Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Penghalang Kebahagiaan


__ADS_3

Sampai di rumah vian dibantu bella membereskan pakaiannya dan memasukannya ke tas, lalu menyerahkan pasport kepada bella untuk dibawa ke jakarta. Bella pun memasukan pasport tersebut ke tasnya.


" ibu mau menginap disini atau pulang." kata vian


" ibu pulang saja nak, ingat iya bell kamu jangan macam macam." kata ibu asti


" iya bu, aku tau kok, tapi kalau aku di macam macam sama mas vian enggak apa apa kan." kata bella


" kamu itu ya." kata ibu asti


" iya udah mas aku yang akan antar mas ke bandara, soalnya aku sekalian mau jemput teman teman sekalian." kata bella


" iya udah kalau begitu pak yudi biar antar ibu pulang." kata vian, vian pun memberitahu ke pak yudi dan nanti langsung pulang setelah mengantar ibu asti.


" iya sudah kalau begitu ibu pulang ya nak, nanti salam aja sama keluarga di jakarta." kata ibu asti lalu pamitan.


" baik bu, kalau ada apa apa langsung bilang aja, saya mau beres beres dulu," kata vian lalu menyalami ibu mertuanya itu dan memberikan uang


" iya nak terimakasih." kata ibu asti. Ia pun pergi bersama pak wahyudi. Vian pun masuk ke kamar lagi mau pergi mandi.


" mas pesawatnya jam berapa?" kata bella


" jam 3 lewat, memangnya kenapa." kata vian


" masih ada waktu untuk di macam macamin sama mas." kata bella


" kita ada di rumah bell." kata vian


" enggak apa apa mas, ini darurat." kata bella, dia langsung mencium vian yang sudah membawa handuk mau pergi mandi. setelah melalui pergulatan mereka pun mencapai puncak bersama, selesai istirahat vian dan bella buru buru mandi, setelah berpakaian mereka pergi ke bandara.


" kamu besok minta antar pak yudi aja ya ke bandaranya." kata vian


" iya mas, makasih atas semuanya ." kata bella


" iya udah mas pergi ya, kamu pegang uang enggak." kata vian


" ada mas, nanti kalau aku enggak megang uang minta sama mas ya." kata bella


" iya.. Bilang aja ya." kata vian lalu mencium kening bella


" jangan nakal loh, aku selalu merindukan mas dan akan selalu sayang sama mas." kata bella lalu memeluk vian.


" iya udah, mas enggak pergi pergi dong," kata vian

__ADS_1


" mas hati hati ya, dadah." kata bella. Dia pun pergi meninggalkan bandara


vian langsung melakukan check in dan mencari tempat ngopi. Vian menerima pesan dari shinta


" a, aku udah dibandara sebentar lagi mau naik pesawat." kata shinta


" iya.. Sampai ketemu di bali, saya juga sudah di bandara." kata vian


" iya a, sampai ketemu, aku kangen aa." kata shinta.


vian mengirim pesan ke lily, memberitahukan bahwa dia sudah dibandara menuju bali. Vian juga mengirim pesan ke pak made supaya ada yang menjemputnya di bandara jam 6 sore waktu bali. Setelah ngopi vian menuju boarding pass, tak lama dia pun naik pesawat, pesawat pun terbang, 55 menit penerbangan vian sampai di bandara denpasar, karena tidak membawa barang banyak vian langsung menuju ke luar bandara dan mencari tempat untuk menunggu shinta dan bisa merokok.


" aa dimana, aku baru sampai, ini sedang menuju keluar bandara." kata shinta


" saya di tempat ngopi di luar." kata vian


" iya aku kesana." kata shinta. Tak lama shinta pun datang, dia langsung menyalami vian


" gimana penerbangannya, kamu udah makan belum." kata vian


" alhamdulillah lancar aa, belum a," kata shinta


" kamu mau makan apa. Soalnya yang jemput jam 6an." kata vian


" Beli burger aja dulu deh a," kata shinta


" aku baru naik pesawat loh a, dan ini perjalanan aku yang paling jauh." kata shinta


" tapi enggak apa apa kan," kata vian


" enggak karena aku mau ketemu aa, tapi tadi sempat takut dipesawat." kata shinta. Tak lama pak made memberitahu bahwa dia sudah dibandara. Vian dan shinta pun pergi menemui pak made, setelah bertemu vian memperkenalkan shinta ke pak made bahwa dia adalah sekretaris Livi Group yang nanti akan banyak berhubungan dengan pak made.


