Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Semakin tinggi semakin kencang tiupan anginnya


__ADS_3

setelah makan malam vian pamit ke gazebo, lily mengerti bahwa suaminya itu pengen merokok.


" mah, papah ke gazebo dulu ya." kata vian


" iya, tapi jangan sampe malam ya, papah juga cape baru datang" jawab lily


" iya sayank. makasih ya." kata vian


vian pun pergi ke gazebo menyalakan rokok. vian menerima pesan dari astrid


" malam pak, saya mau ngasih kabar aja, saya sudah membawa ibu ke rumah sakit dan besok pagi mau diambil tindakannya." pesan astrid


" syukur kalo begitu." jawab vian


" o iya sebentar lagi saya kirimkan photo toko dan alamatnya. maaf karena tadi saya ngurus ibu dulu." kata astrid


" iya gak apa apa, gak buru buru juga." jawab vian. gak lama astrid mengirimkan photo photo toko itu dan alamatnya


" tadi ibu tanya, saya dapat uang dari mana sehingga bisa bawa ibu ke rumah sakit. saya bilang ini bantuan dari bapak dan perusahaan tempat saya bekerja, dia menyampaikan terimakasih dan salam ke bapak." kata asrid


" waalaikumsalam, sama sama." jawab vian


" ibu khawatir saya melakukan hal hal yang jelek." kata astrid


" memang iya kan, tadi kamu ngajak saya mandi bareng." jawab vian ngegombal


" iiih. bukannya bapak yang ngajak saya." kata astrid


" tapi kamu mau kan.. he... he.." jawab vian


" gak lah.. bapak kan udah punya istri." kata astrid


" beneran gak bilang gitu, saya kirim buktinya." jawab vian menggoda astrid


" kan udah di hapus weee.. " kata astrid


" sebelum di hapua sudah saya screenshoot." jawab vian


" iih bapa nyebelin, gimana kalo ketahuan ibu." kata astrid


" biarin aja. biar kamu disiksa dia, udah godain suaminya." jawab vian


" bapak tega ya." kata astrid sambil mengirim gambar sedih


" kamu yang tega, saya nunggu kamu di kamar gak datang datang." kata vian


" bapaknya sendiri gak serius. coba bilang." kata astrid


" jadi kalo saya bilang. kamu mau.?" tanya vian

__ADS_1


" ya lihat situasi dan kalo memang bapak serius ke saya kenapa gak." kata astrid


" maksudnya." kata vian


" iya kalo situasi memungkinkan dan bapak serius mau bertanggung jawab." jawab asrid


" kan cuma mandi bareng aja." kata vian


" bapak kan udah lihat saya, dan gak mungkin juga cuma mandi bareng. pasti ada yang lain." kata astrid


" kamu mau gitu ngasih yang lain." kata vian


" iya kalo bapak serius bertanggung jawab. saya bersedia." jawab astrid


" emang apa bentuk pertanggungjawab saya yang kamu minta." kata vian


" iya nikahin saya lah. saya belum pernah di sentuh sama cowo, ciuaman aja gak pernah apalagi sampai mandi bareng dan melakukan hal itu." kata astrid


" kenapa mau sama saya, saya kan udah berkeluarga." kata vian


" saya melihat bapak baik, semenjak ketemu pertama kali sama bapak saya sebenarnya sudah suka sama bapak, tapi saya juga tau diri siapa saya." kata astrid


" bukan karena saya ngasih uang ke kamu." kata vian


" iya bukan lah. tapi kalo bapak menganggap saya mau melakukan itu karena uang, saya sudah dari dulu aja melakukannya. dan jika bapak memikirkan itu karena uang saya akan kembalikan uang bapak yang dikasih ke saya. tapi nanti saya jual dulu toko, karena uang dari bapak sudah saya pake buat deposit ibu. maaf." kata astrid


" setelah ibu saya pulang, saya akan langsung ke perusahaan, karena saya dulu baik baik datang kesana saya juga harus baik juga keluarnya." astrid terus mengirimkan pesan.


