
Shinta pun menyandarkan kepalanya ke bahu vian, mereka terus mengobrol
" kamu udah minum obat belum." kata vian
" udah dong mas, aku enggak lupa, tapi kalau mas menginginkan anak dari aku, aku enggak akan minum obat." kata shinta
" jangan sekarang ya." kata vian
" iya a, aku juga enggak mau sekarang, gimana tanggapan orang." kata shinta
" aa kita berendam yu, habis berenang tadi kita belum mandi, lengket nih." kata shinta
" iya sudah kamu siapkan dulu." kata vian, shinta pun berdiri lalu pergi ke jakuzi mengisi air. Shinta pun mengambil handuk dan meletakannya di dekat pemandian.
" ayo a, udah siap nih." kata shinta, dia pun sudah membuka bajunya dan berendam. Vian pun membuka baju lalu ikut berendam. Di kolam rendam itu shinta memijit bahu dan kelapa vian, bukit kembarnya pun menempel di punggung vian, setelah itu shinta duduk dipangkuan dan menghadap vian, ciuman bibir pun tak luput, ini awal dari pemanasan, vian meremas dan ******* kedua bukit shinta, ******* membuat suasa menjadi tambah panas. Akhirnya mereka bedua pun mencapai puncaknya. Vian dan shinta pun mandi dengan saling menyabuni lalu membersihkan tubuhnya.
Vian dan shinta pergi ke kamar untuk berpakaian, setelah itu vian duduk di sofa dan melihat televisi. Vian meminum kopi yang dibuat shinta tadi lalu menyalakan rokoknya, shinta mengeringkan rambutnya lalu merapihkan pakaian kotor. Setelah merapihkan pakaian dia duduk di samping vian lalu merangkulnya.
" aku bahagia a, bisa bersama aa seperti ini." bisik shinta di telinga lalu dia mencium pipi vian
" oh iya sayang kamu beli mobil ya, supaya kalau hujan kamu enggak kehujanan dan kalau pergi sama ibu kamu lebih nyaman." kata vian
" enggak usah a, aa juga kan banyak pengeluaran, nanti isteri aa tau gimana." kata shinta
" ini uang saya pribadi yang saya dapatkan sebelum nikah sama isteri. Ini bentuk tanggung jawab saya ke kamu." kata vian sambil menghisap rokoknya
" terserah aa aja, tapi jangan sampai membebani aa ya." kata shinta mempererat pelukannya
" iya, terimakasih ya udah ngertiin kondisi saya." kata vian
" aku suka dan sayang sama aa dan melakukan hal seperti ini bukan karena aku ingin harta aa, tapi aku hanya ingin kasih sayang aa." kata shinta, vian pun memeluk shinta.
sore hari vian meminta pak made untuk menyiapkan mobil dan meminta ada sopir yang mengantarnya, Hilda sudah menunggu di depan resort. Vian dan shinta pun pergi kesana. Mereka pun pergi jalan jalan diantar pak Jaka sopir resort.
" terimakasih pak sudah mau ajak saya jalan jalan." kata hilda
" santai aja. Supaya kamu bisa menenangkan fikiran kamu." kata vian
__ADS_1
" iya tuh pah semenjak pagi dia merengut aja, tapi setelah bapak mengumpulkan kami dia bisa tersenyum lagi." kata pak jaka
" saya salut sama dia di umur segini dia mau kerja keras membantu orang tua." kata vian
" betul pak, saya berterimaksih atas kebijakan yang bapak buat buat kami, setidaknya kami bisa lebih menghemat dan kita bisa lebih tenang dalam bekerja karena kalau ada apa apa dan kita lagi sedang tidak ada uang, perusahaan bisa menghandle terlebih dahulu." kata pak jaka
" sama sama pak jaka, yang penting kalian bisa bekerja dengan baik, dan bantu supaya resort ini berkembang." kata vian
" akan saya lakukan semampu saya pak." kata pak jaka
" pak jaka asal dari mana." tanya vian
" saya dari surabaya pak, keluarga saya disana, saya pulang 2 bulan sekali." kata pak jaka
" keluarga pak jaka tinggal dimana." kata vian
" isteri dan anak anak numpang sama orang tua, mau punya rumah sendiri belum mampu pak." kata pak jaka
