
Ke esokan paginya, lily menerima banyak pesan dan telepon menanyakan keadaan vian. Lily pun mengucapkan terimakasih atas perhatian semuanya, dia juga menyampaikan bahwa vian selamat karena dia ketinggalan pesawat dan naik pesawat 35 menit berikutnya. Kondisi astrid dan dilla pun membaik.
Lily menelepon vian tapi enggak diaktif handphonenya, membuat dia cemas. Astrid dan dilla pun bergantian telepon tapi sama enggak diangkat.
" pah kenapa? Papah marah ya sama mamah, papah udah enggak mau maafin mamah lagi," isi pesan lily
" pah, aku tau salah, tapi mohon maafkan aku, aku enggak ada niatan sedikit pun untuk berpisah dari papah. Aku sayang papah." pesan astrid
" maafin aku pah, aku enggak ada maksud untuk ninggalin papah, aku enggak akan bisa hidup tanpa papah, aku enggak akan melakukan hal itu lagi pah, maafin aku, aku sayang papah." pesan dilla
karena tidak ada balasan dan melihat bahwa posisi handphone vian online, mereka pun mulai telepon lagi vian. Tanpa nadanya sibuk sekarang. Pas handphonenya di aktifkan banyak notifikasi pesan masuk tak lama handphone berbunyi ada video call masuk dari devan.
" papah, maaf ya semalam aa ketiduran, aa cape." kata devan
" enggak apa apa sayang papah, aa sedang apa." kata vian
" aa lagi main pah, nanti belikan aa mainan ya, ini rusak." kata devan
" boleh, aa mau mainan apa." kata vian
" mobil remote control pah." kata devan
" boleh nanti beli sama papah ya." kata vian
" oke pah. Papah kenapa tangan dan kepalanya seperti itu, papah sakit ya." kata devan
" papah jatuh, jadi ini lagi diobati." kata vian
" oh, makanya papah hati hati biar enggak jatuh." kata devan
" iya papah akan hati hati, terimakasih sayang." kata vian. Dia pun menutup teleponnya.
Lily yang mendengar devan lagi mengobrol dia mendatangi kamarnya.
" aa lagi apa." kata lily
__ADS_1
" aa lagi teleponan sama papah, papah bilang aa mau dibeliin mainan." kata devan
" mamah pinjam handphone aa mau telepon papah sebentar ya." kata lily
" pake handphone mamah aja, memangnya kenapa handphone mamah, aa lagi mau nonton." kata devan
Tak lama handphone lily menerima notifikasi pesan masuk.
" mamah enggak salah kok, apa yang harus papah maafin, papah yang banyak salah sama mamah malahan papah yang seharusnya minta maaf, papah akan terima semua ini karena kesalahan papah, papah akan terima keputusan mamah, astrid dan dilla apapun itu. Tunggu saja papah bereskan dulu janji papah disini, setelah itu baru papah akan mengurus apa yang kalian inginkan, bicara jujur saja walaupun akan menyakitkan." pesan dari vian. Lily langsung telepon vian tapi enggak diangkat
" pah tolong angkat telepon dari mamah." kata lily, lily pun menelepon lagi tapi tetap enggak diangkat.
" maaf papah dari kamar mandi." kata vian, vian pun membuat kopi lalu duduk di sofa dan nonton televisi, vian menyalakan rokoknya, vian melihat berita tentang kecelakaan pesawat tersebut. Tak lama ada video call masuk, vian pun mengangkatnya
" pah, papah udah sarapan." kata lily
" udah ini lagi ngopi." kata vian
" pah, mamah enggak kefikiran untuk meninggalkan papah, mamah sayang papah, kita sayang papah, papah bisa lihat astrid dan dilla, dia harua di infus karena semalam mereka pingsan." kata lily sambil memperlihatkan kondisi astrid dan dilla yang di pasang infusan dan oksigen.
