
Vian menyuruh supaya alat panggang tersebut di bawa ke dekat area pantai, dan disana akan menjadi spot penjualannya. Vian dan shinta pamit dulu untuk ke kamar untuk menyimpan rokok, setelah itu mereka pergi ke area yang tadi disebutkan vian. Vian menyuruh karyawan resort untuk membuat pembakaran dan dia pun memesan kopi dan jus untuk shinta. Tak lama karyawan lain membawa pesanan vian dan jagung serta saus yang dibuat chef restoran. Pak made pun membawa chef kesana untuk memberikan instruksi ke karyawan lainnya. Chef pun mulai membakar jagung, aroma jagung bakar pun menyebar membuat para pengunjung berdatangan kesana
" apa jagung bakar ini di jual." kata salah satu pengunjung
" iya. Tapi untuk saat ini gratis kalau persediaan masih ada, ini untuk permulaan saja " kata pak made
" bakalan tambah asyiiik nih, kalau seperti ini, suasananya akan tambah santai." kata pengunjung itu
chef memberikan 2 jagung bakar ke vian terlebih dahulu, lalu membagikan ke pengunjung yang ada, untungnya tadi karyawan yang disuruh membeli membeli banyak.
" ini jagung bakarnya luar biasa, kalau masih ada saya mau membelinya." kata pengunjung
" maaf, stocknya sedikit, besok baru ada lagi, dan kualitas jagungnya akan lebih bagus lagi." kata pak made
" bagus bagus, kalau begitu saya tunggu." kata pengunjung
vian dan shinta pun duduk santai di kursi pantai. Sambil mendengarkan obrolan pengunjung. Dia menikmati kopi sambil menghisap rokoknya
" terimakasih a, udah ajak aku berlibur." kata shinta
" siapa bilang saya ajak kamu berlibur, orang kamu harus kerja." kata vian lalu menikmati jagung bakar
" iya enggak apa kerja juga, tapi suasananya kan berlibur, apalagi di temani aa." jawab shinta
Pak made dan karyawan lainnya sudah mengemasi pembakaran jagung karena sudah habis. Dia pun pamitan kepada vian. Vian pun memesan steak dan roti bakar karena lapar shinta pun sama. Vian meminta supaya diantar ke kamarnya saja.
" buat tenaga nanti malam." kata shinta sambil tersenyum
" memangnya mau apa." kata vian
" bertarung sama aa." jawab shinta
vian dan shinta pun pergi menuju kamarnya dan membawa minumannya, Vian pun duduk di depan resort sambil merokok dan minum kopi.
__ADS_1
" shin, minta laporan tadi dong." kata vian
" iya aa," kata shinta sambil memberikan laporan yang tadi dikasih pak made kepada vian. Tak lama orang yang mengantar makanan datang, vian dan shinta pun makan steak yang tadi dipesan di kursi halaman belakang resort. Selesai makan vian menyalakan rokoknya, shinta pun menyandarkan tubuhnya ke vian.
" nanti kamu bantu saya untuk mengumpulkan laporan dari setiap perusahaan dibawah livi group, kalau ada yang bersifat urgent kamu langsung hubungi saya. Kamu juga butakan saya scedule pertemuan saya." kata vian
" iya a, aku akan kerjakan, kalau keluar kota aku diajak ya." kata shinta
" iya lihat saja situasinya seperti apa. Minggu depan saya ke bandung, minggu depannya lagi ada kemungkinan ke surabaya." kata vian
" nanti aa kasih tau aku aja kapan kapannya." kata shinta
" kalau ngasih tau di pesan kamu jangan panggil saya aa ya, nanti takut handphone dibaca isteri." kata vian
" iya a, aku akan bilang aa kalau kita lagi berduaan aja." kata shinta
" saya harap kamu bisa membantu saya dalam meringankan kerjaan. Saya enggak mungkin ngurus segalanya sendiri." kata vian
" aku akan berusaha sebaik mungkin bantu aa." kata shinta
" tetimakasih ya, aa udah ngertiin aku, mau nerima aku apa adanya, aa juga udah bantu aku memperbaiki kehidupan keluarga aku." kata shinta
" saya bantu kamu juga tidak mengharapkan apa apa, apalagi sampai kamu memberikan kesucian kamu, saya membantu kamu karena saya rasa itu pantas untuk kamu dapatkan karena kamu sudah bekerja keras di perusahaan." kata vian
" aku juga memiliki penilaian itu awalnya karena aa memang orang baik, tapi rasa dihati ini mengatakan lain, aku jadi suka dan sayang sama aa, aku memberikan keaucian aku ke aa karena aku tulus dan sayang sama aa." kata shinta
" apa kamu menyesal sudah memberikan itu ke saya." kata vian
" kenapa menyesal, aku juga sudah menikmatinya, dan itu aku berikan kepada orang yang aku sayangi dan orang itu benar menyayangi aku juga, aku malahan akan menyesal kalau itu enggak aku berikan ke aa." kata shinta sambil memeluk vian
" aku bukan orang suci, aku enggak munafik, tapi aku mau kalau memang aa sayang sama aku dan kita tidak terus terusan berbuat dosa kita nikah siri aja dulu, aku enggak mengharapkan apa apa dengan apa uang telah aa berikan ke aku saat ini, aku sudah puas." lanjut shinta
" maafkan saya ya, sudah membuat kamu seperti ini." kata vian
__ADS_1
" aa enggak salah kok, kita saling dukung dan saling mengerti aja untuk saat ini." kata shinta
" terimakasih ya atas pengertian kamu." kata vian, dia pun memeluk shinta
" aa jangan banyak merokok dong, jaga kesehatan aa, makanya kita bobo aja ya." ajak shinta. Vian pun memayikan rokoknya lalu minum air putih, lalu beranjak masuk ke kamar
" beneran mau bobo, enggak yang lain." goda vian.