" pak jaka memiliki anak berapa." tanya vian
" 2 pak, yang pertama laki laki kelas 2 SMA, yang ke dua perempuan kelas 2 SMP." kata pak jaka
" tapi saya enggak punya biayanya, tambah lagi untuk kostnya." kata pak jaka
" untuk yang sekolah bisa di asrama, dan yang kuliah bisa tinggal di kos kosan atau asrama kampus. Biayanya nanti biar perusahaan yang menanggung." kata vian
" nanti saya tanyakan ke anak anak pak, terimakasih perhatiannya." kata pak jaka
" pak jaka mau enggak memiliki rumah." kata vian
" mau banget pak, tapi saya enggak ada uangnya." kata pak jaka
" saya sedang membangun perumahan di daerah S dekat pabrik LCI, kalau bapak mau, bapak bisa mencicilnya tanpa uang muka dan cicilannya bisa disesuaikan dengan kemampuan bapak." kata vian
" ini seriusan pak." kata pak jaka
" kenapa saya bohong, saya swbelum kesini saya baru meresmikan pembangunannya bersama pak walikota, kalau benar bapak mau saya akan bookingkan nanti lihat type rumah dan kemampuan bapak." kata vian
__ADS_1
" nanti 2 mingguan lagi saya kesana ada acara penyuluhan di dinas daerah L, kalau bapak bisa kesana bisa sekalian ketemu saya dan nanti lihat lokasinya." kata vian
" boleh pak, nanti saya bisa tukeran libur sama yanh lain kalau begitu, terimakasih loh pak sebelumnya." kata pak jaka
" kalau kamu hilda, rumah yang ditempati orangtua milik sendiri atau ngontrak." kata vian
" milik sendiri pak, tapi rumah sangat sederhana dan suka banjir, sekarang katanya akan dilakukan revitalisasi sungai jadi akan ada penggusuran, hal itu juga yang membuat keluarha bingung mau pindah kemana." kata hilda
" iya udah kamu pindah aja ke perumahan livi residence, nanti kalau kamu kuliah dekat dengan rumah dan kamu nanti bisa kerja di restoran disana juga." kata vian
" ini seriusan pak, saya bisa memiliki rumah di perumahan livi residence." kata hilda
" saya serius, kamu masih muda, potensi kamu besar. Kamu kamu bisa libur 2 atau 3 hari dari sini." kata vian
" saya libur senin sampai rabu besok pak." kata hilda
" iya sudah kamu besok bareng kita pulang ke jakarta, nanti hari rabu kamu pulang lagi kesini, biar saya yang tanggung tiket pesawatnya." kata vian
" beneran ini pak, saya enggak lagi mimpikan," kata hilda
" apa perlu saya tampar kamu supaya kamu bisa bangub." kata vian sambil ketawa, mereka pun ketawa
" jangan pak sakit." kata hilda semangat
" mana saya minta KTP kamu, supaya dipesankan tiket buat besok dan pulang lagi kesini." kata vian. Hilda pun mengambil dompetnya dan memberikan KTPnya kepada vian, vian pun mengambil photo KTP hilda, setelah itu mengirimkan pesan ke pak dede supaya besok di pesankan tiket bareng dia. Vian pun mengembalikan KTP Hilda.
" kalau enggak sekarang saya enggak tau kapan lagi bisa mengurus hal seperti ini karena InsyaAllah akhir bulan depan kami akan berangkat Umroh dan bulan depan tentunya harus melakukan persiapan." kata vian
" bapak dan keluarga mau pergi umroh." kata pak jaka
" iya pak, kita barengan sama Tim LNI dan distributor LNI, terus pak Bambang ketua dewan, keluarga pak Gubernur B, Keluarga Pak gubernur D, Keluarga pak Bupati KBB, dan Keluarga pak Gubernur L, kurang lebih 100 orang." kata vian
" waduh banyak banget bareng sama pejabat juga lagi." kata pak jaka
" pak jaka dan hilda juga nanti ada waktunya untuk bisa pergi kesana. Makanya bantu perusahaan ini maju." kata vian
" pasti pak." jawab pak jaka dan hilda.
__ADS_1
akhirnya mereka pun tiba di tempat wisata, pak jaka memarkirkan mobilnya lalu mereka melihat lihat suasana disana.