" papah udah bilang kalian enggak salah, papah yang banyak salah sama kalian, maaf udah membuat kalian khawatir." kata vian
" papah enggak mau maafin kita lagi ya. Kita pasti akan khawatir pah, kita sangat terpukul dengan berita kemarin, mamah enggak tau harus apa kalau benar benar itu terjadi sama papah." kata lily
" tanpa kalian minta insyaAllah papah sudah maafin kalian. Papah pergi karena ada masalah kerjaan dan papah ingin menenangkan fikiran aja." kata vian
" mamah akan pergi kesana sama shinta ya." kata lily
" enggak usah, papah enggak apa apa, enggak usah ngerpotin kalian." kata vian
" mamah isterinya papah, bagaimana tanggapan orang kepada mamah, suaminya sakit enggak ada yang ngerawatnya padahal isterinya udah 3." kata lily
" iya sudah terserah mamah aja." kata vian, vian pun menutup teleponnya. Vian meminum kopi lalu menghisap rokoknya. Tak lama kemudian vian menerima telepon dari pak gubernur L.
" pagi pak vian, maaf mengganggu istirahatnya, bagaimana kabarnya," kata pak gubernur
__ADS_1
" alhamdulillah baik pak, gimana ada yang bisa saya bantu pak." kata vian
" saya dari semalam mau menghubungi pak vian karena dapat kabar dari pak gubernur B di group, bahwa bapak ada di dalam daftar nama penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan, saya juga langsung suruh tim evakuasi melakukan yang terbaik. Tapi enggak lama pak gubernur B juga menyampaikan bahwa bapak ketinggalan pesawat itu dan melakukan perjalanan pakai pesawat berikutnya dan selamat di kota ini, kalau boleh tau sekarang bapak ada dimana." kata pak gubernur
" saya ada di rumah pak gub." kata vian
" kalau boleh saya ingin kesana habis dzuhur, boleh minta share lokasinya." kata pak gubernur
" iya pak boleh, nanti saya kirimkan." kata vian, lalu menutup telepon dan mengirimkan lokasinya. Vian menelepon nadhine supaya ke rumah. Nadhine dan erni pun tiba, vian meminta tolong supaya mereka membeli kue dan buah buahan serta air minum kemasan, kopi dan rokok untuknya. Vian memberikan uanh kepada mereka, setelah itu mereka pun pergi.
Vian menerima telepon dari pak wahyudi mengabatkan bahwa dia di telepon lily supaya menjemputnya di bandara. Vian pun mengijinkan pak yudi untuk menjemput lily. Setelah 40 menit nadhine dan erni datang membawa pesanan yang tadi vian minta.
" pak ini kembaliannya." kata nadhine
" buat kalian jajan aja dan ini buat membeli bensin." kata vian sambil memberikan uang lagi
" enggak apa apa pak bensin biar kami saja, kalau ada apa apa yang perlu kami bantu telepon saya aja pak." kata nadhine
" itu kalian ambil, nanti saya kabari ya, terimakasih banyak." kata vian
" kalau begitu kami permisi, mau ke cafe lagi." kata nadhine lalu pergi. Vian pun memakan buah anggur yang dibeli nadhine, vian pun beristirahat sambil minum kopi dan menghisap rokoknya.
Jam 11.17 menit lily datang bersama shinta, lily langsung memeluk dan menciumi pipi vian.
" papah enggak apa apa kan, mana lagi yang sakitnya." kata lily
" hanya ini aja yang di perban." jawab vian, mereka pun duduk di sofa, lily pun terus memeluk vian.
" de qinar sama siapa." kata vian
" sama ibu, katanya enggak apa apa sama mereka, tadinya mau semuanya kesini tapi karena astrid dan dilla masih lemah jadi aja mamah aja sama shinta." kata lily
" kamu udah membuat pengumuman kan." kata vian
" sudah pak, ini juga banyak yang bertanya kesaya, saya mau minta photo bapak untuk di kirim ke group perusahaan." kata shinta, lalu memphoto vian, setelah itu dia mengirimkan ke group perusahaan sebagai bukti bahwa vian tidak kenapa kenapa.
__ADS_1