" kalau disini terus aa malah ngerokok terus, mana mungkin kita bisa melakukan itu." kata shinta
" bisa aja, emangnya kenapa." kata vian
" kalau aa enggak konsen ke aku, enggak enak." kata shinta, mereka pun sampai di kamar, shinta langsung membuka baju dan celana vian, vian lalu berbaring diatas kasur, shinta merapihkan pakaian di kursi, dia pun membuka baju dan celananya serta pakaian dalamnya lalu beranjak ke kasur. Shinta langsung menyerbu bibir vian, vian pun memainkan tangannya di bukit kembar milik shinta. Setelah itu dia memberikan mahkotanya dan dia memainkan pusaka vian. pemanasan dirasa sudah cukup dia mengarahkan mahkotanya ke pusaka vian, dia pun bergerak seperti orang sedang naik kuda. Tak lama tubuh shinta menggelinjang " a, aku sampai, aduh enak." lirih shinta, vian pun membiarkan shinta beristirahat lalu menidurkannya setelah itu vian mengambil alih permainan, sesekali vian mencium bibir dan bukit kembar milik shinta membuat shinta kelojotan. " aa, sayang, aku enggak tahan, Ini enak banget aa.", " tahan sayang kita sama sama ya." vian pun mempercepat permainan dan akhirnya disaat tubuh shinta menegang vian juga mencapai puncaknya. Vian memeluk shinta dan mencium keningnya, Lalu berbaring memeluk tubuh shinta. Setelah beristirahat vian pergi ke kamar mandi bersih bersih, lalu memakai pakaiannya, vian pun pergi ke halaman belakang mengambil laporan lalu memasukannya ke tas, setelah itu vian balik lagi minum air putih lalu kopi dan menyalakan rokoknya.
Shinta datang menghampiri dan duduk di samping vian.
" oh iya shin kalau boleh tau kapan ayah kamu meninggal dan kenapa." kata vian
" ayah meninggal waktu aku kuliah semester 4, dia sakit a, makanya kehidupan keluarga jatuh mulainya waktu ayah sakit, sebisa mungkin kita obati ayah walaupun kita harus menjual apa yang kita miliki, termasuk mobil. Kita hanya mempertahankan rumah aja, aku sampai mau berhenti kuliah waktu itu, tapi ibu bilang jangan, ibu akan berusaha supaya aku bisa tetap kuliah, dia berjualan makanan, dan aku juga mencari kerja dan menjadi kasir supermarket, aku selalu meminta gantian sama teman supaya masih bisa kuliah kalau waktu kuliah bentrok dengan shift kerjaan." kata shinta
" mungkin salah satu penyebab aku enggak diterima sama ibu mantan aku itu juga karena dia takut aku menyusahkan dan membebani kehidupan dia." lanjut shinta
" kamu masih menyayangi dia ya." kata vian
" itu dulu, biar itu menjadi kisah hidup aku, aku bersyukur jadinya aku tau, bahwa aku bukan segalanya buat dia, dia ternyata dekati aku karena waktu itu ayah memiliki jabatan di salah satu perusahaan terkemuka, jadi orang tuanya juga awalnya setuju atas hubungan kita, tapi setelah tau keluarga aku enggak punya apa apa lagi dia mundur." kata shinta
" terus kamu masih suka berhubungan dengan mantan kamu." kata vian
" enggak lah ngapain, sekarang aku hanya bisa tunjukin ke mereka bahwa aku bisa hidup dan sekarang aku bisa menjadi lebih baik." kata shinta
" terus keluarga orang yua kamu gimana." tanya vian
" sama aja, waktu keluarga aku ada, mereka berbondong bondong datang ke rumah, waktu ayah sakit mana ada yang datang, kita mau pinjam uang waktu itu, mana ada yang angkat telepon, mereka datang waktu ayah meninggal aja." kata shinta
__ADS_1
shinta pun menceritakan kisah hidupnya kepada vian, vian merasa salut kepada shinta karena sebagai perempuan yang biasa dimanjakan dengan uang, disaat terpuruk dia bisa berjuang mencari uang.