Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Kita Ditakdirkan untuk bertemu


__ADS_3

Vian pun masuk bersama sama lily, astrid dan dilla, mereka membawa hadiah dari devan.


" pah kapan si aa membeli hadiah ini." kata lily


" tadi habis kalian ke kantor papah sama aa dan ibu pergi belanja ke mall." kata vian


" kok dia kefikiran ngasih hadiah buat kita." kata lily


" pagi pagi papah lagi ngopi di gazebo aa datang, dia tanya pah ini bekas apa kok bagus, papah bilang ini bekas mamah ulang tahun, aa enggak ngasih hadiah sama mamah. Dia bilang iya sudah nanti kita beli ya pah, aa bilang begitu." kata vian.


" terus itu ibu kok beli juga." kata lily


" ibu minta dibelikan sama aa," kata vian


vian pun duduk di sofa, dilla menghampiri vian lalu duduk disampingnya dan menyandarkan kepalanya di bahu vian.


" kamu kenapa sayang, cape ya." kata vian


" iya mas, tapi enggak apa apa, dede bayi juga alhamdulillah sehat." kata dilla


" tapi kamu jangan terlalu cape, bulan depan kita kan mau umroh, fisik kamu harus bagus sayang." kata vian


" iya mas, makasih ya, aku bahagia bisa jadi isteri mas." kata dilla


" mas juga bahagia bisa memiliki kalian. Mas minta maaf kalau belum bisa jadi suami yang baik buat kalian." kata vian


" aku maafkan mas walau mas enggak minta pun, aku tau tanggung jawab mas setelah kehadiran kita menjadi lebih besar lagi." kata dilla


" terimakasih ya sayank." kata vian lalu mencium kening dilla


" mamah yang ulang tahun yang seharusnya disayang." kata lily melihat dilla dicium


" oh mamah mau disayangnya pas ulang tahun aja." kata vian


" enggak gitu dong, hari ini kan spesial buat mamah." kata lily, dia pun menghampiri vian lalu mencium pipi dan bibir vian.


" papah sayang kalian semuanya, papah mau mandi dulu ya." kata vian sambil berdiri.


" aku juga belum mandi, mandi bareng ya ya pah." kata lily


" iya ayo mandi bareng." kata vian

__ADS_1


" kasian deh yang udah mandi." kata lily menggoda astrid yang sudah mandi


" biarin aja, aku kan udah tadi pagi." kata astrid


" pantesan kamu ya." kata lily


" habis mbak sama dilla tidurnya lelap." kata astrid


lily yang mendengar perkataan astrid tersenyum menggoda dan khawatir


" tapi enggak dikeluarkan di dalam kan, kasian nanti dede bayinya." kata lily


" enggak mbak, mas udah tau kok." kata astrid


" iya syukur kalau begitu. Iya udah aku mau merayakan ulang tahun aku dulu, dill kamu mau ikutan enggak." kata lily


" iya mbak." jawab dilla lalu dia pun pergi menuju kamar mandi, sedangkan vian sedang berendam di bathub, lily dan dilla menyusul ikut berendam disana. Lily duduk menghadap vian lalu menciumnya, gelora mereka pun bergejolak, vian menciumi leher lalu bukit kembar lily, sedangkan pusaka dan mahkota lily saling bergesekan membuat lily merintih rintih. Vian pun duduk di pinggiran bathub lalu memasukan pusakanya ke dalam mahkota lily, karena saking bergairahnya lily pun menggelinjang" pah aku sampai." vian membirakan pusakanya lalu menarik dilla dan menciumi leher dan meremas bukit kembarnya, gesekan pusaka dan mahkota milik dilla pun terjadi, setelah cukup pemanasan vian memasukan pusakanya ke dalam mahkota dilla, karena khawatir akan kondisi bayinya vian pun tidak seextrim dengan lily, vian hanya merangsang dengan menciumi leher leher dan bibir dilla. " mas aku mau sampai." kata dilla lalu dia pun menggelinjang dan memeluk vian. Vian pun memberikan ciuman hangat, lalu menyuruh dilla untuk bersih bersih. Kini vian dan lily melakukan permainan lagi dengan berdiri di bawah shower, vian menciumi bukit kembar lily dan memasukan pusakanya ke dalam mahkota lily. Membuat lily bergerak liar mencari kepuasannya." pah, mamah mau sampai, kita barengan ya." " iya sayank, papah sebentar lagi.".. Vian pun mempercepat permainan " ah pah, mamah enggak tahan lagi." di saat tubuh lily menegang vian pun mencapai puncaknya. Mereka mencapai puncak bersama, lalu saling berciuman dan menyalakan kembali shower, saling menyabuni lalu membersihkannya. Setelah mandi vian dan lily ke luar kamar mandi lalu memakai pakaiannya.


