir pola berfikir para pengurus masih seperti dulu, dan saya takut kalau ini dijadikan alat untuk mereka menerima banguan untuk kepentingan pribadi." kata vian
" iya sudah nanti bapak kasih teguran bahkan pemecatan saja, menurut saya mereka sudah sangat beruntung mendapatkan fasilitas rumah, gaji dari yayasan sosial livi." kata pak dede
karena semuanya sudah selesai makan, vian mengajak mereka ke mall, karena mau membeli mainan untuk devan, mereka para isteri dan ibu serta mertuanya asyik aja bisa pergi jalan jalan.
__ADS_1