" saya mengucapkan terima kasih atas bantuan bapak, dan anggap saja kita gak pernah ketemu." kata astrid


" saya minta maaf kalo kata kata saya menyinggung kamu. saya gak ada maksud kesana. maaf." kata vian


" saya minta no rekening bapak aja, biar nanti kalo sudah ada uangnya saya langsung kembalikan." kata astrid


" saya memang gak pantes buat bapak, saya tau saya orang gak punya, gak berpendidikan, maaf kalo saya sudah merepotkan bapak." kata astrid meluapkan emosinya.


vian merasa sudah tidak bisa lagi melalui pesan vian pun telepon dan telepon vian gak diangkat sama astrid.


" jangan telepon, saya gak enak sama ibu." kata asrid


" maafin saya ya.. saya gak ada maksud menyinggung perasaan kamu." kata vian


" gak apa apa pak, saya sudah biasa kok dianggap seperti ini." jawab astrid


" bener saya gak ada maksud, apalagi nyakitin perasaan kamu." kata vian


" iya pak gak apa apa, maaf saya terbawa emosi dan perasaan." kata astrid


" kamu mau kan maafin saya." kata vian

__ADS_1


" iya..... tapi tolong jangan kaya gitu lagi. saya mau bawa ibu ke ruang perawatan." kata astrid


" iya.. makasih ya.. jaga kesehatan kamu juga." kata vian


" iya pak. terimakasih. bapak juga." jawab astrid


tak lama ada pesan masuk dari shinta seketaris perusahaan LNI


" malam pak maaf ganggu. apa bapak sudah di pulang ke jakarta." kata shinta


" malam juga. tadi siang saya pulang. kenapa shin ada masalah di kantor." jawab vian


" gak ada pak, cuma ini ada dokumen yang harus bapak tandatangani, apa besok bapak bisa ke kantor.?" tanya shinta


" saya usahakan ya," jawab vian


" iya kalo begitu. terimakasih pak, sampai ketemu besok." jawab shinta


vian pun pergi ke rumah, masuk ke kamar mandi ganti baju lalu tiduran di samping lily.


" pah. maafin mamah ya kalau mamah gak bisa jadi istri yang baik." kata lily membuka obrolan


" kok mamah ngomong gitu sih. ada apa." jawab vian, vian berfikir apa janhan jangan lily tau dia suka chatan sama astrid


" gak ada apa apa, mamah merasa aja." kata lily


" iya merasa apa. mamah udah jadi istri yang luar biasa kok." kata vian sambil meluk istrinya


" mamah merasa takut kehilangan papah." jawab lily


" apa ada masalah atau ada yang salah sama papah, papah minta maaf ya." kata vian


" papah gak salah kok, papah udah luar biasa. mamah juga gak tau kenapa kok punya perasaan itu." kata lily


" maaf papah juga gak bisa bantu mamah ngurus anak anak. ya sudah kita tidur ya.. mamah juga sudah cape ngurus anak anak." kata vian. vian pun mengecup kening lily. " papah sayank mamah."


" iya mamah juga sayank papah. jangan tinggalin mamah ya." kata lily


" iya sayank." jawab vian. vian pun memeluk lily dan mereka pun tertidur.


didalam tidur vian bermimpi bertemu seseorang yang berpakaian putih dan membawa dia ke sebuah hutan. disana terlihat ada sebuah air terjun dan pohon pohon besar dan menjulang tinggi.


" lihat lah nak, pohon pohon itu dan terpaan anginnya terhadap pohon itu. semakin pohon itu tinggi semakin kencang pula anginnya." kata orang tersebut


" iya saya melihatnya kek." jawab vian


" kamu sekarang seperti pohon itu, kamu sedang di atas maka terpaan angin juga akan kencang seperti pohon itu. hati hati selalu ingat lihat kebawah, ikuti kata hati kamu jangan terbawa arus." kata orang tersebut


vian pun tersadar dari mimpinya, melihat jam masih jam 2 pagi. vian pergi ke kamar mandi lalu wudhu dan sholat. setelah itu dia pun tidur kembali

__ADS_1


__ADS_2