" papah minggu depan jadi ke surabaya." kata lily


" jadi mah, papah mau cek pembangunan perumahan sama pak daryat, dan antar bapak dan ibu membuat pasport. Kalau masih sempat ada kemungkinan papah ke bali, mau cek perkembangan resort." kata vian


" iya tuh terabaikan, papah jangan sampai cape aja ya, kan kita mau pergi umroh." kata lily


" aku ikut ya mas, aku mau ke makam bapak," kata astrid


" jangan as, nanti kamu kecapain, nanti aja kita barengan kesananya, suruh bella aja kesananya, kamu sama dilla harus banyak istirahat, mulai minggu depan coba olahraga ringan disini, supaya nanti pas disana kamu enggak kecapean." kata lily


" iya deh mbak." kata astrid


" papah tadi udah bayar ke travel, dan papah pilih hotel dekat mesjid, dan tolong siapkan berkas berkas buat besok ke kantor imigrasi ya." kata vian


" udah kok pah, berkas kita sama astrid dan dilla udah disatukan dan sudah di photo copy juga, materai juga udah disiapkan." kata lily


" oke kalau begitu, terimakasih ya." kata vian. Vian pun pamit ke mereka lalu pergi ke gazebo disana sudah ada pak adi, pak bowo dan kakek braja, di gazebo vian membuat kopi dan menyalakan rokoknya.


" cu, beneran kamu mau membawa kakek sama nenek pergi umroh, kakek masih seperti mimpi." kata kakek braja


" beneran kek, ini sudah saya bayar." kata vian lalu menunjukan bukti transfer ke travel


" kok banyak banget cu, siapa aja." kata kakek braja

__ADS_1


" kita berangkat kurang lebih 80 orang kek, paling banyak dari keluarga ini, sisanya dari kantor LNI kek." kata vian


" kakek hanya bisa mendoakan kalian, kakek enggak bisa apa apa." kata kakek braja terlihat sedih


" cukup bahkan lebih dari cukup kek, dengan doa doa kakek dan nenek, kita bertemu adalah jalan dari Allah," kata vian


" iya, ini takdir dari Allah, kalau kita enggak bertemu kakek mungkin masih tinggal di gubuk makan pun kalau ada." kata kakek braja


" ini kehidupan yang harus kita jalani dan ini semua takdir dari Allah." kata pak adi


" iya kita ditakdirkan untuk bertemu, kalau lily enggak menikah sama vian, saya tidak akan merasakan sebuah keluarga besar seperti ini dan merasakan indahnya kebersamaan." kata pak bowo


" kamu anak yang baik cu, terus seperti ini walaupun kamu terus berada diatas jangan lupa tengok yang ada dibawah kamu, kakek merasa terharu dan bangga setiap orang di perumahan membicarakan kebaikan kamu di perusahaan." kata kakek braja tersenyum bangga lalu memegang pundak vian. Vian merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir di tubuhnya, vian hanya memejamkan mata menikmati sensasi hangat tersebut.


Karena waktu sudah masuk magrib mereka pergi ke musholla, setelah selesai mereka pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama. Tak lama pak bambang dan keluarganya datang kesana.


" wah maaf ganggu acara makan malamnya nih." kata pak bambang


" enggak pak, ayo makan sama sama pak." kata vian


" kita baru aja makan di rumah, oh iya besok kita berangkat jam 9an ya, biar sampai ke kantor imigrasi enggak terlalu siang." kata pak bambang


" baik pak, terimakasih atas bantuannya." kata vian


" sama sama pak, seperti sama siapa aja." kata pak bambang.


" oh iya om, tante, dan semuanya, besok sore saya dan silvia mau izin pergi ke kampus dulu, mohon doanya ya dari semuanya." kata silvy


" jadinya besok, iya semoga dilancarkan segala urusannya ya," kata vian


" iya om, terimakasih banyak." kata silvy


" iya udah kalau begitu kita bakar bakar dulu malam ini." kata vian


" boleh tuh pah, mamah penhen jagung bakar." kata lily


" kamu ngidam lagi ly." kata bu retno


" enggak bu, lily mewakili astrid dan dilla aja." kata lily


" oh pantesan, anak kembar soalnya ya." kata bu retno.

__ADS_1


Selesai makan mereka pun menuju ke taman, vian menyuruh indra membuat pembakaran dan mengeluarkan sound untuk bernyanyi.


__ADS_2