" sekarang kita mau kemana dulu pak, atau langsung ke resort." kata pak made


" langsung saja ke resort, siapkan resort yang 2 kamar ya." kata vian, pak made pun menyuruh sopir untuk langsung ke resort.


" baik pak. Mengapa mendadak enggak memberitahukan terlebih dahulu pak." kata pak made


" saya dari surabaya dan udah lama enggak kesini, ya mendadak jadinya, bagaimana perkembangan resort sekarang." kata vian


" bagus pak, setiap akhir pekan selalu penuh." kata pak made


" jadi sekarang enggak ada yang kosong dong untuk saya." kata vian

__ADS_1


" tadi waktu saya menerima pesan dari bapak, saya cek ada 1 resort kosong." kata pak made


" nanti kalau ada apa apa pak made bisa koordinasi dengan shinta ya, soalnya saya khawatir enggak baca pesan atau laporan dari pak made," kata vian


" baik pak," kata pak made. Setelah 40 menit perjalanan mereka pun sampai di resort. Pak made langsung ngecek kamar, lalu membawa vian dan shinta ke resort.


" silahkan pak istirahat terlebih dahulu, kalau ada keperluan lain hubungi saya saja." kata pak made


" terimakasih pak, mungkin nanti malam saya akan lihat lihat kondisi resort." kata vian.


" baik kalau begitu, saya permisi." kata pak made lalu pergi meninggal vian dan shinta. Vian dan shinta pun meletakan tas bawaannya.


" aa mau dibuatkan kopi." kata shinta


" iya boleh." kata vian lalu pergi ke halaman belakang resort dan duduk dikursi, setelah itu dia menyalakan rokoknya. Tak lama shinta datang membawa kopi dan meletaknya di meja, lalu duduk dia disamping vian


" bolehkan aku seperti ini." kata shinta lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu vian.


" iya enggak apa apa kalau enggak ada orang shin." kata vian


" terimakasih ya a, aa udah baik banget sama aku, aku udah kangen banget sama aa." kata shinta


" maafkan saya ya, sudah buat kamu seperti ini. jika kamu sudah menemukan laki laki yang cocok menurut kamu, bilang aja, saya enggak mau jadi penghalang kebahagiaan kamu." kata vian


" kenapa aa ngomong gitu sih, aa udah enggak suka lagi sama aku, aa benci sama aku ya." kata shinta


" bukan begitu, takutnya keberadaan saya menjadi beban dalam hidup kamu." kata vian


" enggak tebalik aa ngomong gitu, jangan jangan aku yang menjadi beban buat aa, aku enggak minta apa apa sama aa, kalau perlu ruko aku kembalikan aja ya." kata shinta


" itu buat kehidupan kamu, saya enggak mungkin memberikan uang ke kamu. Jadi jadikan itu sebagai hadiah dan sumber penghasilan kamu ya." kata vian


" habisnya aa ngomong gitu sih. Aku akan sayang sama aa walaupun aa enggak ngasih apa apa, aa udah banyak memberikan kebahagiaan ke aku sama ibu yang penting aa jangan pernah berubah." kata shinta


" doakan saja ya supaya saya tetap sehat," kata vian


" itu pasti a, aku selalu doakan yang terbaik buat aa, aku mau jadi isteri aa walupun enggak resmi juga enggak apa apa." kata shinta


" iya nanti kita bicarakan ya, apakah ibu kamu akan menerimanya." kata vian


" kemarin ibu bilang, coba aa belum punya isteri, ibu akan bahagia memiliki menantu kaya aa yang baik. Aku belum ngomong sih sama ibu soal itu, karena aku juga belum tau aa menganggap aku seperti apa." kata shinta


" kalau aku enggak anggap kamu, buat apa saya belikan ruko dan ajak ibu kamu pergi umroh, apa itu belum cukup." kata vian

__ADS_1


" aku masih takut aja a, apa yang sudah kita lakukan itu hanya nafsu sesaat aja, aa enggak menganggap aku tulus memberikannya." kata shinta


" saya tau kamu tulus memberikan itu semua. Makanya saya belikan ruko juga." kata vian sambil menghisap rokoknya. Vian merangkul Shinta dan mengelus rambut panjang miliknya.


__ADS_2